MY HANDSOME GIRL

MY HANDSOME GIRL
BAB 27 *POV ZASKIA ASSADIL ALAM


__ADS_3

Beberapa jam sebelumnya ....


Cinta adalah penderitaan. Jika kau tak ingin menderita, maka janganlah berani untuk jatuh cinta. Apalagi jika kau terlibat cinta segitiga dengan sahabatmu sendiri. Itu hanya akan merusak persahabatan yang belum tentu mendapatkan cinta yang diinginkan.


Aku mendengar kabar bahwa Bisma telah dipukul oleh Ilham, itu semua salahku. Mungkinkah Ilham memukulnya gara-gara Bisma sudah buat aku menangis. Aku pun langsung menghampiri Ilham dan berniat untuk menanyakan kenapa dirinya memukul Bisma. Dan ternyata alasannya adalah Ilham menyalahkan penolakanku karena menganggap Bisma yang gagal membuatku suka padanya. Begitulah pengakuan Ilham.


Pikiranku terus terbayang wajah Bisma.


“Kamu baik-baik aja kan, Al?” tanya Yayu yang berjalan disampingku mengikuti irama langkah kakiku. “Soalnya dari tadi aku perhatiin kamu di kelas bengong mulu.”


Aku mendengus pelan. “Aku baik-baik aja kok, Yu.”


“Benar nggak, tuh?” Yayu menatapku dengan penuh selidik. “Jangan-jangan ada hubungannya dengan masalah antara Bisma sama Ilham?”


Aku menarik napas pelan. “Iya, aku merasa bersalah banget gara-gara aku, Ilham jadi mukul Bisma karena Bisma gagal comblangin aku sama dia.”


Yayu mengkerutkan kening. “Tunggu, Al! Bukannya Ilham mukul Bisma gara-gara Bisma bikin kamu nangis?”


“Lho, kamu tahu dari mana?” Aku balik tanya.


Yayu memutar kedua bola matanya, “Ya ampun, Al. seisi sekolah juga tahu kamu nangis gara-gara liat Bisma sama Eunike … anu … mmm …” Yayu memoncongkan jari-jarinya lalu mendekatkannya. Dan aku tahu maksud Yayu itu.


“Jadi, Ilham sudah berbohong padaku?” gumamku. “Kamu tahu dari mana kalau seisi sekolah udah tahu, Yu?”


“Ya siapa lagi kalau bukan Eunike. Dia dengan bangganya cerita ke semua anak sekolah kalau dia berhasil bikin kamu patah hati.”


Aku memukul tanganku dengan pelan. “Anak itu emang benar-benar ya bikin aku gemes banget,” geramku. “Tapi kamu nggak bilang siapa-siapa kan kalau aku suka sama Bisma?”

__ADS_1


“Tanpa aku ngomong juga semua orang udah bisa menyimpulkan sendiri, Al.”


Ya ampun, itu artinya Bisma juga udah tahu dong kalau aku menyukainya, tapi kenapa saat bertemu tadi sikapnya biasa saja seolah itu tidak penting baginya.


“Berarti Bisma udah tahu soal perasaanku dong, Yu?” Aku melirik ke arah Yayu.


Yayu hanya mengedikkan bahunya. “Terus sekarang rencana kamu gimana? Aku dengar-dengar kabarnya kalau Ilham sekarang musuhan sama Bisma.”


Aku benar-benar tak habis pikir, hanya karena aku persahabatan mereka jadi hancur begitu. Padahal setahuku mereka bersahabat sudah lama. Dan sekarang aku menghancurkannya begitu saja dengan mudah. Aku juga tak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang.


“Astaga, Al. aku lupa,” Yayu menepuk pelan keningnya. “Buku aku ketinggalan di kelas. Yahhh, mana udah nyampe gerbang. Malas deh kalau harus balik lagi,” celetuknya dengan malas.


“Kamu duluan aja, Al. aku mau balik ke kelas dulu.”


“Ya udah deh aku duluan, ya. Takut telat masuk kerja juga, nih. Dah …” pamitku lalu beranjak pergi meninggalkan Yayu.


Bughh ….


Mendadak ada yang memukul bahuku, dan tentu saja itu membuatku tersungkur ke depan. Belum sempat menengok untuk melihat siapa pelakunya. Aku dihantam kembali oleh beberapa pukulan bertubi-tubi.


“Alam …” Seseorang meneriakiku.


Samar-samar aku melihat bayangan Yayu yang berlari ke arahku. Pandanganku semakin kabur, hingga akhirnya semua berubah menjadi gelap. Hanya ada aku dan kegelapan.


***


Aku mengerjap-erjapkan mataku lalu membukanya dengan perlahan.

__ADS_1


Ughh … aku meringis merasakan sakit di bagian wajah dan perutku. Sial, wajahku mulai melebam akibat dipukul bertubi-tubi tadi oleh orang yang tak kukenali (atau mungkin saja aku mengenalinya tapi aku belum sempat melihat wajahnya). Kulihat Yayu yang sedang duduk di sampingku dengan cemas.


“Syukurlah, Al. kamu sudah sadar.” Yayu mengusap tanganku dengan lembut. “Sebenarnya tadi kamu dipukulin sama siapa, Al?”


Aku menggeleng lemah. “Entahlah. Aku juga nggak tahu.”


Yayu memandangku nanar.


“Oh, iya.” Tiba-tiba Yayu memecah keheningan. Lalu ia mengambil secarik kertas yang berada di saku bajunya. “Tadi sebelum kabur, preman itu menaruh surat ini di samping kamu.”


Aku mengkerutkan kening menatap surat itu. “Surat apa itu, Yu?”


Seketika itu juga wajah Yayu berubah menjadi suram. “Mendingan kamu baca aja sendiri, Al.”


Aku pun membaca surat itu diliputi rasa penasaran. Mataku terbelalak ketika membaca surat itu yang berisi tentang penculikan … Papa.


Papa diculik? Sama siapa? Dan aku baru mengetahui orang yang menculik Papa adalah preman yang dulu menganggu Rinjani yanh pernah aku kalahkan. Itu berarti tadi yang menyerangku adalah salah satu dari preman keparat itu. Sial, ternyata mereka ingin balas dendam padaku. Di akhir kalimat tertulis jika aku ingin Papa selamat, pada pukul 07.00 malam aku harus datang ke tempat yang tertera di surat itu sendirian tanpa ditemani oleh siapa pun. Termasuk polisi.


Aku mengepalkan tanganku penuh amarah. “Preman sialan. Berani-beraninya mereka menculik Papa. Aku harus pergi ke sana.”


Aku bangkit dari dudukku. Namun Yayu segera menghalangiku. “Jangan, Al. bahaya! Di tempat umum aja mereka berani hajar kamu. Apalagi di tempat sepi. Kamu bisa dibunuh, Al.”


“Aku nggak peduli, Yu. Lagi pula nyawa Papa lebih berharga bagiku.”


“Kenapa kamu mau membahayakan nyawa kamu sendiri demi orang yang bahkan nggak pernah anggap kamu sebagai anaknya?”


Aku menoleh ke arah Yayu. “Karena bagaimana pun juga dia tetap Papaku.”

__ADS_1


“Tapi, Al. kamu masih sakit," ucapan Yayu sama sekali tak kuhiraukan. Aku langsung segera menuju tempat yang di tunjuk surat itu. Sesekali aku memegang perutku yang masih terasa sakit. Tapi, aku tak memperdulikan rasa sakit itu. Yang terpikirkan olehku, semoga saja tak terjadi apa-apa pada Papa.


__ADS_2