MY HANDSOME GIRL

MY HANDSOME GIRL
BAB 28


__ADS_3

Tidak jauh dari tempat aku berdiri terdapat sebuah bangunan tua yang sangat besar. Di sekitarnya sudah banyak tanaman rambat yang tumbuh. Aku mengintip di balik setengah pagar besi yang sudah karatan karena termakan usia. Dan beruntungnya aku karena di sekelilingku terdapat rumput dan alang-alang yang tinggi. Hingga dengan posisiku yang berjongkok, tidak akan terlihat oleh mereka.


Sekitar depan gedung itu dijaga oleh laki-laki gendut brewok, dan satunya lagi laki-laki kurus berkumis. Sepertinya mereka terlalu meremehkanku karena hanya dua orang saja yang ditugaskan untuk menjaga di depan bangunan. Cuma dua orang masih mudah bagiku untuk menyerangnya.


Namun, dugaanku salah ketika seorang lagi laki-laki berbadan gempal, tinggi, dan berkumis lebat datang menghampiri mereka. Kini jumlah mereka menjadi tiga. Sial, aku tidak mungkin kuat mengalahkan mereka sekaligus dengan kondisiku yang seperti ini.


Tiba-tiba sebuah tangan mencengkeram pundakku, dan itu membuatku hampir menjerit histeris jika saja mulutku tidak segera ditutup olehnya, mungkin saat itu juga aku sudah ketahuan.


“Ssttt ...” bisik seseorang di telingaku.


Aku lega setelah mengetahui orang itu ternyata adalah Bisma.


“Bisma? Lo ngapain ada di sini?” bisikku pelan karena takut orang-orang itu mendengar ucapanku.


“Kita datang ke sini buat bantuin lo.”


Kita? Tanyaku dalam hati. Namun, aku menemukan jawabannya saat melihat Ilham dan Dicky yang tersenyum di belakang Bisma. Ilham? Bukankah dia sedang musuhan dengan Bisma.


“Tapi ini bahaya buat kalian. Lagipula ini urusan gue,” desisku pelan.


“Urusan lo? Elo lupa preman-preman itu yang udah ganggu Rinjani adiknya Bisma. Dan itu tentu urusan Bisma juga. Urusan Bisma ya urusan Gue sama Ilham juga. Kalau lo nggak datang. Kita nggak tahu apa yang bakal mereka lakuin ke Rinjani. Lagian elo nggak usah khawatir, begini-begini juga kita jago berantem kok,” ujar Dicky disertai cengiran.


Aku tak yakin dengan ucapan Dicky, bagaimana tidak? Kau tahu kan aku pernah mengalahkan mereka bertiga sekaligus.


“Lo harus yakin sama kemampuan kita!” tegas Ilham meyakinkanku.


Untuk beberapa saat aku diam berpikir sampai kemudian mengangguk setuju. “Oke.”


Lalu kami mengatur strategi agar berhasil masuk ke dalam bangungan tua itu dan mengalahkan preman-preman jelek itu. Bisma, Dicky dan Ilham akan melawan tiga orang yang sedang jaga di depan bangunan tua itu. Sementara aku akan masuk ke dalam gedung di saat mereka berhasil mengalihkan perhatian preman-preman jelek itu.

__ADS_1


“Tapi, kita nggak tahu ada berapa banyak orang lagi preman di dalam gedung itu?”


“Lo tenang aja, Al. begitu kita selesai sama cecunguk-cecunguk itu. Kita akan langsung nyusul lo ke dalam.”


Akhirnya aku mengangguk setuju.


Bisma pun bangkit berdiri hendak menjalankan strategi pertamanya. Dengan santai ia berjalan ke arah tiga orang preman itu dan bersandar di pagar besi dengan tangan dilipat di dada.


Para preman itu saling pandang dan menatap Bisma dengan bingung. Lalu preman yang brewokan itu meneriaki Bisma.


“Hey, sedang apa kau di daerah sini. Tempat ini bukan tempat buat tongkrongan.”


Bisma tersenyum kecut. “Kalian pikir kalian siapa berani larang gue?'


“Pergi tidak kau? Sebelum kami pakai cara kekerasan?” kelakar preman bertubuh kurus.


“Hey, kau gendut!” tunjuknya pada preman brewokan itu. “Sini lo maju kalau berani usir gue!” tantangnya.


Mendengar tantangan Bisma, sepertinya preman bertubuh gendut itu langsung menghempaskan rokok yang dihisapnya dengan penuh amarah. Kemudian ia datang menghampiri Bisma. Dan sesuai instruksi, saat preman itu sudah mendekati Bisma. Ilham dan Dicky pun langsung menghajarnya menggunakan balok kayu yang kami temukan di sekitar pagar dengan ukuran yang lumayan besar untuk membuat orang terbaring tak sadarkan diri.


