MY HANDSOME GIRL

MY HANDSOME GIRL
BAB 21 *POV BISMA JAWHARI


__ADS_3

Suara ayam berkokok menandakan hari sudah pagi. Aku menatap mentari pagi yang sinarnya tak terlalu menyilaukan mata. Tentu saja karena ini masih pukul 05.30.


Aku memulai hari seperti biasa, di awali dengan gerakan-gerakan kecil untuk membuat tubuhku tetap bugar. Di beranda rumah aku melihat Alam yang sedang menyiram tanaman. Kegiatan itu sering ia lakukan setiap pagi.


Ya, Sudah sebulan Alam tinggal di rumahku. Semenjak kejadian malam itu, aku menawarkannya untuk tinggal di rumahku sementara waktu--tentu saja mana mungkin Alam tinggal disini selamanya, kecuali ... kecuali jika aku menikahinya. Pasti ia akan tinggal di sini bersamaku selamanya. Aku segera menepis pikiran itu. Apa sih yang sedang aku pikirkan. Mengapa aku berpikir sampai sejauh itu.


"Hei, sudah bangun?" tanyanya sambil menyunggingkan senyumnya yang--jujur terlihat sangat manis. Andai saja penampilan Alam normal seperti perempuan yang lainnya. Pasti tak perlu waktu lama bagiku untuk berpikir dan menjadikannya kekasih.


"Bis, kok lo bengong?" ucapannya yang membuatku tersentak,


"Eh, nggak kok. Gue mau mandi dulu, ya." Aku pun bergegas masuk. Sial, pipiku pasti tadi kelihatan merah.


"Cie, ada yang salting, nih." Sebuah suara terdengar dari depan kamar Rinjani ketika aku melewatinya.


Aku membalikkan badan, mendapati Rinjani yang sedang berdiri sambil bersandar di tiang pintu dengan satu tangan dilipat di dada, dan tangan yang lainnya menopang dagunya.


"Apa sih anak kecil? Kamu mandi sana!"


Rinjani tak menuruti perintahku, kini ia berjalan perlahan ke arahku dengan gaya genitnya sambil semar mesem. "Kalau suka langsung bilang aja suka, Kak. Nanti kalau keduluan sama yang lain menyesal, lho," bisiknya.


"Apaan, sih kamu!" Aku mengacak-acak rambutnya yang berantakan jadi tambah berantakan.


"Ih, Kakak. Lepasin!" gerutunya sambil berusaha melepaskan tanganku dari kepalanya. "Dengar ya, Kakak sayang. Cinta itu harus cepat-cepat dinyatakan. Kalau nggak. Nanti keburu diduluin orang. Ujung-ujungnya menyesal. Terus nangis … galau deh akhirnya."


"Kamu tuh masih kecil. Tahu apa sih soal cinta?"


"Meskipun aku belum punya pengalaman apa-apa soal cinta. Setidaknya aku lebih peka dibandingkan Kakak … upsss …" Rinjani segera menutup mulutnya itu sebelum bicara sesuatu yang lebih jauh.


"Peka apa? Kamu udah punya pacar? Kok nggak bilang sama Kakak? Kamu masih SMP, jangan dulu pacaran!" Aku ngomel-ngomel pada Rinjani.


"Kak, udah siang nih. Aku mau mandi dulu." Dengan kecepatan kilat ia langsung masuk ke dalam kamar dan membanting pintu dengan keras.


Dasar, aku bergumam dalam hati. Dan tersenyum geli melihat tingkah Rinjani yang sepertinya sudah mulai menjalani tahap pubertas.

__ADS_1


Tapi, daripada itu. Aku memang sudah terlambat untuk menyukai Alam. Karena ada seseorang yang sudah mendahuluiku. Bahkan dia adalah orang yang selama ini selalu bersamaku.


***


"Bis, kira-kira Alam tahu nggak ya tentang perasaan gue?"


"Mana gue tahu. Gue kan bukan Alam," kataku sembari beberapa kali men-drible bola basket dan menjaganya agar tak direbut oleh Dicky. Dengan napas sedikit ngos-ngosan, aku melempar bolanya ke arah keranjang dan bola berhasil masuk. Yeah, aku bersorak. Ini yang ke 10 kalinya aku mencetak angka dari Dicky.


Dicky terlihat geram dan frustasi karena kalah telak dariku. Kami mengakhiri permainan dengan keringat membasahi tubuh. Aku menghampiri Ilham yang sedang duduk sambil menggigit daun ilalang yang entah dari mana didapatnya, dengan deru napas cepat. Dan duduk di sampingnya.


“Lo yakin, Ham, suka sama Alam?” Dicky ikut nimbrung di sampingku. Aku hanya duduk dan mendengarkan sambil menenggak air mineral yang kubeli tadi di kantin.


“Emang kenapa, sih?”


“Ya nggak apa-apa sih. Tapi kan cewek lain yang lebih oke dari Alam banyak,” tukas Dicky.


“Cinta itu nggak butuh perbandingan, ****. Gue nggak bisa ngebandingin setiap cewek untuk gue sukai. Kalau hati gue pilih Alam, ya gue nggak bisa berontak, dong.”


“Tapi, by the way, sejak kapan lo suka sama si Alam?”


