
Perlahan aku membuka kedua mataku. Mengerjap-ngerjap mencari cahaya. Di mana aku? Mengapa ruangan ini berbau obat. Aku melihat Yayu yang sedang duduk di sampingku.
"Aku ada di mana, Yu?" tanyaku dengan suara rendah.
"Kamu ada di ruang kesehatan sekolah." Yayu tersenyum padaku. "Kepalamu masih pusing?"
Aku hanya menggeleng lemah. "Nggak kok. Kamu nggak masuk kelas?"
"Aku nggak tega ninggalin kamu sendiri di sini. Aku udah izin kok buat nemenin kamu."
Aku tersenyum. "Makasih ya, Yu. Kamu emang sahabat yang baik."
Ya, aku sudah punya teman yang bisa kujadikan sahabat. Hanya Yayu yang bisa memahami diriku dan melihatku sebagai seorang perempuan yang lemah bukan sebagai Alam yang kuat. Pernah satu hari aku tertangkap sedang menangis di toilet. Aku tidak mungkin bisa mengelak. Aku pun menceritakan semua kehidupanku yang sesungguhnya. Yayu sungguh prihatin padaku, bahkan Yayu tak percaya jika ada seorang Ayah yang seperti Papaku. Bahkan ia tak pantas dipanggil seorang Ayah, lebih cocok dipanggil monster. Dan semenjak itulah Yayu jadi sering bersamaku, kami pun jadi seorang sahabat.
Tiba-tiba pintu terbuka, menampilkan sosok yang sekarang tak ingin aku lihat. Aku memalingkan muka setelah tahu bahwa Bisma yang datang. Benar-benar tak punya harga diri. Bisa-bisanya ia masih berani menemuiku setelah apa yang dia lakukan terhadapku.
"Yu, lo bisa tinggalin kita berdua?" pintanya dengan lembut.
Sumpah, ini pertama kalinya aku mendengar si cowok rese ini bicara lembut begitu.
"Nggak! Gue nggak mau elo bikin Alam kenapa-kenapa lagi," tolak Yayu dengan ketus.
"Plis ..." ucapnya setengah memohon.
Yayu memandangku. Aku menganggukkan kepala tanda menyetujui permintaan Bisma yang menyuruh Yayu untuk pergi meninggalkan aku dan Bisma berdua di dalam.
"Tapi, aku khawatir sama kamu. Kalau si Bisma macam-macam lagi gimana?" tolaknya tiba-tiba menjadi kesal.
Aku tersenyum untuk meyakinkan pada Yayu bahwa aku baik-baik saja. "Percaya padaku, Yu. Aku nggak apa-apa kok. Lagian kan kalau dia macam-macam aku tinggal teriak. Kan kamu nunggu di depan."
__ADS_1
Akhirnya Yayu luluh juga dengan ucapanku. "Baiklah. Aku tunggu didepan pintu. Kalau ada apa-apa teriak aja ya. Aku pasti langsung masuk."
"Siap, Bos."
"Awas lo kalau berani macam-macam lagi!" gertaknya pada Bisma sebelum meninggalkan kami.
Kini hanya tinggal kami berdua. Beberapa saat aku hanya diam menunggunya untuk bicara. Namun setelah ditunggu agak lama, Bisma belum juga bicara.
“Lo mau ngomong apa, sih?” tanyaku yang akhirnya memecah kesunyian di antara kami.
"Gue mau minta maaf."
Singkat, padat dan ... terdengar aneh. Seorang Bisma meminta maaf padaku? Apakah aku tidak salah dengar. Oke, mungkin kupingku sedikit bermasalah. Lalu aku pun mengorek-ngoreknya.
"Gue serius!" ucapnya ulang menegaskan bahwa yang dia ucapkan itu benar. "Gue tahu gue udah keterlaluan. Lo mau maafin gue, kan?" pintanya sekali lagi.
Tiba-tiba ia memegang tanganku. "Lo serius udah maafin gue?"
"Ya," kataku sambil menggerakkan bola mataku ke arah tangan kami.
Sadar bahwa aku merasa terganggu. Bisma langsung buru-buru melepaskan pegangannya. "Sori."
"It’s okay ... Oh ya, gue mau tahu alasan lo kenapa lo bisa benci banget sama gue? Emang gue pernah punya salah apa ke elo?"
Bisma diam sejenak, ia terlihat ragu untuk mengatakannya. "Sebenarnya ... itu karena ... lo udah ngerebut gelar murid populer dari gue."
Mulutku menganga bagai kuda nil yang sedang menguap lalu di pause. Serius dia benci padaku cuma karena hal begitu? Aku nggak habis pikir kenapa pemikiran Bisma sedangkal itu. Jadi selama ini dia benci padaku hanya karena aku sudah mengambil kepopulerannya.
"Lo pasti lagi mikir pola pikir gue terlalu dangkal," tebaknya.
__ADS_1
Astaga dari mana ia tahu, apakah ia bisa membaca pikiran?
"Tapi, entah mengapa gue nggak suka aja lo ngerebut perhatian orang-orang di sekolah ini. Dan gue tahu gue salah. Gue harap lo mau maafin gue dan Gue janji nggak akan ganggu lo lagi."
Ada sinar kejujuran di matanya, ia terlihat sedikit ramah padaku. Matanya menatap sendu padaku. Dan karena Bisma sepertinya benar-benar tulus meminta maaf padaku dan ia merasa menyesal. Mungkin aku juga harus memaafkannya.
"Gue kan udah bilang kalau gue udah maafin lo," kataku sambil mengambil air putih yang berada di sampingku. Dan meminumnya.
"Kalau gitu mulai sekarang lo mau jadi teman gue?"
Uhukuhukuhuk! Seketika aku tersedak minumanku dan terbatuk-batuk dengan hebat.
"Ada apa, Al? Kamu kenapa? Bisma, gue kan udah bilang ke elo jangan berani macam-macam!" teriak Yayu yang tiba-tiba saja masuk ke dalam.
"Gue nggak lakuin apa-apa kok!" bela Bisma.
Yayu menarik kerah seragam yang dikenakan Bisma. Aku baru sadar ternyata di balik sifatnya yang anggun, Yayu galak juga.
"Jangan bohong lo!" bentaknya.
"Gue serius, gue cuma minta dia jadi teman gue doang!" imbuh Bisma lagi dengan suara tertekan. Dengan keadaan yang seperti itu membuatnya kesulitan bernapas.
"Lepaskan dia, Yu! Dia benar," kataku sambil menahan rasa sakit di tenggorokan. Sial, kenapa sampai segini nya, sih. Padahal cuma tersedak air biasa. Mataku dipenuhi air mata akibat dari rasa perih di tenggorokan.
"Kamu nggak perlu sekasar itu karena mulai sekarang Bisma akan jadi teman aku." Aku berusaha meluruskan semuanya supaya Yayu tidak berpikiran negatif pada Bisma.
"Oh, gitu. Itu artinya dia juga temanku. Karena temanmu berarti temanku juga. Awas ya kalau lo berbuat jahat lagi sama Alam!" ancamnya dengan satu lengan mengepalkan tinju.
Aku harap ucapan Bisma sungguh-sungguh, dengan begitu berarti aku sudah tidak mempunyai musuh lagi disekolah. Aku benar-benar lega.
__ADS_1