
"Ayolah, Bis. Ikut sama aku aja!" Eunike memaksaku untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Gue kan udah bilang nggak mau. Kenapa lo maksa, sih?" dengusku dengan kesal.
"Ini kan udah malam, Bis. Nanti kalau kamu kenapa-kenapa di jalan gimana?"
Aku memutar bola mata dengan malas. "Gue kan anak cowok. Bisalah jaga diri gue sendiri. Udah deh lo nggak usah sok care sama gue. Lo lupa, dulu elo buang gue dan lebih milih cowok itu. Tapi sekarang kenapa lo balik lagi ke gue?"
Eunike terdiam hingga beberapa saat. "Aku tahu aku salah, Bis. Aku udah salah pilih dia. Tapi sekarang aku sadar cuma kamu yang terbaik." Ia memegang tangan kananku. Aku pun langsung menepisnya.
"Semuanya udah terlambat, Nik. Lo udah nggak ada tempat lagi di hati gue. Sori." Setelah berkata begitu aku langsung segera pergi seribu langkah sebelum Eunike berhasil mencegahku lagi.
Semua cewek sama saja. Mereka pikir hanya mereka sajakah yang ingin dimengerti. Cowok juga menginginkan hal yang sama. Mengapa mereka hanya memikirkan perasaannya saja tanpa mengerti perasaan yang lain. Kenapa Eunike datang kembali di saat aku sudah melupakannya. Tidak mungkin aku mau kembali lagi dengan seorang pengkhianat seperti dirinya. Aku memberikannya kesetiaan, tapi dia malah membalasnya dengan sebuah penghianatan.
Dari kejauhan aku melihat seseorang yang berbaring di atas bangku taman. Mungkinkah itu hantu? Aku mendekatinya dengan perlahan. Wajah manis yang sedang terlelap diterangi cahaya bulan itu membuat wajahnya terlihat bersinar.
Astaga, Alam. Sedang apa ia berbaring di sini.
"Alam," panggilku.
Ia terlihat sedikit terkejut. Dan langsung terbangun.
"Bisma."
"Lo lagi apa malam-malam tiduran di sini?" tanyaku sambil bergegas mendekati dan duduk di sampingnya.
__ADS_1
Alih-alih menjawab pertanyaanku, Alam malah menatap lurus ke depan. Matanya yang sembab, kupastikan bahwa ia habis menangis. Wajahnya pun terlihat murung.
"Kenapa Tuhan menciptakan kehidupan jika pada akhirnya semua akan mati?" katanya sambil pandangan tetap lurus ke depan.
Aku tak langsung menjawab pertanyaannya. Sepertinya dia sedang punya masalah yang serius.
"Lo lagi ada masalah, ya?" tanyaku pelan.
Ia menengok ke arahku. "Gue ... gue …" Ia terlihat menggigit bibir bawahnya. "Gue kabur dari rumah."
"Apa? Tapi kenapa? Mending lo pulang sekarang. Bokap lo pasti khawatir banget sama lo."
Ia tersenyum miring padaku. "Kalaupun dia khawatir sama gue. Dia pasti udah ngejar gue. Karena gue kabur di hadapan dia."
Entah mengapa aku merasa iba padanya. Aku pun menawarkan Alam untuk tinggal sementara di rumahku. Kau jangan berpikir bahwa aku mengambil kesempatan dalam kesempitan. Mana mungkin aku membiarkan seorang gadis tidur di taman malam-malam begini. Kalaupun gadis lain yang mengalaminya. Aku juga pasti akan melakukan hal yang sama. "Kalau lo mau, lo boleh nginep di rumah gue."
Alam melihatku dengan tatapan terkejut. Sebelum ia berpikiran macam-macam tentangku (seperti dulu waktu aku hendak meminta kartu pelajarnya. Ia malah meneriakiku mesum).
"Lo jangan berpikiran aneh dulu. Gue nggak ada maksud apa-apa kok. Lagi pula mana mungkin gue biarin cewek tidur malam-malam di tengah taman. Meskipun lo tomboy. Tapi kan sejatinya lo itu cewek. Gimana kalau ada yang jahatin lo. Dan sekalian kan lo bisa jadi teman main Rinjani di rumah. Dia pasti seneng banget," jelasku.
Alam terlihat menimbang-nimbang tawaranku. Kemudian ia pun mengangguk.
***
Sesuai dugaanku, Rinjani sangat senang ketika tahu bahwa Alam akan tinggal bersama kami untuk sementara waktu. Aku tak memberi tahu Rinjani tentang permasalahan yang sedang dihadapi oleh Alam. Rinjani tak perlu tahu itu. Dan untung saja Rinjani tak terlalu banyak bertanya saking senangnya. Ia segera pergi ke kamar untuk membereskan tempat tidurnya.
__ADS_1
"Oh, ya, Al. Besok elo gimana pergi ke sekolah? Lo nggak ada seragam kan?" tanyaku sebelum bergegas pergi ke kamar tidurku.
"Untuk sementara mungkin gue nggak sekolah dulu."
"Maksud lo? Elo mau putus sekolah?"
"Nggak, bukan gitu. Gue mau cari kerja sampingan dulu. Biar gue bisa cari kosan dan bisa biayai sekolah gue."
"Lo yakin, Al?" tanyaku.
Alam mengangguk mantap. "Kalau gue nggak cari kerja. Gimana gue biayain hidup gue? Emang lo mau biayain hidup gue?"
Aku nyengir. "Ya udah gue dukung keputusan lo. Kalau buat tempat tinggal lo nggak perlu khawatir. Lo bisa kok tinggal di sini sampai kapan pun. Kalau gitu gue pamit pergi dulu, ya." Sebelum aku melangkahkan kaki. Alam mencegahku.
"Tunggu, Bis. By the way, elo kok jadi baik banget ya sama gue?"
"Itu karena lo udah selamatin Rinjani. Lo tahu, gue bahkan rela kasih nyawa gue buat dia. Walaupun tanpa diminta. Dan selain itu ternyata lo nggak senyebelin yang gue kira.” Aku menopang daguku sambil mengedikkan sebelah mata. Alam pun tertawa.
"Rinjani beruntung, ya. Masih punya seseorang yang sayang banget sama dia." Seketika wajah Alam terlihat muram kembali.
"Lo nggak usah sedih. Gue yakin suatu saat nanti lo pasti nemuin kebahagiaan elo." Aku memegang pundaknya. Berusaha untuk peduli padanya.
"Thank’s, ya."
"Sama-sama.” Setelah berkata begitu, Rinjani datang kembali untuk mengantarkanku ke kamarnya. Yeah, untuk sementara aku tidur bareng sama Rinjani.
__ADS_1