MY HANDSOME GIRL

MY HANDSOME GIRL
BAB 20


__ADS_3

Sinar matahari mulai terlihat menyilaukan mata di balik tirai jendela. Sinar itu mampu menembusnya dan membuatku terbangun dari tidurku.


Aku menguap lebar, dan meregangkan badan untuk meluruskan otot-ototku.


Waktu sudah menunjukkan pukul 07.00, kulirik Rinjani yang masih terbaring di sampingku. Ya, hari ini hari Minggu. Wajar saja jika jam segini Rinjani masih belum bangun.


Hari ini aku putuskan untuk kembali ke rumahku. Bukan untuk tinggal kembali di sana. Melainkan untuk mengambil beberapa baju dan buku-buku sekolah.


Sesampainya di depan rumahku--maksudku rumah Papaku. Aku mengintip sedikit dari gerbang rumah. Dan benar Papa sedang tidak ada di rumah. Aku mengetahui itu karena mobil Papa tidak ada. Perlahan aku masuk dengan menaiki pintu gerbang. Dari luar saja rumah ini sudah terlihat seperti rumah kosong yang tak berpenghuni namun terawat. Aku pun langsung memutar knop pintu. Kau tahu bagaimana caranya aku dapat masuk ke dalam? Ya, dengan kunci cadangan. Setiap penghuni rumah pasti punya kunci cadangan dan pasti tahu di mana mereka meletakkannya. Salah satunya di pot bunga depan terasku.


Pintu terbuka. Sepi. Seperti biasanya. Dan kebetulan pembantuku sedang libur. Biasanya hari minggu memang libur. Aku pun langsung naik tangga menuju ke kamarku yang berada di lantai atas.


Dengan gerakan kilat aku segera mengemas baju-baju yang ku perlukan saja. Dan mengambil buku-buku sekolahku. Ketika membuka laci meja belajar, mataku menangkap setangkai mawar yang berwarna gelap karena sudah layu. Aku mengambilnya dan segera teringat kembali bahwa aku menemukan bunga ini di kolong meja. Aku lupa bertanya pada Bisma. Apakah dia yang memberikanku bunga ini. Tunggu! Kenapa harus Bisma? Bisa saja kan orang lain yang mengirimnya. Tapi entah mengapa hatiku menginginkan bahwa Bisma-lah yang memberikannya.


Ah sudahlah, bukan saatnya untuk memikirkan hal seperti itu. Sekarang aku harus segera bergegas pergi. Sebelum Papa kembali. Aku tidak boleh membuang-buang waktu.


Setelah selesai semuanya. Aku langsung angkat kaki dari rumah dengan kecepatan penuh.


***


Sudah seminggu semenjak aku kabur dari rumah. Dan sama sekali tak ada tanda-tanda dari Papa untuk mencariku, atau mengkhawatirkanku (yang ini mungkin terdengar mustahil). Sepertinya Papa memang benar-benar tak peduli padaku. Aku benar-benar anak yang tidak diinginkan.


"Woy," kejut Ilham menyenggolku yang sedang melamun. Dan tentu saja itu membuatku terkejut. "Lo kenapa lagi, Al?"


"Nggak apa-apa kok. Oh ya, menurut lo Bisma orangnya kayak gimana?"

__ADS_1


"Kok elo tiba-tiba nanyain soal Bisma, sih?"


"Lo pernah ngerasain rasanya jatuh cinta nggak?"


"Pernah, sih. Emang kenapa?"


"Ya itu, yang sekarang lagi gue rasain. Kayaknya gue suka sama si Bisma, deh." Tak tahu mengapa aku bisa blak-blakan pada Ilham. Aku tak berpikir bagaimana jika Ilham memberitahukannya pada Bisma.


"Mendingan lo mundur deh, Al!"


"Kok gitu?" Aku bingung kenapa Ilham begitu bicaranya.


"Gimana ya, lo itu bukan cewek tipe Bisma. Sori bukan maksud gue ..." Suara Ilham memelan.


Seketika aku teringat dengan ucapan Bisma yang diucapkannya saat pertandingan putsal. "Ya, gue tahu kok. Kan gue dengar sendiri pembicaraannya sama kalian. Gue juga tahu resikonya kalau kita berani jatuh cinta, artinya kita harus siap merasakan jatuhnya yang terasa sakit."


"Oh, ya? Kita sama-sama nggak beruntung, ya. Mencintai orang yang nggak cinta sama kita."


"Itulah manusia. Di saat ada orang yang tulus mencintainya. Ia malah sibuk mengejar orang yang bahkan tak peduli terhadap perasaannya," tuturnya sambil tersenyum kecut.


"Oh ya, lo masih ada kerjaan, kan?" tanya Ilham yang tiba-tiba menyadarkanku akan pekerjaan yang sedari tadi ku abaikan.


"Astaga, Ham. Gue lupa. Hampir aja gue malas-malasan. Kalau gitu gue lanjut kerja lagi ya," pamitku. Namun sekilas aku melihat Ilham yang memandangku dengan tatapan nanar, atau mungkin itu hanya perasaanku saja.


***

__ADS_1


Festival sekolah tinggal dua bulan lagi. Kami benar-benar super duper sibuk dengan kegiatan yang bersangkutan dengan ekstrakulikuler drama. Termasuk aku yang mendapat peran utama dalam pementasan drama kami. Aku yang harus berlatih sungguh-sungguh agar penampilanku tidak mengecewakan mereka.


Suara tepuk tangan dari teman-teman anggota drama menyemarak di dalam ruangan. Kali ini aku juga mendapat tepuk tangan dari Bisma.


"Bagus sekali, Al. Kamu harus bisa mempertahankan akting kamu yang seperti itu terus sampai pementasan yang sebenarnya nanti," puji Yayu padaku ketika aku turun dari panggung.


"Apaan sih, cuma gitu doang gue juga bisa," gerutu Eunike dengan sombong.


"Sirik aja lo," ejek Yayu.


Eunike seakan hendak memyerang Yayu, tapi niatnya itu diurungkan karena bagaimana pun juga Yayu adalah wakil ketua club drama. Sedangkan Eunike, ia hanyalah seorang anggota baru. Eunike lebih memilih untuk pergi.


"Elo nggak usah pikirin ucapan Eunike, ya. Dia emang gampang sirik orangnya." Tiba-tiba suara cowok yang aku kenali berasal dari belakang kami. Kami pun menengok dan mendapati Bisma yang sudah berdiri di belakang kami.


"Gue tahu kok, Bis." Aku tersenyum membalas senyuman Bisma. "Oh ya, Bis. Ada sesuatu yang mau gue tanyain ke lo."


Pertanyaan yang selama ini aku lupakan. Ya, tentang bunga itu. Aku ingin memastikan apakah bunga itu pemberian dari Bisma. Atau dari orang lain.


"Sebenarnya yang kasih gue bunga lo bukan?"


"Bunga? Bunga apaan? Perasaan gue nggak pernah kasih lo bunga deh."


Tepat, benar kan dugaanku. Mana mungkin Bisma tiba-tiba memberiku bunga tanpa ada alasan. Lalu siapa dong orang yang mengirimnya. Yang membuatku selalu kepikiran karena kata-katanya yang indah dan manis selalu teringat di kepalaku.


"Oh ya udah. Lupain aja."

__ADS_1


Selesai berlatih, kami langsung bergegas menuju kelas masing-masing. Ya, lagi-lagi waktu istirahat kami gunakan untuk berlatih. Mau bagaimana lagi, kami harus benar-benar mempersiapkannya dengan matang-matang.


__ADS_2