
Sebuah sarang burung terjatuh diterpa angin dari atas ranting pohon. Di dalamnya terdapat anak-anak burung yang baru menetas dari telur. Terlihat dari tubuh mereka yang masih polos tanpa bulu. Mereka berteriak seakan sedang memanggil-manggil induknya. Aku menghampiri sarang itu dan memungutnya.
"Kasihan sekali kalian. Kalian pasti ketakutan," kataku sambil memperhatikan anak-anak burung itu. Lalu aku mendongak ke atas, "Tenang saja. Aku akan mengembalikan kalian ke tempat semula."
Tanpa pikir panjang lagi, aku segera memanjat pohon dan mencari ranting yang lebih kuat agar bisa menampung sarang burung itu hingga tidak terjatuh jika diterpa angin lagi.
"Kalian di sini akan lebih aman."
Selang beberapa menit aku menaruh sangkar burung itu. Datanglah sang induk burung dengan membawa seekor cacing di paruhnya. Aku sedikit menjauh, bukan karena aku takut diserang induk burung yang marah karena merasa aku telah menganggu anak-anaknya. Tapi karena … yeah, aku takut pada cacing-lebih tepatnya Vermiphobia. Mungkin yang mereka lihat hanyalah seekor burung sedang membawa seekor cacing. Tapi, dalam penglihatanku tidaklah seperti itu.
Anak-anak burung itu bersorak gembira melihat induknya yang sudah pulang membawa makanan untuk mereka. Anak-anak burung itu saling rebutan makanan. Entah mengapa melihat induk burung itu memberi makan anak-anaknya dengan penuh kasih sayang membuatku iri. Meskipun mereka hanyalah seekor binatang. Setidaknya mereka pernah merasakan bagaimana rasanya punya sosok Ibu. Tidak sepertiku, yang sedari lahir tidak pernah merasakan yang namanya kasih sayang seorang Ibu. Bahkan merasakan kehadiran seorang Ibu pun aku belum pernah. Dan itu membuatku sedih.
"Tolong ..." Tiba-tiba dari kejauhan aku mendengar suara seseorang meminta pertolongan. Aku pun langsung melayangkan pandangan ke segara arah. Dengan posisi di atas pohon begini memudahkanku untuk melihat ke sekeliling lingkungan dengan leluasa.
Tidak jauh dari pohon tempatku duduk. Aku melihat seorang gadis berseragam siswa SMP sedang dikelilingi oleh tiga orang pria dewasa berpenampilan layaknya seorang preman. Salah seorangnya berusaha untuk merebut tasnya.
Secepat kilat aku pun langsung melompat dari atas pohon dan berhasil mendarat dengan dua kaki dengan sempurna.
"Hey, kalian para banci beraninya main keroyokan. Sama cewek pula," teriakku lancang dengan kedua tangan dilipat di dada. Dengan jarak yang hanya beberapa meter, suaraku pasti akan terdengar keras oleh mereka.
"Woy, siapa lo bocah tengil?" tanya seorang preman yang bertubuh paling kecil di antara preman yang lain.
__ADS_1
"Siapa pun gue, kalian harus pergi dari sini! Karena ini wilayah kekuasaan gue."
"Hohoh ... berani sekali bocah itu sama kita? Belum tau dia siapa penguasa wilayah ini sesungguhnya," timpal preman yang lain.
"Ayo, kita buktikan siapa yang lebih pantas jadi penguasa wilayah di sini. Maju kalian semua!" tantangku dengan tenang dan tak gentar sedikit pun.
"Sombong banget lo bocah. Kalian berdua serang dia," perintah salah seorang pada dua preman yang ada disebelahnya. Dan ku pasti kan bahwa ia adalah bos mereka terlihat dari badan yang lebih besar dan wajah lebih sangar di antara mereka berempat.
Aku hanya tersenyum kecut, mereka bukanlah tandinganku. Yeah, siapa sih yang nggak kenal Alam Sang Pangeran. Selain terkenal karena ketampananku. Aku juga jago dalam bidang olahraga termasuk bela diri.
Dua preman jelek itu langsung berlari ke arahku dan hendak menyerangku dengan mengepalkan tinju dari kejauhan pun sudah terlihat olehku. Aku sudah siap siaga memasang kuda-kuda untuk menyambut pukulan mereka.
