
Mentari pagi bersinar di ufuk timur, cahayanya yang mulai silau karena hari sudah mulai beranjak menuju pukul 08.00. Namun udara sejuk masih terasa di pernapasanku.
Aku melakukan gerakan-gerakan senam kecil untuk meluruskan otot-otot ditubuhku. Setelah selesai melakukan aktivitas tersebut. Aku segera meraih minuman yang terletak di atas meja yang berada dekat di sampingku. Ekor mataku tak sengaja menangkap bayangan sosok perempuan yang sedang mengintip di balik pintu kaca. Sebenarnya aku tahu sosok itu siapa. Hanya saja aku pura-pura nggak tahu sampai akhirnya adikku Rinjani mengagetkannya dari belakang. Ya, dia adalah Alam. Meskipun aku tahu ia tak sengaja lewat lalu melihat ke arahku, namun aku tetap saja menggodanya. Menuduhnya bahwa ia sedang mengintipku, melihat ekspresinya yang begitu membuat ia terlihat sangat lucu. Andai penampilannya seperti perempuan normal, mungkin aku akan segera jatuh cinta padanya. Meskipun berpenampilan seperti laki-laki. Wajahnya yang manis tidak menutupi keanggunannya sebagai seorang perempuan. Dan entah sejak kapan aku mulai menyadari bahwa dia memang manis.
Aku pamit pergi ke kamarku, aku harus segera mengenakan baju dan bersiap-siap untuk pergi karena jam 09.00 aku akan ada pertandingan futsal bersama teman-teman. Rinjani merengek kepadaku meminta agar dia dan Alam diperbolehkan ikut menontonku. Mana mungkin aku bisa menolak permintaan adik kesayanganku. Bahkan aku pun rela jika harus mempertaruhkan nyawaku untuknya.
Kuraih ransel yang menggantung di balik pintu. Dan mengambil kunci mobil di dalam laci lemariku. Rinjani dan Alam sudah menungguku di mobil.
Kami tiba di parkiran. Tempat futsal biasa aku main letaknya tak jauh dari kompleks kami. Setelah turun dari mobil kami segera masuk ke dalam. Di sana sudah ada Dicky, Ilham dan teman-temanku yang lainnya.
"Kok Alam bisa bareng sama lo?" tanya Dicky ketika aku duduk di sampingnya. Ya, Rinjani dan Alam nggak ikut masuk ke area lapangan. Mereka hanya duduk di kursi penonton yang terletak di luar lapangan. Hanya dibatasi oleh jaring besi yang menjulang ke atas.
"Iya tadi dia ketemu sama adik gue di jalan. Mereka kan temenan."
"Oh, ya. Sejak kapan? Kok bisa?"
"Elo kok kepo banget sih, ****," cibirku.
__ADS_1
"Gue kan cuma pengen tahu doang," jawab Dicky dengan wajah bete.
"Lo ngapain sih, Bis. masih deketin si Alam?" Kini Ilham yang bertanya.
Kadang aku selalu berpikir, apakah Kedua koncoku ini punya cita-cita menjadi seorang wartawan gosip yang kerjanya kepoin hidup dan urusan orang.
"Kan gue udah bilang mulai sekarang Alam itu teman kita."
"Tapi, gue nggak suka lo deket dia … maksud gue kenapa lo tiba-tiba pengen jadi teman dia?"
"Mungkin si Ilham cemburu kali kalau lo sama Alam temenan, kan otomatis kalian berdua akan dekat tuh. Apalagi dengan wajah lo yang lebih keren daripada Ilham, cewek mana sih yang nggak terpesona sama wajah lo."
"Eh, elo kalau ngomong jangan sembarangan," kata Ilham sambil mengusap muka Dicky.
"Apaan sih lo, Ham," Dicky memalingkan mukanya. "Tangan lo bau tuh!" Sesekali Dicky mendengus kesal.
Spontan Ilham langsung mencium tangannya sendiri. Kemudian ia mengernyit. "Sori, ****. Tadi gue abis pegang kaos kaki belum cuci tangan." Kemudian ia nyengir tanpa wajah berdosa.
__ADS_1
"Gila lo, Ham. Huekk ..." kata Dicky sambil bergidik jijik dengan tangan memegang perut pura-pura mau muntah.
Aku hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat tingkah dua orang koncoku yang kocak itu.
"Walaupun beneran lo suka sama Alam. Lo tenang aja, Ham. Alam itu bukan tipe cewek yang gue suka. Lo kan tau selera cewek yang gue suka kayak gimana?"
"Bis, minum lo ketinggalan." Tiba-tiba sebuah suara mengejutkanku dari belakang.
Ya ampun, kudapati Alam yang berada tepat di belakangku hanya terhalangi oleh jaring besi. Aku mendadak kikuk. Apakah Alam mendengar ucapanku barusan. Tapi, untuk apa aku memikirkannya. Aku kan berkata apa adanya bahwa Alam memang bukan tipe cewek yang aku suka. Tapi, tetap saja aku takut menyakiti perasaannya. Tak enak hati jika itu sampai terdengar olehnya. Ia tersenyum sambil menyodorkan sebotol minuman padaku melewati lubang lumayan besar yang memang sengaja dibuat.
"Oh, thank's, ya."
"Sama-sama." Setelah berkata begitu, ia kembali ke tempat duduknya bersama Rinjani.
Beberapa menit lagi permainan akan segera dimulai. Kami siap-siap melakukan pemanasan bersama-sama.
Melakukan gerakan-gerakan menendang bola dengan pelan ke samping kiri dan kanan secara bergantian. Dan beberapa kali mengoper ke teman-teman yang lain.
__ADS_1