
Aku terus menatapnya bagai seekor serigala yang ingin sekali memangsa mangsanya, namun ada sesuatu yang menghalangi sang serigala. Tapi, sang serigala tidak menyerah. Ia terus menargetkan mangsa itu sebagai mangsanya yang harus segera disantap.
Dia sedang memerankan tokoh utama yang seharusnya aku perankan. Dia telah merebut peran yang selama ini aku incar. Beberapa hari lalu dia datang dan langsung mengambil posisiku sebagai murid popular. Dan sekarang ia mengambil peran di club drama yang seharusnya di perankan olehku. Dasar cewek sial. Ia tersenyum seolah-olah ia tidak melakukan dosa apa-apa terhadapku.
"Wah, keren juga ya si Alam meraninnya. Benar-benar penuh penghayatan, cocok banget," kata Dicky sambil bertepuk tangan disertai cengirannya yang membuatku berasa ingin membunuhnya.
Aku memalingkan muka padanya. Menatapnya dengan sangar dan terlihat mematikan. Tentu saja itu langsung membuat Dicky menghentikan aksinya dan sedikit ketakutan. Anak itu benar-benar sering sekali membuatku kesal, ia terlalu lugu sehingga tidak bisa membedakan mana yang bisa memancing kemarahanku dan mana yang membuatku senang. Meskipun begitu ia tetap jadi koncoku yang setia menuruti semua yang aku perintahkan.
Ilham memegang pundakku, "Sekarang rencana lo apa, Bis?" tanyanya.
"Kita harus cari tahu kelemahannya. Karena dia itu terlalu kuat buat kita kalahin. Kemaren gue denger kalau dia habis melumpuhkan empat orang preman berbadan besar sekaligus di tempat itu juga. Itu artinya kalau kita lawan fisik, kecil kemungkinan untuk kita menang, lagipula pantang bagi gue buat mukul cewek, jadi tugas kalian berdua harus cari kelemahan dia," Aku melipat kedua tangan di dada. Dan sesekali mendengus kesal.
***
“Elo kenapa, Bis? Kok senyam-senyum sendiri?” tanya Ilham, ia mengangkat sebelah alisnya kebingungan melihatku yang sedari tadi cengengesan sendiri.
Aku hanya melayangkan pandangan pada Ilham.
Aku sedang membayangkan apa yang telah aku lakukan pada Alam tanpa sepengetahuan Iham dan Dicky.
“Kayaknya ada yang lagi happy, nih. Bagi-bagi napa,” pinta Dicky.
“Mending lo bawain gue minuman! Gue udah haus nih,” perintahku pada Dicky.
“Oke,” sahut Dicky singkat, lalu ia langsung beranjak dari duduknya.
__ADS_1
Setelah kepergian Dicky, Ilham bergeser dari tempat duduknya yang kini lebih sedikit dekat denganku.
“Jangan bilang kalau lo habis ngerjain si Alam sendirian?” tanyanya dengan sedikit agak berbisik.
Aku menoleh ke arahnya, “Ternyata lo lebih pintar dari Dicky.”
Ilham mengerutkan wajah tanda bete oleh ucapanku. “Ah, elo. Jangan samain gue sama Dicky-lah, jelas beda!”
“Jadi, bisa lo kasih tahu kronologisnya?”
Sebelum aku hendak mengeluarkan suara, tiba-tiba suara seseorang memanggil namaku dari belakang.
Aku pun menoleh, penampilannya benar-benar buruk. Wajahnya hampir tak ku kenali (meskipun sebenarnya aku sangat mengenalinya). Ia mengenakan seragam olahraga. Aku menahan tawa melihat wajahnya yang dipenuhi oleh tepung hingga ke atas rambut. Dengan buru-buru Ia bergegas mendekatiku.
“Habis kecebur di mana lo? Muka lo putih banget,” ejekku sesekali menutup mulut untuk menahan tawa.
“Jangan pura-pura **** lo! Gue tahu ini semua perbuatan lo, kan?” suaranya terdengar pelan, namun mematikan.
“Elo jangan sembarangan nuduh gue, mana buktinya kalau gue yang lakuin itu ke elo?” tanyaku dengan nada santai.
“Gue emang nggak punya bukti, tapi gue yakin 100% lo yang lakuin. Karena di sekolah ini yang benci sama gue cuma elo doang,” sambil menegaskan kata ‘benci’ itu, ia menegakkan badannya kembali, “Dan dua konco lo itu.”
“Kalau pun iya emang kenapa? Apa ada masalah?” Aku bangkit dan kini kami saling berhadapan.
Para siswa mengalihkan seluruh perhatiannya pada kami. Pandangan mata semuanya tertuju pada kami berdua.
__ADS_1
Ia menatapku tajam, “Sebenarnya lo punya masalah apa sih sama gue? Gue pernah bikin salah apa sama lo? Kenapa lo sampai benci sama gue?” tanyanya dengan suara datar.
Aku tidak mungkin mengatakan bahwa aku benci dia karena dia sudah merebut kepopuleranku, itu sama saja secara tak langsung aku mengatakan bahwa Alam lebih hebat dari diriku. Apalagi sekarang ini kita sedang ditonton oleh semua siswa. Aku tidak mau terkesan seakan aku ini rendahan.
“Lo pikir aja sendiri!”
Jawaban yang bodoh, umpatku dalam hati.
Alam menyipitkan matanya, “Terserah lo deh. Yang pasti gue ke sekolah itu buat belajar. Bukan buat nyari musuh. Tapi, kalau emang lo,” Dia menunjuk tepat ke arah wajahku. ”Mau kita perang, ayo!”
“Alam?” tanya dicky untuk memastikan bahwa yang ada dihadapannya itu Alam. Dengan wajah polosnya ia bertanya. “Muka lo kenapa? Lucu banget,” ucapnya disertai tawa dengan kedua tangan yang sedang memegang minuman.
Tanpa disangka-sangka Alam mengambil minuman yang dipegang oleh tangan kiri Dicky, dan menyiramkannya ke wajahku, “Ini balasan sekaligus permulaan perang kita,” Setelah berkata begitu ia langsung pergi.
Aku hanya melongo, bisa-bisanya dia berbuat begini padaku. Siswa-siswi yang menyaksikan aksi Alam pun saling berbisik. Awas saja. Kebencianku padanya semakin memuncak.
“Elo nggak apa-apa, Bis?”
“Nggak apa-apa gimana?” bentakku pada Dicky,” lo sih pake segala bawa minuman, jadi disiram kan gue.”
“Lah, tadi kan lo yang minta gue buat bawa minuman,” bela Dicky.
“Diam lo! Berani jawab gue,” semburku dengan mata merah akibat air minuman yang masuk mengakibatkan rasa perih di mataku.
“Salah lagi, salah lagi,” ucapnya pelan sambil menggaruk-garuk kepalanya.
__ADS_1
Aku segera bergegas ke toilet untuk membersihkan wajah dan pakaianku dari sisa air yang kotor sambil terus mendengus kesal mengingat perlakuan Alam yang sudah mempermalukan diriku di hadapan para orang-orang.