My Highschool Sweetheart

My Highschool Sweetheart
KENAPA BISA DI SINI?


__ADS_3

Akhir pekan ini, diisi oleh Mia dengan berdiam di dalam apartemennya karena ia harus menyelesaikan skripsinya. Hanya dalam hitungan hari ia sudah harus mengumpulkan dan melakukan sidang akhir.


Mia memainkan jari jemarinya di atas tuts keyboard laptopnya. Sambil membolak balik buku dan beberapa referensi lain, ia merangkai kata demi kata. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore dan ia belum makan siang. Perutnya sudah berbunyi untuk minta diisi, akhirnya Mia menutup laptopnya dan berganti pakaian. Ia ingin keluar untuk mencari makanan sambil sedikit menyegarkan pikirannya.


Mia menuju ke lobby sambil tersenyum kepada semua orang yang ditemuinya. Ia selalu menjadi Mia yang dulu saat hatinya sedang senang, apalagi sudah tak ada Azka yang mengganggunya. Intensitas Azka mengirimkan pesan padanya juga sudah berkurang. Meskipun ia merasa ada yang kurang, tapi kehidupannya terasa lebih tenang.


"Sore!" sapa Mia kepada penjaga di depan pintu. Sebuah pintu kaca menjadi pembatas antara bagian dalam dan bagian luar apartemen.


Ia berjalan dengan tas selempang yang melintang di depan tubuhnya. Ia berjalan sambil bersenandung. Ia menemukan sebuah restoran kecil di sebuah gang dekat apartemennya dan terlihat bahwa restoran tersebut menyajikan masakan Indonesia. Selama ia tinggal di sana, baru kali ini ia melihatnya.


Mia pun melangkahkan kakinya memasuki restoran itu, sepi ... itu yang ia rasakan.


"Permisi," dengan sebelah tangan Mia membuka pintu tersebut.


Suasana yang sepi membuatnya tenang dan bisa kembali berpikir apa yang akan ia tulis dalam skripsinya. Mia hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk menghabiskan makanannya. Ia seperti benar benar menemukan makanan yang ia rindukan. Ia memegang perut dan mengusapnya berputar, menandakan ia telah kenyang, bahkan sangat kenyang.


Mia pun kembali ke apartemennya. Baru saja ia ingin membuka pintu, pintu apartemennya ternyata tidak terkunci. Mia memasukkan kepalanya sedikit untuk melihat keadaan di dalam apartemen, kosong.


Ahhh mungkin aku saja yang lupa menguncinya.- batin Mia sambil menepuk dahinya sendiri.


Ia pun segera masuk dan mengunci pintunya. Namun, semakin lama ia berada di dalam, kepalanya semakin lama semakin pusing. Ia merasa sulit bernafas dan memegang dadanya, hingga akhirnya ia ambruk.


*****

__ADS_1


Mia terbangun malam harinya. Matanya mengerjap sambil melihat ke sekeliling, tak ada siapapun.


"Apa yang terjadi?" gumamnya.


Pintu ruang rawat terbuka dan ia melihat Azka yang berada di sana, "Az ..."


"Akhirnya kamu sadar juga," ucap Azka.


"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya Mia.


"Tentu saja untuk menolongmu. Apa kamu mau mati di apartemenmu itu?"


Mia memegang kepalanya yang masih terasa pusing sedikit. Ia berusaha untuk duduk.


Mia melihat ke arah Azka yang sedang berdiri di pintu ruangannya, menunggu kedatangan dokter. Mia melihat kekhawatiran di wajah Azka.


"Cepat periksa dia," perintah Azka.


Dokter memeriksa dan bertanya beberapa hal pada Mia, "Nona Mia sudah tidak apa apa. Tapi saya menyarankan anda untuk beristirahat 1 hari di sini. Kami akan mengobservasi keadaan paru paru anda."


Mendengar ucapan dokter membuat Mia langsung duduk dengan tegap, "saya tidak apa apa Dok. Izinkan saya pulang. Saya berjanji akan meminum semua vitamin yang diresepkan."


Mia tak ingin Azka mengetahui kelainan paru paru yang ia miliki. Azka pasti akan memandangnya dengan rasa kasihan dan ia tak ingin dikasihani.

__ADS_1


Akhirnya dokter mengijinkan Mia untuk pulang dengan catatan ia benar benar akan meminum vitamin yang ia resepkan.


Azka membawa Mia pulang. Mereka turun di basement apartemen, Azka langsung meraih tangan Mia dan menuntunnya naik. Mia merasa jantungnya berdetak dengan cepat dan tangannya berkeringat.


Azka terus menarik tangan Mia hingga sampai di depan unit apartemen Mia, namun meeeka melewatinya.


"Az, itu ... itu apartemenku, hei!"


"Diamlah!" Azka terus menariknya hingga mereka sampai di sebuah pintu unit apartemen yang persis di sebelah unit apartemen milik Mia.


"Ini?"


"Masuk!" Azka mendorong Mia pelan untuk memasuki apartemen yang kini adalah miliknya. Ia sengaja membeli apartemen yang persis di sebelah Mia, hanya khusus untuk mengawasinya.


"Tapi aku harus menyelesaikan skripsiku, Az!" teriak Mia. Azka yang pusing dengan celotehan Mia langsung mengarahkan pandangan gadis itu ke arah meja di ruang tamu. Di sana sudah tertata rapi laptop serta buku dan kertas miliknya.


"Laptopku ... buku bukuku? Kenapa bisa ada di sini?" tanya Mia heran.


"Aku meminta orang memindahkannya. Apa kamu masih mau tinggal di apartemen itu? Aku sedang meminta teknisi untuk memperbaiki saluran gas nya. Apa kamu tidak tahu kalau gas mu itu bocor?" Azka kembali jengah dengan kecerobohan Mia.


"T-tapi Az."


"Malam ini, tidurlah di kamar itu. Aku juga sudah meminta orangku untuk memindahkan semua pakaianmu ke sana," ujar Azka.

__ADS_1


"Whattt???"


__ADS_2