
Hari ini adalah hari festival sekolah. Hari yang sangat di nanti-nantikan oleh seluruh siswa. Aku dan anggota club drama yang lain sungguh sangat disibukkan oleh kegiatan kami. Dari pagi hingga siang kami sibuk menjaga stand club drama dan melayani orang-orang yang keluar masuk dari stand kami.
Aku bahkan hampir kerepotan. Untunglah Bisma selalu bisa membantuku. Sesekali aku memegang luka di tangan kiriku yang belum sepenuhnya sembuh.
"Lo masih sakit? Mending lo istirahat aja jangan ikut bantu di stand," ucap Bisma lembut.
Aku menggeleng pelan. "Gue nggak apa-apa kok. Lagian kan curang kalau misalkan gue cuma duduk-duduk doang, sedangkan yang lain pada sibuk kerja."
"Ya, kan beda kondisinya. Lo baru aja keluar dari rumah sakit," celotehnya.
"Ayolah, gue nggak apa-apa kok. Plis, izinin gue ikut bantu," pintaku dengan wajah dibuat seimut mungkin. Walaupun itu terlihat sangat menjijikan dan tidak sesuai dengan imej-ku.
"Terserah lo, deh." Akhirnya Bisma pasrah juga. "Lo emang keras kepala."
Aku cuma nyengir.
Stand kami selalu penuh karena stand kami merupakan satu-satunya stand makanan dan minuman dalam bentuk resto mini. Stand kami hanya buka sampai tengah hari. Karena selebihnya kami harus mempersiapkan pentas drama hasil dari latihan kerja keras kami di malam puncak festival sekolah. Ya, festival sekolah kali ini akan berlangsung selama 24 jam sampai tengah malam nanti. Untuk menampilkan hasil yang maksimal, dua hari sebelumnya kami latihan tak henti-henti. Sebenarnya itu membuatku sangat lelah apalagi dengan kondisiku yang seperti ini. Tapi, itu tidak membuatku menyerah. Yang lain terlihat sangat bersemangat. Mana mungkin aku bisa terlihat lesu sendirian. Aku berharap agar pementasan kami nanti malam berjalan dengan lancar.
Waktu yang ditunggu pun tiba, aku mengintip dari belakang tirai panggung. Kursi penonton sudah banyak diisi oleh para orangtua dan siswa. Mataku mencari-cari sosok yang ingin sekali aku lihat di antara penonton. Mataku akhirnya menangkap sosok itu, ia duduk di barisan tengah menyatu di antara gerombolan para siswa dan orangtua. Ia tersenyum padaku. Ya, dia adalah Papa. Aku sangat bahagia, karena sekarang sikap Papa benar-benar berubah semenjak kejadian itu. Meskipun luka yang harus kudapat. Aku rela mendapatkan beribu luka itu asal Papa selalu tersenyum begitu padaku.
"Ayo, Al. Bersiaplah sebentar lagi pementasan kita akan segera dimulai." Kak Rio yang tanpa sadar sudah mengagetkanku dari belakang.
Aku mengangguk dan mengikutinya, menyatu dengan yang lain. Kami para anggota club drama saling berpegangan tangan dan berdoa agar semuanya lancar sampai akhir.
***
Tepuk tangan yang sangat meriah di akhir pementasan. Kami sukses menghibur para penonton dengan acara yang kami tampilkan.
Setelah acara selesai. Bisma mengajakku naik ke atas gedung sekolah untuk menyaksikan kembang api yang akan dinyalakan tepat tengah malam nanti.
Angin berembus semakin dingin. Dan entah mengapa jantungku yang tak tahu malu ini tiba-tiba deg-degan. Apakah ini saatnya aku mengatakan perasaan yang selama aku pendam. Tapi di sisi lain aku malu, masa iya cewek yang menyatakan perasaannya duluan. Dan di sisi lain aku nggak sabaran nunggu Bisma yang tak pernah peka terhadap perasaanku … ah, persetan dengan rasa gengsi. Aku harus mengatakannya sekarang juga.
"Bis," seruku.
"Ya?" sahutnya.
"Anu ... a ... malam ini bintangnya banyak banget, ya?" Bodoh, bodoh, bodoh. Caciku dalam hati. Kenapa aku malah membicarakan hal lain.
"Iya, nggak kayak biasanya. Bulannya juga terang banget," katanya sambil memandang ke langit.
Kemudian hening sejenak. Hanya ada suara keramaian orang-orang yang berada di bawah.
