
Aku tengah berdiri di hadapan rumah yang begitu sederhana, setelah beberapa menit memberanikan diri untuk mengetuk pintu. Akhirnya aku pun mengetuk pintu rumah itu. Sepi. Tak ada jawaban dari dalam. Mungkinkah para penghuni rumah sudah terlelap, karena waktu juga sudah hampir larut malam. Lampu-lampu pun terlihat sudah dimatikan. Aku mengetuk pintu sekali lagi dan lampu menyala terang di dalam.
Seseorang yang mengenakan piyama tidur membuka pintu sambil sesekali menguap dan menggaruk-garuk kepalanya. Kemudian matanya membulat ketika mengetahui aku yang berdiri di depannya.
“Alam?” pekiknya
“Yu …” Aku langsung memeluk Yayu dan menangis di pelukannya.
“Kamu lagi apa malam-malam di sini?”
Aku tak menjawabnya, aku hanya menangis tersedu di pundaknya.
“Ya udah, kita masuk aja ke dalam. Udah malam juga.” Yayu mengajakku masuk. Aku pun melepaskan pelukanku darinya.
Setelah berada di dalam kamar Yayu, barulah aku menceritakan semua kejadiannya pada Yayu. Yayu hanya memandangku dengan prihatin.
“Udah kamu nggak usah sedih. Cowok kayak gitu nggak perlu ditangisi, Al. masih banyak kok cowok yang lain.” Yayu mencoba menenangkanku. Ia memberikanku segelas air putih untuk di minum.
“Aku boleh nggak, Yu. Nginep di sini semalam? Besok aku langsung cari kosan kok,”
Yayu tersenyum sambil menggenggam tanganku. “Kamu bisa tinggal di sini semau kamu, Al. Lagi pula mumpung Ibu aku lagi nginep di rumah Bude aku yang di luar kota. Kalau kamu mau cari kosan juga aku bantu cari, deh.”
“Makasih ya, Yu. Kamu emang sahabat aku.” Aku memeluk Yayu kembali.
“Eh, Al. besok kan hari Minggu, gimana kalau besok kita jalan-jalan sekalian cari kosan buat kamu,” usul Yayu.
Aku pun mengiyakan ajakan Yayu. “Tapi kita jalan-jalan ke mana, Yu?”
“Gimana kalau ke Dufan?” Aku mengangguk setuju, kebetulan dari dulu aku ingin sekali berlibur di akhir pekan, namun selalu tak tersampaian, karena … ya, kau tahu kan biasanya orang kebanyakan kalau akhir pekan dihabiskan untuk berlibur bersama keluarga, sedangkan aku ... aku tak punya seseorang pun keluarga untuk diajak berlibur di akhir pekan.
***
Suasana Dufan sangat ramai oleh pengunjung. Kebanyakan dari mereka terdiri dari beberapa keluarga, seperti kataku. Banyak yang lebih menghabiskan akhir pekan bersama keluarganya.
“Al, kita mau mulai wahana yang mana dulu, nih. Aku jadi bingung?” tanya Yayu sambil memandang ke sekeliling.
Bagaimana tidak? Di sini banyak sekali bermacam-macam wahana yang terlihat sangat seru. Ya, puluhan wahana bermain siap menghibur para pengunjung dari mulai yang hanya sekedar untuk bersenang-senang hingga wahana yang dapat memacu adrenalin seperti Hysteria, Tornado, Halilintar dan masih banyak lagi.
“Bagaimana kalau Hysteria?” usulku disertai cengiran.
“Kamu yakin, Al? Kamu kan bilang belum pernah ke Dufan. Kenapa langsung pengen nyobain wahana yang ekstrem? Nanti kamu mabuk, lho.”
“Tenang aja, Yu. Cuma kayak gitu doang sih gampang.”
__ADS_1
“Yakin?”
Aku mengangguk tegas untuk meyakinkan Yayu. Akhirnya Yayu pun menyanggupi permintaanku. Kami segera bergegas dan mengantri. Antrian lumayan panjang juga, namun kami tetap sabar menunggu. Hingga akhirnya tibalah giliran kami.
Aku sedikit deg-degan karena ini pertama kali aku akan mencobanya, semoga saja tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, aku berdoa dalam hati. Ya, kau tahu kan menaiki wahana Hysteria seolah tubuh kita dilemparkan ke atas dalam waktu satu persekian detik, setelah itu langsung dilemparkan ke bawah dengan sangat cepat, dan kau pasti bisa membayangkan bagaimana rasanya itu.
Petugas mulai memasangkan sabuk pengamannya pada kami. Yayu memandangku. ”Sudah siap?” tanyanya disertai senyuman.
Aku mengangguk. Hitungan sudah dimulai, aku mulai merasakan tubuhku yang seperti melayang di udara dengan perlahan. Tubuh kami perlahan-lahan naik ke atas. Banyak suara pengunjung lain yang bersorak merasakan ketegangan itu. Setelah sampai di bagian yang paling atas, tubuh kami dengan cepat turun ke bawah dan itu membuatku spontan berteriak histeris. Rasanya benar-benar … seru. Aku melirik Yayu yang juga berteriak histeris, suasana sangat riuh.
Selang beberapa kali tubuhku dilempar ke atas dan ke bawah, tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang mengganjal di perutku. Sial, aku mulai mabuk. Plis … jangan muntah sekarang.
