
Alam segera berlari menjauh dariku, namun berhasil terkejar. Aku menahannya dengan memegang erat lengannya.
“Tunggu, Al. dengerin penjelasan gue dulu. Elo salah paham!” Aku mencoba untuk menjelaskan pada Alam tentang hal yang sebenarnya terjadi malam itu.
Ya, Alam memergokiku sedang mmm … berciuman dengan Eunike. Tapi sungguh itu bukan kemauanku. Eunike yang memaksaku. Aku sudah berusaha menolaknya, tapi Eunike tetap memaksaku hingga akhirnya aku berhasil masuk ke dalam pelukannya dan menyebabkan bibir kami menempel. Dan bersamaan dengan itu juga Alam masuk ke dalam kamarku.
“Buat apa lo jelasin. Mau gue salah paham atau nggak, emangnya apa hak gue buat marah sama lo? Kita kan nggak ada hubungan apa-apa. Lagian juga terserah lo mau buat kayak gimana sama Eunike. Itu bukan urusan gue,” katanya dengan suara ditekan.
Mendengar perkataannya, aku langsung melepaskan pegangan tanganku darinya. Jujur, aku merasa sedikit kecewa mendengar perkataan alam yang begitu. “Elo benar. Kita emang nggak ada hubungan apa-apa. Dan kenapa juga gue mesti mikir kalau lo cemburu. Suka sama gue aja nggak mungkin, kan?”
Alam langsung diam mematung. Hening beberapa saat.
“Setelah kejadian malam itu lo tidur di mana? Kenapa nggak pulang lagi ke rumah gue?”
“Gue nginep di rumah Yayu, dan mulai sekarang gue bakal tinggal di kosan. Gue udah dapat kosan.”
“Oh, gitu. Oke, deh.”
“Udah nggak ada yang mau diomongin lagi, kan? Kalau gitu gue mau ke kelas dulu.” Tanpa menunggu jawaban dariku. Alam langsung pergi begitu saja dari pandanganku.
Saat aku hendak berbalik, tiba-tiba seseorang memukul tepat di perut dan wajahku. Aku pun terjungkal. Aku meringis kesakitan. Dan mataku terbelalak ketika menyadari orang itu adalah Ilham.
“Ham, lo apa-apaan, sih? Kok mukul gue?” Aku memegang perutku dan menyeka darah yang keluar dari bibirku. Sial, lidahku tergigit.
Ilham menarik kerah bajuku. “Lo tahu? Selama ini gue selalu berusaha bikin Alam tersenyum. Tapi elo, dengan hanya semalam lo bikin Alam nangis,” bentaknya. Matanya memelototiku. Tatapan mata yang selama ini tidak pernah ditunjukkannya padaku. Beginikah reaksi seseorang jika melihat orang yang disayanginya disakiti oleh orang lain. Bahkan ia tak sadar walaupun aku adalah sahabatnya sendiri.
“Tenang dulu, Ham!” Dicky mencoba melerai Ilham dariku.
“Apanya yang tenang, ****. Si Bisma itu sekali-kali harus dikasih pelajaran supaya nggak ngelunjak. Selama ini kita selalu diam dan menuruti semua perkataannya walaupun kita nggak suka. Dan sekarang kesabaran gue udah abis. Gue nggak mungkin diam aja liat cewek yang gue sayang dia sakiti.”
“Tapi gue nggak tahu kalau Alam sampai segitunya cuma gara-gara lihat gue sama Eunike.”
Ilham menarik napasnya. “Asal lo tahu, Alam itu suka sama lo, Bis!”
“Apa? Alam suka sama gue?”
“Iya, dan bodohnya dia tetep suka sama lo walaupun lo bilang di depan matanya kalau Alam bukan tipe cewek yang lo suka.” Ilham menatapku dengan tajam.
“Sekarang kita bukan sahabat lagi. Sori, Bis,” lanjutnya.
“Lho, kok gitu sih, Ham.” Dicky mencoba untuk memprotes keputusan Ilham. Tapi, Ilham tak menggubrisnya.
