
Sepulang sekolah aku langsung merebahkan diri di kasurku. Kuraih kotak musik berwarna hijau terang itu. Dan kembali mendengarkan alunan musiknya yang mampu menembus alam pikiran.
Tak terasa semakin lama mataku semakin berat. Ingin rasanya aku menutup mataku, namun aku takut mimpi itu datang kembali lagi. Aku menguap lebar beberapa kali, aku sangat ngantuk berat. Dan mata ini tak mampu menahan rasa kantuk ini hingga akhirnya menutup perlahan-lahan.
Aku terbangun dengan seragam sekolah yang masih kukenakan. Aku menghela napas bersyukur mimpi itu tak datang kembali. Kulirik jam, dan waktu sudah menunjukkan pukul 19.00. Tak terasa waktu sudah malam. Aku langsung bangkit dan bergegas untuk mandi.
Selesai mandi aku mendengar suara pintu rumah terbuka. Ya, dengan suasana sehening ini bahkan decitan pintu rumah yang letaknya berada di bawah pun bisa terdengar sampai ke dalam kamarku yang terletak di lantai atas. Aku segera turun untuk memastikan bahwa itu bukan maling.
Setelah sampai di bawah, terlihat Papa yang sedang berusaha mengangkat benda yang ukurannya setengah dari tubuh Papa. Sebuah guci antik. Dan terlihat bahwa ia sedikit keberatan oleh beban benda itu. Aku pun berinisiatif untuk membantunya. Membuktikan pada Papa bahwa aku juga bisa melakukan sesuatu yang berguna untuknya.
"Sini Kia bantu, Pa." Aku ikut mengangkat guci yang berada di pangkuan Papa.
"Nggak usah! Papa bisa sendiri. Lagian juga anak perempuan mana kuat sih angkat benda seberat ini," cibir Papa dengan nada jutek seperti biasa.
__ADS_1
"Kia bisa kok, Pa," kataku mencoba meyakinkan Papa bahwa aku juga bisa diandalkan, sambil berusaha merebut guci itu dari tangannya.
"Papa bilang nggak usah, ya nggak usah!"
"Nggak apa-apa, Pa. Kia kuat kok." Aku tetap bersikeras ingin merebut guci itu sampai akhirnya guci itu terlepas dari pangkuan Papa dan tanganku.
Prangg ... bunyi suara guci pecah itu memecah keheningan malam di rumah kami. Aku tahu kejadian yang bakal terjadi selanjutnya apa.
Wajah Papa terlihat memerah karena amarah. "Kamu ini ... kan Papa sudah bilang. Papa nggak butuh bantuan kamu. Jadi pecah kan gucinya. Ini tuh barang antik yang selama ini Papa mau. Dan kamu pecahin gitu aja. Memang benar ya, anak perempuan itu bisanya cuma nyusahin aja!" sembur Papa padaku.
"Kenapa sih ... kenapa Papa selalu membenci aku. Memangnya salah aku kalau aku dilahirkan sebagai anak perempuan? Kalau aku bisa memilih. Lebih baik aku tidak pernah dilahirkan," ucapku diikuti isakan tangisku.
Papa menarik napas. "Kamu tahu kan alasan sebenarnya kenapa Papa benci kamu? Gara-gara kamu, orang yang Papa cintai meninggal. Kalau Papa bisa memilih. Papa lebih memilih kamu tidak pernah lahir daripada Papa harus kehilangan orang yang paling Papa cintai." Mata Papa membulat. Ucapannya semakin lama semakin membuatku sakit. Setiap kata mampu menusuk hatiku.
__ADS_1
Mataku berkaca-kaca. Aku tak habis pikir bagaimana Papa bisa setega itu bicara padaku. Selama ini aku selalu berpikir bahwa suatu saat nanti sikap Papa padaku pasti akan berubah. Namun, dengan kejadian ini semua harapanku pun musnah seketika. Sepertinya sampai kapan pun Papa memang tak akan pernah bisa menerimaku sebagai anaknya.
"Aku minta maaf karena aku sudah dilahirkan." Setelah berkata begitu, aku langsung berlari menjauhi rumah sambil mengusap air mata di pipiku. Terus berlari tanpa tahu arah mana yang akan kutuju.
Tuhan, jika kebahagiaan itu ada dalam hidupku. Kapan Engkau akan menunjukkannya padaku. Jika pun tidak ada, tolong kasih aku sedikit saja kebahagiaan. Aku ingin sekali saja merasakan bahagia itu seperti apa rasanya. Mama ... kenapa kau melahirkanku jika aku hanya akan jadi beban untuk Papa?
***
Aku berjalan dengan gontai di sepanjang jalan. Sekarang aku harus ke mana? Aku nggak mungkin kembali ke rumah itu lagi. Karena mulai sekarang rumah itu bukanlah rumahku. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah bisa diterima di rumah itu. Pandanganku mulai kabur terhalang oleh air mata yang mulai kembali mengalir.
Di depanku mulai terlihat taman kompleks. Ternyata aku berlari terlalu jauh. Aku duduk di bangku taman. Melamun dengan kesendirian. Aku menengadah menatap cahaya bulan yang terang menyinari langit malam. Mungkinkah malam ini aku akan tidur di sini. Mataku yang sembab mulai sedikit membengkak.
Semilir angin malam yang cukup membuatku menggigil kedinginan walaupun sudah mengenakan jaket tebal. Untunglah aku mengenakan pakaian dan celana panjang. Tapi aku tetap saja merasa kedinginan.
__ADS_1
Aku berbaring miring di atas bangku. Semoga hujan tidak turun malam ini. Perlahan aku pun mulai memejamkan mata. Tapi telingaku menangkap sebuah suara yang memanggil namaku. Aku pun terbangun ketika menyadari bahwa sosok itu adalah Bisma ....