"Bis, gue mau ngomong sesuatu ke lo," kataku dengan gugup.
"Apa?" tanyanya tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari langit.
Aku menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan perlahan. "Sebenarnya gue ... gue suka sama lo."
Seketika itu juga Bisma menoleh padaku lalu ia tersenyum. "Gue udah tahu, kok."
__ADS_1
"Apa? lo tahu dari siapa?”
“Semua orang juga udah tahu kali kalau lo suka sama gue.”
“Terus kenapa lo bersikap biasa aja?”
“Emang lo mau gue kayak gimana?”
“Ya nggak gimana-gimana, sih.” Aku memonyongkan bibir bete. Ih, Bis ... kenapa kamu nggak peka banget, sih.
Mendadak raut wajah Bisma berubah serius. Harusnya aku tahu bahwa aku pasti akan ditolak. Bagaimana jika setelah kejadian ini Bisma langsung menjauhiku. Mengapa aku tak berpikir sampai sejauh itu. Aku memejamkan mata, tak kuasa jika harus melihat ekspresi Bisma setelah mendengar pengakuanku.
"Sebenarnya gue juga suka sama lo. Tapi ..." gumamnya.
Aku segera membuka mata. Tak sabar mendengar ucapan Bisma selanjutnya. "Tapi apa?" namun sampai beberapa menit Bisma masih terdiam.
"Gue nggak terlalu suka cewek tomboy."
Aku menatapnya tertegun. Kemudian tanganku meraih wig yang sedang kukenakan saat itu. Sehingga memperlihatkan rambut panjangku yang tergerai lurus dan melambai-lambai diterpa angin malam.
Bisma menatapku dengan ekspresi seperti habis ditampar. Ia terlihat syok melihat diriku yang sesungguhnya.
“Apa sekarang lo masih punya alasan untuk nolak gue?”
“Al, ini beneran lo?” tanyanya dengan mata yang masih membulat.
Aku mengangguk dan tersenyum.
Sepasang tangannya yang kokoh merangkum wajahku, di kedua sisi pipi dan rahangku. Semuanya terjadi hanya dalam hitungan detik. Aku membelalakkan mata ketika wajah itu menunduk padaku. Semuanya terlihat gelap. Kemudian … sepasang bibir hangat menyentuh bibirku yang dingin menggigil. Aku terdiam mematung. Terlalu kaget dengan apa yang terjadi. Bersamaan dengan itu suara bising kembang api menggelegar di langit. Menghiasi langit dengan warna-warni. Sangat indah. Menambah kesan romantis. Orang-orang yang berada di bawah terdengar bersorak gembira.
Ciuman itu terasa lembut dan hangat. Selembut dan sehangat sepasang tangan yang melingkari wajahku. Tanpa terasa kupejamkan mata. Kuresapi rasa hangat yang menyebar keseluruh tubuhku dalam keterkejutan. Waktu dan sekelilingku seakan menghilang seketika. Hatiku bergetar hebat. Ini ciuman terindah yang kurasakan dan sekaligus … ciuman pertamaku.
Tapi sedetik kemudian Bisma melepaskan ciumannya bersama dengan berhentinya suara kembang api. Aku membuka mata mendapati Bisma yang tengah tersenyum kepadaku.
“Cuma cowok bodoh yang nolak cewek sehebat dan semanis lo.”
“Tapi, bukannya lo tadi nolak gue?”
ia terkekeh. “Emangnya kapan gue bilang kalau gue nolak lo? Gue kan Cuma bilang nggak terlalu suka cewek tomboy. Dan lihat sisi lain lo yang seperti ini mungkin gue bisa bernegosiasi sama hati gue.”
”Lo emang pintar cari alasan, ya,” cubitku pelan.
Bisma merintih pelan, kemudian kami pun tertawa bersama
“Kayaknya ada yang lagi bahagia, nih.” Suara Ilham mengagetkanku tiba-tiba.
Ia sudah berdiri di belakangku.
Yang membuatku cemas adalah bagaimana kalau Ilham berbuat gegabah lagi. Takut jika Ilham akan memukul Bisma lagi karena sudah berani menciumku. Dan sepertinya Ilham mampu menangkap guratan kecemasan di wajahku.
__ADS_1
“Lo nggak usah khawatir gue bakal pukul Bisma lagi, Al. Gue udah relain lo kok.”
