MY HANDSOME GIRL

MY HANDSOME GIRL
BAB 10


__ADS_3

Pagi ini sinar sang surya terlihat sangat terang. Lebih terang dari biasanya, indah namun menyilaukan mata. Burung-burung yang bertengger di ranting pohon sedang asyik berkicau. Aku berharap semoga hari ini hari yang indah bagiku.


Aku segera bergegas keluar untuk pergi ke sekolah. Dan seperti biasa, dengan suasana rumah yang sunyi dan sepi. Hanya ada pembantuku yang sudah mulai mengerjakan pekerjaannya. Papa masih belum pulang juga dari kantornya, atau mungkin ia sudah memiliki apartemen sendiri.


"Hei." Seseorang menyapaku dari belakang. Aku menoleh dan ternyata itu Bisma. Dan di sampingnya berdiri dua orang cowok, Dicky dan Ilham.


"Lo sendirian aja? Di mana Yayu?" tanya Dicky yang langsung nyosor aja duduk di sampingku.


"Kenapa lo, ****? Kok malah nanyain Yayu?" selidik Bisma.


"Nggak, gue cuma nanya doang. Emang salah ya?"


"Ya nggak, sih. Tapi tumben aja " Mungkin pemikiran Bisma dan aku sama hingga memandang Dicky dengan penuh tanda tanya.


"Bis, gue mau masuk ke kelas lagi aja." Ilham tiba-tiba bicara.


"Lho, kenapa, Ham? Bukannya tadi lo bilang lapar?"


"Gue udah nggak mood," jawabnya dengan culas. Lalu pergi gitu aja tanpa menunggu jawaban dari Bisma.


"Si Ilham kenapa, Bis?"


Bisma mengedikkan bahu. "Mana gue tahu."


"Mungkin dia nggak suka kali kalian dekat-dekat sama gue," kataku di sela-sela pembicaraan mereka. "Harusnya sebelum lo mau berteman sama gue, lo minta persetujuan teman-teman lo dulu."


"Gue nggak perlu itu. Dicky aja nggak keberatan kalau kita ini temenan. Iya kan, ****?"


Dicky hanya mengangguk sambil sesekali mengunyah makanan milikku yang entah sejak kapan sudah berada di tangannya.


"Iya, sih. Tapi makanan gue sejak kapan pindah ke tangan lo?" Aku menekuk wajahku yang mungkin sekarang terlihat jelek.

__ADS_1


Dicky nyengir, memperlihatkan barisan giginya yang rapi dan terlihat sedikit sisa makanan di sela-sela giginya.


"Ada yang nyangkut tuh di gigi lo," tunjukku.


Alhasil Dicky langsung mencolek-colek giginya menggunakan jari telunjuknya.


"Ihh … lo jorok banget sih, ****." Aku dan Bisma mengernyit jijik menyaksikan Dicky yang begitu jorok.


Seorang perempuan berwajah ayu, rambut hitam tergerai lurus sampai menutupi punggungnya dengan hiasan bando kupu-kupu yang sangat cocok dikenakannya dan terlihat sangat manis. Ya, dia adalah Yayu. Sesuai namanya dia benar-benar gadis yang ayu. Jika aku dan Yayu jalan berduaan mungkin orang-orang akan menyangka bahwa kita adalah sepasang kekasih (itu pun jika mereka tak sadar bahwa aku adalah seorang perempuan).


Melihat Yayu yang datang menghampiri kami, Dicky segera menghentikan aksinya itu. Dengan tergesa-gesa ia mengelap jari-jarinya ke bajunya.


Dari kejauhan Yayu sudah melayangkan senyumannya padaku.


“Kita punya tugas baru, nih,” katanya setelah berada di dekatku. “Kita punya tugas dari senior club drama.”


Oh ya, selain teman sekelasku, Yayu juga anggota club drama. Dan aku baru menyadari bahwa dia adalah wakil ketua di club drama.


“Ya udah, kita belanja besok aja. Aku sama Bisma nggak keberatan kok. Itu kan tugas kami juga,” kata Dicky sambil cengar-cengir yang membuatku sedikit geli melihatnya. Dari sorotan matanya sih sepertinya Dicky menyukai Yayu. Tingkahnya pun terlihat berbeda jika berada di depan Yayu. Sebenarnya aku sudah sadar dari dulu, hanya saja dulu Dicky tak terlalu menunjukkan sikapnya ke Yayu, kupastikan karena Bisma yang sempat membenciku dulu. Karena Yayu kan dekat denganku.


***


Setelah membeli semua barang-barang yang kami butuhkan. Kami memutuskan untuk mampir sebentar ke sebuah toko buku. Sebenarnya aku sih yang memaksa mereka agar mau . Lagipula sudah lama sekali aku tidak mampir untuk membeli buku.


Aku segera melayangkan pandangan ke seluruh rak-rak buku yang terbentang di depan mataku. Mataku mencari-cari sebuah judul buku yang ingin kubaca.


Tak hanya aku. Yayu dan Dicky pun sibuk mengagumi jararan buku-buku yang tertata rapi. Dicky, dan Yayu berjalan ke arah kiri, mereka sedang melihat-melihat. Sementara Bisma, sedari tadi ia hanya mengekor di belakangku.


Aku menghentikan langkahku, lalu berbalik ke belakang.


“Bis, kok elo dari tadi ikutin gue terus?”

__ADS_1


Bisma mengedikkan bahu. “Gue juga nggak tahu. Abisnya gue bingung mau ngapain di sini.”


Aku tertawa pelan. Bisma memasang wajah bingung.


“Kok ketawa? Emang ada yang lucu, ya?” tanyanya.


“Elo, sih aneh. Kita ke toko buku ya mau beli buku, lah. Terus dibaca nanti.”


Bisma terlihat mengusap-usap keningnya. “Oh iya. Tapi gue nggak terlalu suka baca buku, sih.”


Aku tak terlalu terkejut dengan ucapannya. Ya wajar, sih. Nggak semua orang suka membaca buku. Terlebih sebuah novel yang halamannya bisa sampai ratusan. Mataku membulat ketika melihat judul buku yang sedari tadi kucari. Aku segera bergegas menghampirinya.


Kekasih terbaik … aku membaca judul yang tertera di cover novel itu.


Bisma mengangkat sebelah alisnya. “ELO suka sama novel begituan?”


“Iya, novelnya bagus banget. Kadang gue selalu berharap supaya bisa punya pacar kayak di tokoh novel ini.”


“Dari judulnya aja alay banget tahu nggak?”


“Elo nggak tahu aja, sih ceritanya seru tahu.”


“Ya udah, cepetan. Udah sore, nih.”


Aku merasa sedikit kesal, karena aku masih ingin melihat-lihat.


“Oh ya. Yayu sama Dicky mana?” Aku celingak celinguk mencari-cari mereka karena sedari tadi mereka nggak kelihatan.


Seketika bibirku mengembang menyunggingkan senyuman melihat Yayu dan Dicky yang dari kejauhan sedang kerepotan membawa beberapa buah buku.


“Kalian mau jadi perpustakaan keliling?” oceh Bisma. Yayu dan Dicky hanya nyengir.

__ADS_1


Setelah itu kami langsung pergi ke kasir untuk membayarnya.


__ADS_2