Aku langsung menurunkan botol mineral yang kupegang. Dan diam sejenak. Ya, ucapan Ilham memang benar. Selama ini aku tak pernah berpikir untuk menganggap mereka sebagai sahabat. Aku hanya berpikir bahwa mereka adalah koncoku yang setia dan menuruti semua perintahku. Aku sadar, selama ini aku telah berbuat buruk pada mereka. Dan baru sadar ternyata seburuk itukah diriku. Dicky sudah terlihat was-was, takut jika aku akan mengamuk.


"Lo marah, Bis?" tanya Dicky pelan dan hati-hati untuk memastikan bahwa aku tidak marah.


Bukannya marah, alih-alih aku justru tersenyum pada mereka dan berkata, "Gue tahu kok, gue emang salah. Gue minta maaf udah bikin kalian berdua kesiksa selama ini. Mulai sekarang kalian nggak harus selalu nurut sama perintah gue. Kita kan sahabat."


Untuk beberapa saat Ilham dan Dicky saling berpandangan kemudian mereka pun tersenyum ke arahku.


“Oke, mulai sekarang kita jadi sahabat,” Dicky mengacungkan jari kelingkingnya.


“Apaan, sih lo, ****. Kayak anak kecil aja pake jari kelingking segala,” ejekku.


“Kan itu sebagai tanda persahabatan kita,” jawabnya polos. Aku dan Ilham hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan Dicky yang terkesan polos banget.

__ADS_1


“Tanda persahabatan pria yang sesungguhnya tuh kayak gini ...” Ilham mengajakku ber-hi-five diikuti gerakan-gerakan salaman yang biasa dilakukan anak laki-laki. Alhasil itu membuat Dicky diam melongo.


“Kok kalian bisa kompak gitu, sih? Kok gue nggak tahu?” tanya Dicky dengan tampang polos yang lebih tepatnya terlihat blo'on.


“Coba deh lo tanya telapak tangan lo kenapa bisa nggak tahu. Soalnya telapak tangan gue sama Bisma udah komunikasi supaya kompak,” kata Ilham dengan menahan tawa.


Dan benar saja Dicky menuruti perkataan Ilham yang sudah jelas tidak masuk akal. Ia mulai sibuk memandangi telapak tangannya sambil bergumam tak jelas.


Tentu saja-lah gerakan kita berdua kompak. Gerakan itu kan memang yang biasa sering dilakukan anak laki-laki. Aku dan Ilham cuek tak mengindahkan keluhan Dicky. Kami pun pergi meninggalkan dirinya yang sedang sibuk sendiri oleh telapak tangannya.


“Bis, waktu itu di ruang club drama gue nggak sengaja dengar kalau Alam nanya ke lo perihal bunga yang gue kasih ke dia. Kok dia bisa nanya ke elo, sih? Emang lo ada hubungan apa sama Alam?” Nada suara Ilham terdengar serius setelah di sepanjang jalan kita berdua tertawa atas keluguan Dicky. Mungkin sekarang dia baru sadar bahwa ternyata dirinya sudah dikerjai oleh Ilham. Dan kita telah meninggalkannya begitu saja di sekolah. Bukan bermaksud jahat, habisnya jadi orang polos banget sih, lagipula meskipun kita meninggalkannya, dia masih bisa pulang sendiri kok naik angkutan umum. Dia kan udah gede, udah bisa pulang sendiri.


“Kok pertanyaan lo gitu, sih, Ham?” tanyaku balik sambil fokus mengemudikan mobil.


“Ya, soalnya kenapa harus lo gitu. Kenapa nggak yang lain aja, misalnya dia nanya Dicky, ketua atau siapa gitu. Kenapa cuma nanya ke lo doang? Kalau ternyata Alam suka sama lo gimana, Bis?”


Aku tersenyum miring “Ya, nggak mungkin, lah. Lagian kalau pun dia suka sama gue, lo tahu kan kriteria cewek yang gue suka itu kayak gimana? Berbanding terbalik lah sama Alam. Lo tenang aja gue bukan orang yang suka makan teman. Gue sukanya makan pizza, burger ..." Aku membelokkan setir ke arah kanan sambil berpikir makanan apa lagi yang termasuk daftar makanan favoritku.


"Yeh, kalau itu sih gue juga suka kali," Ilham tersenyum lega, terdengar dari deru napasnya. "Berarti lo mau dong bantuin gue supaya jadian sama Alam? Lo kan tinggal serumah sama dia."


Aku pura-pura berpikir, menimbang-nimbang permintaan Ilham. "Mau sih, asal ada ini." Aku menggosok-gosok Ibu Jari dengan telunjuk mengikuti gaya para rentenir yang sedang menagih uang.


"Pelit lo. Masa sama sahabat sendiri perhitungan."


“Iya, iya gue bercanda. Gue mau kok bantuin lo,” kataku sambil tersenyum.


“Nah, gitu dong. Itu baru sahabat gue. Gue jadi makin sayang deh sama lo,” goda Ilham sambil mengelus daguku. Aku pun langsung menepis tangannya.


“Ih apaan sih lo. Jijik tau.“ Aku bergidik ngeri.


“Hahaha … sori, Bis. Kayaknya gue udah ketularan virus gilanya si Dicky.”


“Amit-amit … jangan sampai gue ketularan juga.” Aku mengetuk setir mobil beberapa kali. Lalu ke kepalaku secara bergantian hingga beberapa kali.

__ADS_1


Tawa kami pun meledak. Tapi entah mengapa ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Sesuatu yang sangat bertolak belakang dengan pemikiranku. Hatiku terasa sedikit panas. Aku Tak tahu apa yang membuatnya bisa sampai begitu.


__ADS_2