Aku melirik Yayu yang sedang tersenyum sambil menganggukkan kepala ke arahku mengisyaratkan bahwa semua akan baik-baik saja.
“Ya, Ilham udah nggak marah lagi sama gue,” timpal Bisma.
“Lo beneran nggak marah?”
“Satu hal yang perlu lo tahu, Al. gue emang suka sama lo tapi bukan berarti gue harus miliki lo. Lagipula mungkin suatu saat nanti akan ada orang yang bisa menggeser posisi lo di hati gue.” Ia nyengir.
“Iya dong. Gue yakin Ilham pasti bakal move on secepatnya dari lo. Soalnya kan tiap hari dia ngerasain sakit kalau lihat lo sama Bisma barengan. Nah, kan nanti perlahan-lahan perasaan dia ke elo akan hilang, tuh.” Dicky merangkul Ilham sambil meledeknya.
“Sialan, lo,” cibir Ilham.
Kemudian kami pun tertawa bersama. Di sela-sela tawa kami, tiba-tiba Dicky memegang tangan Yayu. Tentu saja itu membuatku heran melihatnya, terlebih Yayu sendiri yang terlihat terkejut juga.
“Yu, di malam yang indah ini gue juga mau ngomong sesuatu ke elo.”
Aku hanya melongo melihatnya, lalu menengok ke arah Bisma. Tapi dia membalas tatapan bingungku dengan senyuman dan anggukan. Aku pun akhirnya paham apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku pun diam dan tersenyum.
Beberapa menit Dicky hanya diam sambil memegang kedua tangan Yayu. Sampai akhirnya ia berani bicara juga. “Sebenarnya gue mau bilang kalau gue … gue suka sama lo.”
“Lo mau kan jadi cewek gue?” tanyanya.
Yayu terlihat bengong. Mungkin itu terlalu tiba-tiba baginya. Yayu melirik ke arahku, aku tahu ekspresi wajahnya yang terlihat seolah meminta pendapatku. Apa yang mesti dia lakukan.
Aku tersenyum dan mengangguk. Lagipula Dicky bukan cowok yang jahat kok. Tapi itu semua juga terserah Yayu mau menerimanya atau tidak, aku tak punya hak memaksanya untuk menerima Dicky. Dan tanpa disangka-sangka Yayu menangguk setuju. Aku membelalakkan mata.
Mulut Dicky yang menganga tak percaya bahwa cintanya diterima oleh Yayu. Kemudian ia pun bersorak gembira. Kami ikut senang melihat Yayu dan Dicky telah resmi pacaran.
“Yahhh … kok di malam festival sekolah semuanya dapat pacar, kecuali gue?” ujar Ilham memasang wajah yang terlihat cemberut. “Terus sekarang gue jomblo sendirian dong?”
“Nggak apa-apa kok, Ham. Jomblo juga yang penting elo masih hidup,” ejek Dicky.
Ilham berkacak pinggang. “Oh, jadi sekarang lo mulai berani ledek gue. Sombong ya lo mentang-mentang udah punya pacar.”
Dan … yeah, kau tahu apa yang terjadi selanjutnya? Mereka berantem, tapi berantem bohong-bohongan. Aku tersenyum geli melihat kelakuan mereka berdua.
Ketika itu juga tanpa disangka-sangka, Bisma meraih kedua tanganku dan menggenggamnya.
“Sekarang lo nggak perlu maksain diri lo buat jadi kayak cowok lagi. Dan lo bisa berpenampilan layaknya cewek normal.”
Bisma benar, sekarang aku tak perlu lagi memaksakan diriku untuk berpenampilan seperti anak laki-laki. Karena Papa sudah menerimaku sebagai anak perempuannya. Dan aku sudah tidak membutuhkan wig yang sedang kupegang saat ini.
Dia mengecup kedua tanganku, lalu memelukku dengan erat.
Aku sungguh sangat bahagia malam ini. Takkan ada kata-kata yang bisa mengungkapkan rasa bahagia sesungguhnya ini. Kebahagiaan yang selama ini kupikir hanya ada di dalam sebuah mimpi yang tidak akan pernah mungkin bisa kugapai. Tapi, sekarang aku berhasil meraihnya dan membuktikan pada Mama dan dunia bahwa aku juga berhak bahagia.
#End
__ADS_1
*Terima kasih untuk kalian yg sudah membaca cerita ini. Maaf kalau masih banyak kekurangan 🙏🙏 salam hangat untuk semuanya💕💕