
Aku menatap preman yang sedang memegang baju Papa dengan kasar, di sampingnya duduk seorang preman yang wajahnya asing bagiku dengan tompel menghiasi sebagian wajahnya yang membuatnya semakin terlihat jelek. Dan dugaanku bahwa dia adalah Bosnya. Karena di antara yang lain hanya dia yang diperlakukan istimewa, sedangkan di sampingnya berdiri seorang preman yang wajahnya sangat kuingat. Kupikir preman itu Bos mereka. Ternyata dia juga tak lain hanyalah seorang anak buah.
“Dia, Bos. Yang udah nyerang kami.” Maksudnya ‘kami' tentu saja para preman yang pernah kukalahkan tempo dulu.
“Halo, Alam,” sapanya disertai cengiran yang membuatku bergidik jijik.
Aku tak menjawab, aku masih terus menatap lurus padanya.
“Kamu tahu kenapa saya melakukan semua ini sama kamu?” tanyanya basa-basi. “Anak buah saya bilang kamu sudah ikut campur urusan mereka dan menghajar mereka. Kamu masih ingat kan sama mereka?” tunjuknya ke arah tiga preman yang sedari tadi ingin ku jotos saja.
“Tentu dong. Gue nggak akan pernah lupain wajah para pecundang yang pernah gue kalahin,” jawabku ketus.
“Udah, Bos. Langsung sikat aja bocah kayak gitu mah,” katanya berapi-api. Bos preman itu mengangkat satu tangannya mengisyaratkan preman itu untuk diam.
“Sombong sekali, ya. Tapi buktinya sekarang saya yang menang.”
“Ya iya lah lo menang. Lo kan pake anak buah lo buat nyerang gue. Bukan lo sendiri. Kalau lo sendiri yang nyerang gue, sih. Pasti lo tetap sama bisa gue kalahin dengan mudah kayak anak-anak buah lo yang lembek itu.”
Preman tompel itu bangkit, menatapku dengan tajam. Tak terima dengan ucapanku. Ia pun langsung menjambak rambut Papa.
“Papa ... elo jangan pernah sentuh bokap gue!” teriakku. Aku mencoba untuk menyerangnya, tapi tubuhku sudah keburu ditahan oleh anak buahnya. Aku berusaha berontak dan mencoba melepaskan diri. Namun, tak bisa.
Melihat diriku yang berteriak histeris. Preman tompel sialan itu tertawa-tawa.
__ADS_1
Ia menghentikan tawanya dan berubah kembali memasang ekspresi serius. “Saya mau buat penawaran sama kamu. Saya akan bebaskan Papa kamu, asal kamu mau gantikan posisi dia untuk saya bunuh.”
Deghh … orang itu benar-benar sudah gila. Mereka semua memang gila.
“Jangan, Al!” larang Bisma, Dicky dan Ilham dengan kompak.
Aku menatap mereka satu persatu secara bergantian. Lalu memantapkan hatiku bahwa aku bersedia menerima tawarannya.
“Oke, gue mau.”
Bisma dan yang lainnya memandangku dengan mulut menganga. Termasuk Papa.
“Anak pintar. Jangan buru-buru, santai aja. Saya kasih kamu buat mikir lagi sebelum kamu menyesal dengan pilihan kamu ....”
“Jangan banyak bacot!” sergahku. “Cepetan lepasin Bokap gue!”
“Sekarang kau ke sini!” katanya setelah ia melepaskan tali yang terbelit ditubuh Papa.
Aku pun mengikuti perintahnya dan berjalan mendekati dia bersamaan dengan Papa yang berjalan ke arahku. Kami disuruh bertukar posisi.
Ingin sekali rasanya aku memeluk Papa untuk yang terakhir kalinya. Namun, para preman sialan itu tak mengijinkanku. Mereka langsung meraih tangan dan menangkapku. Aku diikat di salah satu tiang bangunan tua itu.
“Hahaha ...” Preman-preman itu saling tertawa tak sabar untuk menyaksikan pertunjukan yang menurut mereka seru.
__ADS_1
Bos preman itu mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Astaga, itu sebuah pistol. Kupikir mereka akan membunuhku dengan cara mengeroyokiku. Tapi mereka justru menggunakan senjata api untuk melenyapkanku hanya dalam sekali tembak.
“Apakah ada kata-kata terakhir yang ingin kau ucapkan pada anakmu?” Preman itu menoleh ke arah Papa yang sedang menundukkan kepalanya.
Sekilas aku melihat wajah Papa yang terlihat basah. Bukan basah oleh keringat, tapi oleh air mata. Aku tak salah lihat, kan? Benarkah Papa menangis untukku?
“Kenapa … kenapa kamu mau ngelakuin semua itu demi Papa?” tanyanya dengan suara pelan yang masih bisa kudengar.
“Karena aku sayang Papa,” ucapku tulus.
“Tapi selama ini Papa sangat membencimu, dan Papa nggak pernah menganggap kamu sebagai anak Papa.”
Aku tersenyum. “Kalau Papa benci Kia, dan Papa nggak pernah anggap Kia sebagai anak Papa. Nggak mungkin kan Papa masih mau merawat Kia sampai sekarang? Papa mungkin akan buang Kia dari dulu. Tapi itu semua nggak Papa lakuin karena sebenarnya di hati kecil Papa, Papa sayang sama Kia, kan?”
Papa mendongak, menatapku. Kini air matanya terlihat jelas mengalir di pipinya yang lebam itu. Terlihat semburat penyesalan di raut wajahnya. “Maafin Papa, Kia. Maafin Papa,” sesalnya sesekali dibarengi isak tangis.
“Kia udah maafin Papa dari dulu kok.”
“Uhhh … kalian bikin saya pengen nangis, deh," ejek preman bertompel itu. “Nangis bahagia, hahaha .…”
“Udah kan dramanya? Sekarang bersiaplah. Kamu akan segera menghadap ajalmu bocah tengil.” Ia mengacungkan pistolnya dan bersiap mengarahkannya ke arah jantungku.
Dorrr…
__ADS_1
Bunyi tembakan terdengar. Bersamaan dengan itu si preman berwajah tompel jatuh tergeletak. Aku mendengar suara polisi yang berhasil menembak si preman tompel itu. terdengar suara kegaduhan yang dibuat oleh para preman itu, mereka berlarian mencoba untuk melarikan diri.
Kurasakan panas luar biasa di lengan kiriku, tembakannya meleset ke situ. Aku baru sadar saat darah segar mengalir di lenganku. Aku tidak kuat menahan rasa sakit ini. Sial, pandanganku mulai kabur. Samar-samar aku melihat orang-orang yang kukenali menghampiriku. Terakhir wajah orang yang kulihat adalah Yayu sebelum semuanya berubah menjadi gelap.