
Film yang sangat bagus. Aku menikmati setiap adegan demi adegan. Tapi aku merasa sedikit keganggu dengan sikap Ilham yang sedari tadi aneh banget. Entah sengaja atau tidak, beberapa kali Ilham kupergoki memegang tanganku.
Setelah nonton, Ilham mengajakku keluar untuk menyaksikan pesta kembang api, jangan tanya ada acara apa, aku pun tak tahu.
“Di sini setiap malam minggu emang suka nyalain kembang api,” jelas Ilham tanpa kuminta.
Waw, aku baru tahu ternyata ada bioskop yang seperti itu. Yah, maklum selama ini aku memang jarang pergi ke luar, apalagi di malam hari seperti ini. Mataku memantulkan sinar kembang api yang menyala di atas langit.
“Cantik, ya,” ujarnya sambil memandang ke langit. Lalu ia menengok padaku. “Al, ada sesuatu yang mau gue omongin ke elo.”
“Apa?” tanyaku tanpa memalingkan wajah padanya.
“Tentang perasaan gue yang sebenarnya,” sontak saja itu membuatku langsung menoleh ke arahnya.
Ilham memegang tanganku, otakku masih belum bisa mencerna apa yang akan terjadi selanjutnya. ”Gue suka sama lo, Al.”
Mataku terbelalak setelah mendengar pengakuan Ilham barusan. “Elo jangan bercanda, Ham!” Dengan perlahan aku melepaskan pegangan tangan Ilham.
“Gue serius, Al,” tegasnya.
Astaga, kenapa aku harus mendengar pengakuan ini dari Ilham? Kenapa bukan Bisma yang mengatakannya.
“Dan sebenarnya orang yang kirim bunga ke elo itu gue.”
Aku tak habis pikir, bagaimana bisa Ilham yang melakukannya.
“Elo mau kan jadi cewek gue?”
__ADS_1
“Sori, Ham.” Aku menelan ludah. “Gue nggak bisa. Gue nggak punya perasaan apa-apa sama lo. Gue cuma anggap lo sebatas teman doang, nggak lebih,” tolakku halus. “Lagipula elo kan tahu gue sukanya sama siapa?”
"Ya, gue tahu kok. Tapi kan Bisma nggak suka sama lo. Kenapa lo masih terus suka sama dia?"
"Ham, cinta itu nggak selalu mengharapkan balasan. Cukup mencintai tanpa perlu dicintai aja itu udah cukup bagi gue. Asal gue bisa dekat sama Bisma terus. Sori, Ham. Lo emang baik. Gue hargai keberanian lo. Tapi gue nggak bisa terima lo," jelasku sambil tersenyum prihatin.
Ilham menghela napas panjang, terdengar seperti deru napas kekecewaan. ”Nggak pa-pa, Al. Tapi, lo masih mau jadi teman gue, kan?” Ilham tersenyum memandangku.
Aku mengangguk setuju. “Tentu saja.”
Setelah kejadian itu, kami memutuskan untuk pulang, karena malam juga sudah sangat larut.
Di sepanjang jalan hanya ada keheningan di antara kami.
“Thank's ya, Ham.” Aku melambaikan tangan padanya ketika kami sudah sampai di rumah Bisma. Ilham hanya tersenyum lalu pergi melajukan mobilnya menjauh dariku.
Saat melewati kamar Bisma, aku tak sengaja melihat pintunya yang setengah terbuka membuat celah kecil di sela-sela pintu.
“Bis, lo belum tidur?” Kudorong pintu lebar dan melongok ke dalam. Seketika tubuhku membeku. Mataku terbelalak menatap pemandangan di depanku. Sedetik kemudian kurasakan wajahku panas.
“Eekh … mmm … maaf.” Aku mundur ke pintu lagi. Kepalaku tiba-tiba pusing. Tak menyangka bakal memergoki kejadian seperti ini.
Bisma sedang melepaskan pelukan Eunike, wajahnya terlihat malu. Dia tak mengucapkan apa-apa. Eunike yang menoleh, wajahnya merah padam. Marah.
“Hei, lo nggak punya sopan santun ya? Masuk gitu aja ke kamar orang tanpa mengetuk pintu. Mau ngintip? Pintu di pasang untuk diketuk, tahu nggak? Jadi cewek punya etika dikit dong! Bukannya main selonong gitu aja.”
“Nik!” Bisma terlihat terkejut mendengar ucapan Eunike.
__ADS_1
Aku terdiam serba salah. Sebelah kakiku di ambang pintu dan sebelah lagi masih di kamar.
“Aku … tadi sudah mengetuk .…”
“Ah, gue ngga percaya!” sergah Eunike murka. Dia menoleh ke Bisma. “Dia suka sok lugu. Jangan tertipu olehnya, Bis.”
“Jangan konyol, Nik.” Bisma mengangkat tangannya untuk menghentikan perkataan Eunike. Dia menjauhkan diri dari Eunike.
Aku menatap mereka dengan pucat.
“Maaf … aku sungguh-sungguh nggak sengaja. Aku tak tahu kalau kalian ada di dalam. Kulihat pintunya terbuka, jadi aku pikir .…”
“Meski pintu terbuka, lantas lo boleh nyelonong ke dalam gitu! Dasar cewek lancang.”
“Cukup!” Bisma bersuara keras. Eunike melotot pada cowok itu. Wajahnya yang tadi merah padam semakin terlihat jelek.
“Lo nggak boleh sekasar itu padanya, Nik. Lagian Alam nggak sengaja. Dan dia sudah minta maaf.”
Aku tertunduk menatap karpet di depanku. “Sori …” kataku lagi. “Aku benar-benar minta maaf … permisi.” Aku pun segera berbalik dan kabur dari sana.
Aku berlari dan terus berlari tanpa mengindahkan panggilan Bisma yang sedari tadi meneriaki diriku dari belakang. Sampai akhirnya suara itu perlahan-lahan memudar hingga tak terdengar lagi. Aku menengok ke belakang, Bisma sudah tidak terlihat mengejar-ngejar aku lagi.
Aku berhenti dengan napas ngos-ngosan di barengi tangisku yang akhirnya pecah. Aku nangis sejadi-jadinya di jalanan.
Tuhan, sesakit inikah rasanya jatuh cinta. Jika tahu bakal sesakit ini, aku akan lebih memilih untuk tidak pernah mengenal cinta. Kenapa aku tidak bisa merasakan sedikit saja kebahagiaan dalam hidupku. Apakah aku ditakdirkan untuk sengsara. Jika aku hidup hanya untuk merasakan kepahitan dalam hidup, untuk apa aku dilahirkan.
Sesekali aku mengusap air mata yang jatuh di pipiku sambil sesekali terisak-isak. Lalu beberapa menit aku terdiam, aku menatap langit gelap. Hanya ada satu-dua bintang, itu pun kecil dan jauh letaknya.
__ADS_1
“Sekarang aku harus ke mana?” tanyaku pada diriku sendiri. Aku memejamkan mata, sekilas terbayang wajah Yayu. Ya, mungkin aku akan minta bantuan dari Yayu. Semoga saja Yayu mau menolongku. Aku pun segera melangkahkan kakiku menuju rumah Yayu.