MY HANDSOME GIRL

MY HANDSOME GIRL
BAB 8 *POV BISMA JAWHARI


__ADS_3

Yeahhh ... aku bersorak atas kemenanganku yang berhasil mencetak gol lagi. Malam ini aku memutuskan untuk bermain futsal bersama anak-anak di kelasku.


Bukan maksudku merendahkan mereka, tapi mereka benar-benar payah. Masa tidak ada satu pun yang berhasil merebut bola dariku. Sudah kubilang kan, aku memang jago dalam bidang olahraga. Aku menenggak air mineral sambil sesekali mengelap keringat yang bercucuran di keningku.


“Bis, gue ada berita bagus buat lo," Dicky tiba-tiba duduk di sampingku. Terdengar deru napasnya yang bergerak cepat mungkin efek dari rasa lelah karena sudah bermain bola. Matanya menatap ke sekeliling.


"Apa?" jawabku singkat sambil mata menatap ke layar ponsel untuk mengecek sudah pukul berapa sekarang.


Ia kemudian berbisik padaku, aku membulatkan mata mendengar pengakuan dari Dicky.


"Lo serius?" tanyaku tak percaya dengan ucapan Dicky. Maksudku hari gini ada orang yang takut sama cacing, selain itu tahu kan Dicky orang yang paling nggak bisa diharapkan. Gara-gara ide dia tempo hari, kami jadi babak belur dihajar oleh Alam.


Dicky memutar kedua bola matanya. "Gue serius, Bis. Gue lihat sendiri kok."


Aku tersenyum sinis. "Ternyata si Alam nggak sekuat yang kita pikirin. Besok juga gue akan kasih dia pelajaran karena dia udah berani bikin gue malu." Aku sudah nggak sabar menanti besok untuk menyaksikan si Alam nangis di depan semua orang.


***


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali aku sudah menunggu kedatangan Alam. Sudah tak sabar ingin melihatnya malu. Akhirnya mangsa yang ditunggu-tunggu datang juga. Aku segera menghadang nya ketika ia melewati ku dengan melentangkan sebelah tangan di depannya.


Spontan saja ia berhenti. Dan langsung menatap tajam padaku.


"Mau apa lo?" tanyanya dengan nada sengit.


"Santai ... ternyata sekarang lo udah mulai berani ya nyolot ke gue. Gue pikir lo masih mau diam aja. Bukannya selama ini lo selalu cuek dan nggak pernah peduli sama apa yang gue lakuin ke elo," kataku sambil berjalan pelan ke depannya. Dan kini kita saling berhadapan.

__ADS_1


"Langsung aja ke intinya. Mau lo apa?" tanyanya dengan nada ketus.


"Mau gue ... gue mau tantang lo." Aku berjalan memutarinya.


Ia tersenyum kecut. "Lo mau berantem sama gue?"


"Gue nggak minta buat adu fisik sama lo. Gue cuma mau nantang lo buat megang ini." Aku menunjuk dan memperlihatkan sebuah toples yang terisi oleh beberapa ekor cacing tanah ketika tepat berada di hadapan Alam.


Wajah Alam langsung terlihat tegang, bola matanya membulat. Kemudian ia memalingkan muka dan memejamkan matanya.


"Lo takut sama cacing, kan?" bisikku ditelinganya dengan disertai seringai.


"Gue nggak takut sama cacing kok," elaknya.


Untuk beberapa saat, ia diam berpikir.


"Jangan, Al! Kamu kan phobia sama cacing," larang seorang temannya yang kuketahui bernama Yayu, karena dia adalah wakil club drama. Jadi wajar saja aku mengenalinya. Saat itu ia sedang berada di samping Alam.


"Aku nggak punya pilihan, Yu. Kalau emang dengan begini bisa bikin dia nggak gangguin aku lagi, aku nggak apa-apa kok. Kamu tenang aja."


Aku tersenyum puas, tak sabar menantikan apa yang akan terjadi padanya.


“Ya udah, gue nggak mau buang-buang waktu. Jadi ..." Aku membuka tutup toples itu sehingga memperlihatkan dengan jelas bentuk-bentuk cacing itu di depan wajah Alam. "Masukin tangan lo ke dalam toples ini sekarang juga!"


Alam menarik napas panjang, lalu mengembuskannya dengan perlahan. Ia mulai mengangkat tangannya dan meraih atas toples dengan pelan. Mataku bahkan hampir tak berkedip karena tak ingin melewatkan satu detik pun kejadian yang seru ini.

__ADS_1


Aku melihat banyak keringat bercucuran di keningnya. Wajahnya benar-benar tegang. Perlahan-lahan ia mulai menyentuh cacing-cacing itu. Bisa kulihat tangannya yang bergetar dengan wajah yang mulai pucat. Dan tak kusangka selang satu menit, ia berhasil menyentuh cacing-cacing itu.


"Gue ... berhasil," ucapnya dengan suara parau. "Dan sekarang lo harus tepati janji lo."


Setelah berkata begitu, tanpa disangka tiba-tiba tubuhnya jatuh ke tanah, ia pingsan tak sadarkan diri.


"Al, kamu kenapa?" tanya Yayu saat mencoba untuk menyadarkan Alam. Semua siswa langsung mengerubungi kami.


"Gue nggak nyangka elo itu ternyata jahat ya, Bis. Alam itu phobia sama cacing. Lo tau kan arti phobia apa?!" katanya lagi dengan nada tinggi.


"Teman-teman tolong bawa Alam ke ruang kesehatan sekolah. Ini semua gara-gara lo. Kalau sampai Alam kenapa-kenapa, lo harus tanggung jawab!" kecamnya.


Para siswa laki-laki membantu menggotong tubuh Alam menuju ruang kesehatan. Aku hanya diam, sungguh aku nggak tahu jika kejadiannya akan jadi seperti ini. Tidak kusangka bahwa Alam akan sampai pingsan seperti itu. Kupikir ia hanya akan ketakutan biasa. Aku hanya ingin mengerjainya saja. Belum habis di situ kekagetanku, tiba-tiba suara seorang perempuan memanggilku dari belakang.


"Kakak!" Aku pun menoleh dan mendapati adikku sedang berdiri di belakangku.


"Jani, sejak kapan kamu di sini?"


"Aku nggak nyangka ternyata kayak gini kelakuan Kakak di sekolah," ucapnya dengan raut wajah sedih campur kekecewaan. "Kenapa Kakak jahat sama Kak Kia?"


Ucapan Rinjani membuatku bingung tak percaya, "Kia? Jadi, dia waktu itu yang sudah selamatin kamu?"


Rinjani mengangguk. "Iya, dia yang udah tolong aku, tapi ternyata Kakak udah jahat sama dia. Aku kecewa sama kelakuan Kakak. Ini ... aku cuma mau kasih tugas Kakak yang tertinggal di rumah," selepas berkata begitu, Rinjani langsung pergi meninggalkanku.


Mulutku masih ternganga tak percaya mendengar pengakuan Rinjani. Jadi Kia yang selama ini Rinjani ceritakan adalah Alam? Orang yang telah menyelamatkan seseorang yang paling berharga dalam hidupku. Ya ampun, baru kuingat ternyata nama asli Alam adalah Zaskia, Kia! Arrghh, aku menjambak rambutku sendiri. Setelah dipikir-pikir aku sungguh sudah keterlaluan. Selama ini Alam tidak pernah bikin masalah padaku, tapi aku saja yang selalu menganggap bahwa dia adalah sainganku. Aku benar-benar bodoh. Sepertinya aku harus meminta maaf pada Alam.

__ADS_1


__ADS_2