Akhirnya berhenti juga, aku turun dengan tubuh sedikit oleng.
“Kamu nggak apa-apa kan, Al?” tanya Yayu yang sepertinya menyadari bahwa aku mabuk.
“Kayaknya aku pengen muntah, Yu,” kataku sambil memegang mulutku.
“Tuh kan, Al. Aku bilang juga apa. Yaudah ayo kita cari toilet.”
Namun, sebelum kami menemukan toilet, aku sudah tidak kuat lagi menahan rasa mual ini, hingga akhirnya aku pun muntah, untunglah tempatnya yang lumayan sepi, sehingga tidak banyak orang yang menyadarinya.
“Ya ampun, Al. Kamu ada-ada aja, deh,” ucap Yayu.
“Coba aku lihat dulu di dalam tas,” Yayu merogoh-rogoh tas nya, “nggak ada, Al.”
Aku mengembuskan napas dengan kecewa. Kalau tahu begini, nggak akan aku mau naik Hysteria.
Tiba-tiba seseorang menyodorkan kami sebuah minyak angin. Aku dan Yayu mendongak bersamaan.
“Ilham,” ujar kami kompak. Tentu saja itu membuatku terkejut.
Ilham nyengir, aku segera berdiri. “Lo lagi apa disini?”
“Ya liburan lah, masa sekolah.”
“Maksud gue kok lo bisa di sini?”
“Iya, gue emang tiap akhir pekan liburan sama keluarga gue, dan kebetulan Minggu ini gue liburan kesini. Itu mereka,” tunjuknya. Dan benar saja tak jauh dari tempatku berdiri aku melihat Pak Rudi bersama anggota keluarga Ilham yang lain.
“Terus dari jauh gue liat lo kayaknya mabuk ya? Lo pasti abis naik wahana yang memacu adrenalin lo?” sambungnya.
“Iya, nih, Ham. Si Alam sih pake segala sok pengen naik Hysteria. Eh, nggak tahunya mabuk, tuh.”
__ADS_1
“Lain kali lo harus pikir ulang kalau mau naik wahana ekstrem di sini.”
Aku tersenyum. “Makasih ya, Ham. Minyak anginnya.”
Aku sedikit tersipu karena Ilham masih bisa bersikap baik setelah penolakanku yang waktu malam itu.
“Setelah pulang dari sini jadi kan cari kosan buat kamu?” tanya Yayu, spontan aku langsung menyikut Yayu dengan pelan. Sebenarnya aku ingin Yayu tak membicarakannya di depan orang-orang termasuk Ilham. Yayu langsung diam. Tapi, aku sudah terlambat mencegahnya.
“Lho, emang lo udah nggak tinggal di rumah Bisma lagi? Kenapa?”
“Nggak apa-apa kok, Ham. Gue cuma nggak mau ngerepotin Bisma kelamaan.”
“Bohong, Ham. Alam pergi dari rumah Bisma gara-gara Bisma bikin Alam nangis …” Aku segera menutup mulut Yayu sebelum dia bicara lebih jauh.
“Nangis? Kenapa?” Ilham terlihat mengkerutkan keningnya.
“Nggak kok. Eh, kita pergi dulu ya,” pamitku pada Ilham sambil narik Yayu dengan paksa.
Duh, gimana sih Yayu ini kok bisa keceplosan gitu. Padahal aku sudah bilang jangan bicara pada siapa-siapa tentang masalahku.
“Kamu kenapa ngomong soal itu ke Ilham sih, Yu,” marahku.
“Maaf, Al. Aku keceplosan.”
“Ya ampun, Yu. Bisa gawat kalau Ilham tahu aku nangis gara-gara Bisma,” ucapku frustari.
“Emangnya kenapa sih, Al. kalau Ilham tahu?” tanya Yayu memasang wajah bingung.
Aku menghela napas. “Ilham itu suka padaku.”
“Apa?” Yayu membelalakkan matanya. “Kok bisa?”
“Mana aku tahu. Sebetulnya malam itu aku baru pulang jalan sama Ilham, terus dia nembak aku malam itu juga. Tapi, aku tolak karena aku nggak punya perasaan apa-apa sama Ilham. Terus sekarang aku takut Ilham ngelakuin sesuatu ke Bisma cuma karena Bisma bikin aku nangis.”
Yayu tak memberikan respon apa-apa. dia juga terlalu kaget sehingga masih belum bisa mencerna semuanya.
Di sepanjang jalan aku ngambek pada Yayu, meskipun dia sudah minta maaf. Namun itu tak bertahan lama. Tentu saja, mana mungkin aku bisa marah dalam waktu lama pada Yayu.
“Sekarang kita mau ke mana?” tanya Yayu tiba-tiba ketika kami sedang ayik menjilati es krim yang tadi kubeli. Ya, aku mentraktir Yayu makan es krim. Kan kebetulan juga aku habis dapat gaji.
“Gimana kalau kita cari kosan buat aku?”
Yayu mengangguk setuju. “Oh iya, Al. Aku udah tahu kosan yang murah tapi tempatnya lumayan. Aku baru ingat kemaren sebelum tidur aku sempat chat sama teman aku.”
__ADS_1
“Ya udah tunggu apa lagi. Yuk, sekarang kita ke sana."