“Terserah lo, ****. Lo mau ikut sama gue atau Bisma.” Setelah berkata begitu Ilham langsung pergi meninggalkanku dan Dicky.
Dicky terlihat kebingungan dan menggaruk-garuk kepalanya sambil berkata. “Duh, kenapa jadi kayak gini, sih?”
__ADS_1
“Udah biarin aja, ****. Mungkin si Ilham butuh waktu. Lo kalau mau ikut dia silahkan. Gue nggak pa-pa kok." Aku melangkah pergi dengan menahan sakit meninggalkan Dicky yang masih diam tak bersuara.
Untung saja suasana sekolah masih sepi karena ini masih terlalu pagi. Jadi, tidak ada yang menyaksikan aksi Ilham yang memukulku.
Benarkah Alam suka padaku? Pikirku dalam hati.
***
Aku segera bergegas ke ruang UKS untuk minta diobati Orang-orang melayangkan pandangannya ke arahku. Mungkin mereka bertanya-tanya apa yang telah terjadi padaku hingga aku sampai melangkah dengan gontai sambil memegang perutku. Karena sedari tadi rasa sakitnya tidak hilang-hilang. Waktu pagi masih bisa kutahan, tapi sekarang aku sudah tidak kuat lagi. Aku pun meminta izin ke Guru yang sedang mengajar saat itu. Sebelum keluar kelas aku menengok ke arah Ilham sebentar, ia bahkan tidak menatapku sedikit pun.
Setelah diobati, aku memutuskan untuk berbaring sejenak. Di saat aku sudah menerima Ilham sebagai sahabatku, kenapa malah terjadi hal seperti ini. Hanya karena seorang perempuan Ilham bisa memukulku.
Pintu ruang UKS berdecit, menandakan ada seseorang yang membukakan pintu. Seseorang muncul dibalik pintu.
“Alam.”
Aku langsung bangkit dari tidurku.
Alam duduk di sampingku. “Elo nggak apa-apa kan, Bis?” tanyanya dengan wajah yang terlihat khawatir.
Sebelum aku sempat bicara, ia sudah nyerocos ngomong. “Sori, Bis. Gara-gara gue Ilham jadi mukul lo. Ilham bilang kalau dia kesal karena lo nggak bisa bikin gue sama dia jadian. Dan gue juga nggak tahu kalau Ilham bakal senekat itu sampai mukulin lo segala”
Tunggu! Kenapa Ilham berbohong pada Alam. Kenapa dia nggak berterus terang saja tentang yang kejadian yang sebenarnya.
“Lo nggak perlu minta maaf, Al. semua nggak sepenuhnya salah lo. Kalau lo nggak suka sama Ilham. Gue nggak bisa maksain lo buat terima dia.”
Eunike menghampiriku dengan tergesa-gesa. “Kamu nggak apa-apa kan, Bis?” tanyanya sambil sibuk memeriksaku. Aku mendengus malas melihat Eunike yang sok perhatian padaku.
Lalu ia berbalik ke arah Alam. “Elo,” pekiknya dengan suara tinggi. “Pasti elo kan yang udah bikin Bisma kayak gini?” tuduhnya pada Alam dengan mengarahkan jari telunjuknya itu.
Alam segera menepis jari Eunike dari depan wajahnya, tak mau kalah ia pun balas membentaknya. “Heh, lo jangan sembarangan nuduh, ya!”
Eunike menatap Alam dengan mata melotot. “Beraninya lo ngebentak gue.”
Sebelum Eunike hendak melayangkan perkataan yang sepertinya akan memancing emosi Alam. Aku segera melerai mereka berdua.
“Kalian berdua apa-apaan, sih. Gue ini lagi sakit. Kenapa kalian malah ribut, bikin pusing kepala.” Aku melayangkan pandangan ke Eunike dan Alam secara bergantian. “Elo, Nik. Mendingan lo keluar, kedatangan lo itu Cuma bikin gue tambah pusing.”
“Tapi, Bis,” protes Eunike gusar.
“Keluar!” teriakku.
Eunike melongo menyaksikan diriku yang terlihat begitu galak. “Jahat banget sih kamu sama aku, Bis.” Setelah berkata begitu. Eunike akhirnya pergi.