Preman berwajah bulat dengan hidung pesek itu langsung melayangkan tinju ke arah wajahku. Teknik yang sering digunakan oleh orang-orang dan tentu saja mudah bagiku untuk menangkis dan menonjol balik wajahnya. Preman itu mengaduh kesakitan sambil memegangi hidungnya yang berdarah.
"Memang payah, baru begitu aja udah kesakitan," ejekku sambil mengelap jari tanganku yang terkena darah preman jelek itu.
Sementara preman yang satu lagi langsung menyerangku. Tapi sedikit pun aku tidak gentar menghadapi mereka. Meskipun para preman itu cowok-cowok bertenaga kuat, aku punya teknik menyerang yang jauh lebih baik. Jadi tanpa membuang-buang waktu lagi, aku melakukan serangan berikutnya dengan menebas ke arah muka preman yang satunya. Yep. Aku mulai menikmati strategi melancarkan serangan-serangan berbahaya dan mengancam jiwa.
Dua preman itu pun tumbang seketika dalam hitungan menit. Aku tersenyum puas melihat dua preman itu sudah tergeletak tak berdaya di atas tanah. Sudah kubilang kan mereka itu bukan tandinganku. Meskipun badan mereka besar dan kuat, tetapi pemikiran mereka dangkal. Teknik-teknik pukulan mereka sudah terbaca terlebih dahulu olehku. Fisik yang kuat akan kalah oleh otak yang pintar (aku tidak bermaksud sombong, lho).
"Ayo, siapa lagi yang mau kayak mereka?"
__ADS_1
"Lo serang!" perintah bos preman itu pada konco nya yang tersisa satu itu.
Tanpa ditunggu-tunggu, aku berlari ke arahnya. Dan ia berlari ke arahku. Saat jarak kami hampir dekat. Ia melayangkan tinju padaku. Aku pun menghindarinya dengan posisi kayang. Tanpa memberi ruang si preman untuk menyerangku kembali, aku langsung memberinya satu pukulan bertubi-tubi dan menyikut dagunya hingga ia terjungkal ke belakang dan tergeletak tak bergerak.
"Mana lagi anak buah lo preman banci? Cuma segini doang?" ledekku. Sesekali melirik dan tersenyum ke arah gadis tadi yang sedari tadi mengumpat di belakang pohon.
"Jangan sombong dulu lo bocah! Masih ada gue. Maju lo kalau berani," ucapnya sambil berkacak pinggang dan tanpa disangka-sangka ia meludah.
Ia mulai menyerangku. Harus kuakui gerakannya sangat cepat dan kuat. Teknik pukulan-pukulan yang ia berikan berbeda dengan ketiga konconya, ia tak memberiku ruang sedikit pun untuk menyerang balik. Yang kulakukan sedari tadi hanya menghindar. Dan itu membuatku kesulitan. Bisa bahaya kalau aku lengah sedikit saja.
Aku terus berusaha mencari ruang untuk menyerang. Hingga akhirnya ia sedikit lengah dan aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Aku langsung menghajarnya dengan sekali pukulan, hasilnya ia langsung terjungkal di tanah. Tanpa disangka-sangka ia bangkit kembali. Sepertinya tak heran jika ia dijadikan bos, karena orang biasa yang terkena pukulanku yang seperti itu seharusnya sudah terkapar di tanah. Ia meraih sesuatu di samping pinggangnya dan mengeluarkan sebuah pisau. Sebelum preman itu menyabetku. Aku sudah menjegal kakinya hingga preman itu terpelanting, tepat di tempat dia tadi meludah. Pisau yang di pegangnya pun terpental jauh dari tangannya. Preman itu berusaha menahan tubuhnya supaya tidak mengenai ludahnya. Tapi aku menginjak punggungnya keras-keras hingga preman itu terjerembap ke atas tanah bekas ludahannya.
"Lain kali," kataku dengan suara rendah dan tajam yang terdengar berbahaya. "Jangan ngeludah sembarangan!" Setelah itu aku melepaskannya. Dan hendak pergi.
Preman itu bangkit, "Siapa lo sebenarnya?" tanyanya dengan suara terbata-bata.
Aku tersenyum miring dan setengah menengok ke belakang, "Panggil gue Alam Sang Pangeran," timpalku dengan santai. Meskipun begitu suaraku terkesan tajam dan menyeramkan.
"Ingat! Urusan kita belum selesai," ancamnya, setelah berkata begitu ia langsung pergi kocar-kacir.
Aku tak terlalu mengindahkan ucapannya. Lagi pula preman macam begitu paling cuma omong doang.
__ADS_1