My Highschool Sweetheart

My Highschool Sweetheart
KEDIPAN MATA


__ADS_3

Dokter Stuart melakukan pemeriksaan menyeluruh pada Mia. Ia memang tidak serta merta mempercayai catatan medis milik Mia. Ia selalu mengambil tindakan dari hasil pemeriksaan yang ia lakukan sendiri, di rumah sakit miliknya.


"Bagaimana?" tanya Azka dan kedua orang tua Mia.


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku akan melakukan operasi pada paru paru Mia dan kita akan lihat bagaimana hasilnya. Jika bisa sembuh, maka kita tidak memerlukan donor."


Kedua orang tua Mia saling bertatapan dengan tersenyum bahagia. Operasi dijadwalkan akan dilakukan dalam waktu 3 hari lagi, karena minggu depan Dokter Stuart harus mengisi sebuah seminar di Jepang.


*****


"Div, apa kamu mau menemaniku makan siang?" tanya Alvin. Diva tahu ia sudah terlalu sering menolak Alvin. Di dasar hatinya, ia ingin memulai semuanya dari awal, hanya saja kepercayaannya pada Alvin seakan tidak pernah tumbuh.


"Baiklah," untuk kali ini Diva akan mengikuti keinginan Alvin. Mungkin ia harus kembali membuka hatinya secara perlahan untuk Alvin. Jujur, ia mencintai Alvin, hanya belum bisa percaya pada hubungan ini. Ia takut Alvin kembali melakukan sesuatu yang menyakiti hatinya.


Mereka berdua memasuki sebuah cafe yang terletak di dalam sebuah mall. Diva lah yang menentukan pilihannya. Saat ini memang ia sangat membutuhkan pemandangan lain, karena ia sedang merasa bosan.


"Makan di sini?" tanya Alvin, yang kemudian diangguki oleh Diva.


Mereka duduk berhadapan di sebuah sofa yang berbatasan dengan luar, di mana mereka bisa melihat orang lalu lalang. Mereka memesan makanan dan Alvin membuka sedikit pembicaraan dengan Diva.

__ADS_1


"Apa kamu belum memaafkanku, Div?" tanya Alvin.


Diva menatap manik mata Alvin, ia tahu Alvin begitu serius meminta maaf padanya. Namun, ia takut bahwa apa yang Alvin lakukan selama ini hanya karena ia belum kembali pada pria itu. Jika mereka berhubungan lagi, apa sikap Alvin padanya akan tetap seperti ini?


"Aku sudah memaafkanmu. Hanya saja ... butuh waktu bagiku untuk percaya seutuhnya padamu. Aku takut semuanya akan terulang kembali dan itu sangat menyakitiku."


Alvin langsung merengkuh tangan Diva, "Katakan padaku, apa yang harus kulakukan agar kamu bisa percaya lagi padaku? Aku benar benar tak akan menyakitimu lagi."


"Aku belum tahu, tapi aku akan memberi kesempatan padamu agar kita bisa kembali dekat, meskipun status kita hanya sebagai teman," ucap Diva.


"Tidak apa, aku akan menerima itu. Aku pastikan akan mendapatkan cintamu kembali dan kali ini aku tak akan melepaskannya."


"Emma!" Diva langsung bangkit dan memeluk Emma.


"Hei, kenapa kelakuanmu seperti anak kecil," ujar Emma.


"Aku merindukanmu, kenapa kamu tidak pernah ke rumah?"


"Bagaimana aku bisa mengunjungimu kalau kakakmu selalu memberikanku pekerjaan yang bertumpuk. Sebaiknya kamu menasehati kakakmu itu agar sekali sekali bisa memberikan aku waktu untuk berlibur," ungkap Emma kesal. Emma bisa menuangkan semua isi hatinya pada Diva karena mereka memang terbilang dekat.

__ADS_1


Emma menoleh ke arah Alvin. Sebenarnya ia sudah merasa lelah harus meminta seseorang mengawasi mereka berdua. Oleh karena itu, ia akan melakukan caranya sendiri. Menunggu itu terlalu lama, kita harus bergerak jika ingin tahu hasilnya dengan cepat.


"Apa aku boleh bergabung denganmu, Div?" tanya Emma.


"Tentu saja, lagipula akan terasa menyenangkan bisa makan siang bersamamu. Apa kamu sendirian saja?"


"Ya, jam makan siang adalah jam kebebasanku ... kalau kakakmu itu tidak ada meeting di luar," jawab Emma.


Alvin melihat mereka berdua dan merasa bahwa Diva melupakannya. Ia melihat ke arah Emma, wanita dengan kacamata berbingkai hitam dan rambut dikuncir kuda. Emma tahu bahwa Alvin memperhatikannya, ia sedikit menoleh dan mengedipkan sebelah matanya ke arah pria itu.


Emma memesan makanan dan makan siang bersama dengan mereka. Ia berbincang dengan Diva dan sekali sekali ia melemparkan pertanyaan pada Alvin.


"Aku harus kembali, atau kakakmu itu akan berteriak memanggil namaku," ucap Emma.


"Baiklah, weekend ini jika kamu ada waktu, mainlah ke rumah. Aku menunggumu," ucap Diva.


"Okay, sweety!" Sebelum pergi, Emma menoleh dan menurunkan kacamatanya, kemudian kembali mengedipkan matanya ke arah Alvin dan tersenyum.


Emma mengangkat teleponnya, "Tetap rekam semua kejadian tadi dan jangan berhenti hingga mereka keluar dari cafe. Mengerti?!"

__ADS_1


Emma keluar dari cafe sambil tersenyum smirk. Seharusnya ia melakukan ini sedari awal sehingga masalah ini tidak berlarut larut.


__ADS_2