Oke, mungkin aku sedikit keterlaluan karena sudah membentaknya. Tapi mau bagaimana lagi, Eunike sendiri yang sudah memancing emosiku. Kini hanya ada aku dan Alam. Suasana mendadak hening.
__ADS_1
“Sori, Al. lo juga keluar, ya. Gue lagi pengen sendiri,” pintaku.
Untunglah Alam tak banyak protes seperti Eunike. Ia segera melangkahkan kakinya meninggalkanku. Aku berbaring kembali dan akhirnya terlelap.
***
Matahari hampir tenggelam sebagian di Barat menandakan bahwa petang sebentar lagi akan datang.
Sore ini aku tengah duduk santai di teras rumah. Seseorang melempariku sebuah bola basket, aku mendongak dan tersenyum memandangi Rinjani yang berdiri berkacak pinggang di depanku.
“Sore-sore gini jangan dipake buat malas-malasan, Kak! Ayo, main basket sama aku.”
“Nggak, deh. Kakak lagi malas.” Aku balas melempar bola itu ke Rinjani, ia menangkapnya dengan sigap.
Rinjani terlihat cemberut sambil memonyongkan bibirnya. “Kakak payah, nih. Jangan mentang-mentang Kak Kia udah nggak tinggal di sini lagi terus Kakak jadi galau gitu.”
“Ini nggak ada hubungannya sama Alam, tahu! Ayo kita tanding.” Aku bangkit dari dudukku.
“Yang kalah traktir es krim, ya,” cengirnya.
Aku menyanggupinya. “Oke, siapa takut.”
Kami pun bermain dengan seru. Sesekali Rinjani berbuat curang, namun sama sekali tak membuatku marah. Saat di tengah-tengah keseruan kami, dari kejauhan aku melihat seorang wanita berlari menuju ke arahku. Astaga itu Yayu, ia terlihat tergesa-gesa menghampiriku.
“Bis, gawat,” katanya dengan napas ngos-ngosan.
Aku dan Rinjani pun segera menghentikan permainan kami.
Aku sedikit bingung. “Gawat apa, Yu?”
Yayu mengatur napasnya yang memburu, ia pun mengelap keringatnya yang membanjir. “Alam sedang dalam bahaya.”
Sontak aku langsung melepaskan bola basket yang tadi kurebut dari Rinjani. “Bahaya?” tanyaku berbarengan dengan Rinjani.
“Bahaya gimana?” Aku mengulangnya sekali lagi, dan entah mengapa suaraku terdengar panik.
Yayu terlihat sedikit merogoh kantong celananya, dan mengeluarkan sesuatu dari sana. Sebuah surat, ia pun memberikannya padaku.
Aku pun membacanya dengan saksama,
“Gue nggak tahu harus bilang ke siapa lagi. Karena Alam melarang gue buat lapor polisi. Dan gue udah janji.”
“Kakak harus selamatin Kak Kia.” Rinjani menatapku dengan pandangan sedih. Aku mengangguk setuju.
“Pasti, Jani. Kamu nggak usah khawatir. Kakak pasti akan selamatin Alam.”
__ADS_1
Aku menatap lurus ke depan. “Dasar bodoh! Bisa-bisanya dia rela membahayakan nyawanya sendiri demi orang yang bahkan nggak pernah menganggapnya ada.” Aku meremas surat itu dengan geram. Aku harus segera pergi menyelamatkannya. Tidak akan sempat jika harus melapor ke polisi. Langkah pertama yang harus kulakukan adalah menghubungi dua sahabatku untuk membantuku. Jika pun mereka menolak, aku akan tetap pergi sendiri meskipun itu akan membahayakan nyawaku demi orang yang kusayangi. Ya, aku sadar bahwa aku sudah menyayangi Alam ketika Ilham memintaku untuk membantunya jadian dengan Alam. Perasaan yang mengganjal di hatiku selama ini yaitu cemburu. Apa artinya kecemburuan jika kita tidak memiliki perasaan apa-apa. Tidak salah lagi bahwa aku memang benar-benar menyukai Alam.