Sontak saja dua preman yang lain terkejut saat menyadari salah satu temannya sudah K.O duluan. Menyadari bahwa mereka telah diserang secara diam-diam. Dua preman itu langsung berlari menuju Bisma untuk menyerangnya. Bisma, Ilham dan Dicky sudah bersiap mengambil ancang-ancang.


Bisma dan Ilham melawan preman yang bertubuh gempal itu, sedangkan Dicky hanya sendirian melawan preman yang bertubuh kurus. Tapi aku yakin kesempatan mereka untuk menang sangat besar, karena mereka punya senjata (meskipun hanya balok kayu, tapi itu mampu jadi senjata pertahanan mereka). Sedangkan dua preman itu melawan dengan tangan kosong.


“Sekarang, Al!” perintah Bisma. Aku pun langsung bangkit dan berlari masuk ke dalam bangunan tua itu.


***


Aku diam menatap para preman yang sekarang ini sedang berdiri mengelilingi diriku!!!

__ADS_1


Sial, aku gegabah dan berhasil masuk ke dalam perangkap mereka. Seharusnya tadi aku tidak langsung beranggapan bahwa ruangan ini kosong dan masuk begitu saja. Saat aku lengah, tanpa kusadari mereka sudah berada di dekatku. Bahkan jumlah mereka sekarang ada empat.


Apa yang mesti aku lakukan? Melawan mereka sekaligus tak akan berhasil. Aku pasti akan kalah. Tapi, aku tidak mempunyai pilihan lain selain bertarung sampai titik darah penghabisan (mungkin terdengar sedikit lebay. Tapi hanya itu kalimat yang terlintas dipikiranku saat ini).


Aku sudah pasang kuda-kuda. Luka yang tadi kurasakan sudah tak kupedulikan lagi, yang terpenting adalah menyelamatkan Papa.


Preman yang berada di depanku langsung melayangkan tinjunya ke wajahku, namun aku berhasil menghindar. Belum selesai, preman yang di samping kiri dan kananku menendangku, untung saja berhasil kutangkis dengan kedua tanganku. Lalu yang di belakang menghajarku, dan aku berhasil menghindarinya ke samping.


Baru beberapa gerakan saja sudah membuatku kewalahan, hingga akhirnya salah seorang berhasil mengenai perutku. Aku pun terjungkal ke belakang. Aku meringis kesakitan. Merasakan sakit yang luar biasa, apalagi dengan luka yang tadi siang masih belum sembuh.


Para preman itu menghampiriku dengan wajah sangar cengengesan yang menurutku seram banget. Aku bergerak mundur dengan tangan memegangi perutku yang sakit.


Salah seorang preman yang terlihat paling bengis ingin menghabiskanku, terus mendekatiku. Ketika jarak kami tinggal beberapa senti. Ia mengepalkan tangannya. Dan bersiap melayangkan tinjunya padaku.


Saat detik-detik menegangkan bagiku itu, Bisma datang dan langsung menyerangnya dengan balok kayu yang di pegangnya itu. Pukulan Bisma berhasil mengenai kepalanya. Alhasil preman itu jatuh dengan darah bersimbah darah yang mengalir di pelipisnya.


“Elo nggak pa-pa kan, Al?” tanya Bisma sambil membantuku berdiri.


Preman itu mengelap darah lalu menatapnya dengan tajam. “Bocah sialan. Kalian kenapa diam aja? Hajar mereka!” perintahnya ke preman yang lain dengan murka.


Tanpa perlu diperintah dua kali para preman itu pun langsung menyerang. Melihat Bisma, Ilham dan Dicky yang berjuang, membangkitkan semangatku kembali. Aku pun segera bangkit dan menendang wajah preman yang sedari tadi menerorku. Preman itu terjungkal, dia meringis kesakitan. Aku terus menyerang dengan ganas tanpa memberinya celah untuk bergerak sedikit pun.


Perlahan-lahan aku mulai menikmatinya serangan demi serangan yang kuberikan. Bagai seorang psikopat aku memburunya terus menerus, walaupun ia berusaha kabur dariku. Dan akhirnya aku berhasil membuatnya terkapar tak sadarkan diri.


Aku tersenyum puas dengan hasil usahaku sendiri. Ketika aku membalikkan badan hendak melihat apakah Bisma, Ilham dan Dicky sudah selesai dengan lawan mereka. Tapi senyumku memudar ketika menyadari Papa sedang terduduk lemas dengan wajah biru penuh lebam bekas pukulan.


“Papa .…”


Dan keterkejutanku bertambah dengan menyadari bahwa Bisma, Ilham dan Dicky sudah berada di tangan para preman itu. Mereka berusaha untuk berontak dan melepaskan diri, tapi tak bisa. Kami kalah jumlah. Dan kami benar-benar sudah kalah.

__ADS_1


__ADS_2