
Penerbangan selama 22 jam membuat tubuh Emma sedikit kaku. Tak banyak yang ia lakukan selain tidur, tidur, dan tidur. Belakangan ini aktivitasnya banyak menguras energinya, mulai dari mempersiapkan pernikahan atasannya, hingga harus mengawasi Alvin. Ia juga harus teris mencoba untuk menghindar dari Billy sejak kejadian malam itu.
Emma langsung beristirahat di sebuah hotel yang tak jauh dari bandara. Ia akan merenggangkan tubuhnya terlebih dahulu setelah hampir seharian berada di dalam pesawat. Udara pagi di Auckland membuatnya menikmati matahari yang saat ini bersinar terang.
Ia mematikan ponselnya dan mengaktifkan ponsel khusus miliknya sendiri yang tak ada yang tahu. Ia akan menggunakannya sebagai GPS dan alat berfoto. Emma berdiri di balkon hotelnya dan merentangkan tangannya, "Holiday, this is me," Emma tersenyum sambil membiarkan wajah dan tubuhnya terkena terpaan angin.
Keesokan harinya, dengan menggunakan pakaian lengkap seperti celana panjang, sweater dan topi serta tas yang melintang di tubuhnya, ia menuju ke Danau Pukaki di sekitar pegunungan Alpine. Ia juga nembawa tas ransel yang berisi perlengkapan dan keperluan berkemah.
Danau Pukaki merupakan danau yang indah, danau ini memiliki air yang berwarna biru yang sangat jernih, selain kejernihan danau Pukaki, ia juga dilengkapi dengan bunga-bunga lupin dan background Mount Cook berselimut salju turut serta menjadikan danau ini terasa menakjubkan.
Sambil menikmati pemandangan yang indah, Emma menyesap kopi yang baru saja ia buat. Ia menekuk kedua kakinya menempel di dada dan memeluk dengan tangan kiri, sementara tangan kanan ia gunakan untuk memegang secangkir kopi.
"Apa kamu akan terus melarikan diri dariku?" sebuah suara seperti menyadarkan Emma dari lamunannya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Emma ketika melihat Billy yang duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Tentu saja untuk menemanimu, calon istriku."
ckkk ....
Emma berdecak kesal. Ia masih mengingat saat Billy pergi bersama seorang wanita, bahkan memeluk pinggang wanita itu.
"Apa kamu tidak ada pekerjaan hingga mengikutiku?" tanya Emma lagi.
"Daddy yang akan menggantikanku. Mommy pun menyetujui liburanku kali ini karena ia ingin secepatnya melihatku menikah. Apa kamu tidak ingin menikah denganku?" tanya Billy.
"Sudah kukatakan aku tak pernah mengkhianatimu. Aku mencintaimu, Emma Wattson."
"Apa kamu pikir aku akan mempercayai semua perkataanmu sementara apa yang kulihat bisa menjelaskan semuanya?"
"Emma, lihat dan dengarkan aku," Billy memutar tubuh Emma agar menghadapnya, kemudian memegang bahu wanita itu, "Aku tak pernah mengkhianatimu. Malam itu aku hanya bertemu klien bisnis Dad dan ia membawa putrinya. Mereka berencana untuk menjodohkanku dengan putri mereka. Tapi aku menolaknya, aku mengatakan pada mereka bahwa aku sudah memiliki seorang kekasih. Percayalah padaku."
__ADS_1
Emma menatap dalam manik mata coklat milik Billy. Ia berusaha mencari kebohongan di sana, namun tak ada. Ia memutar kembali tubuhnya dan melihat ke arah hamparan bunga di tepi danau, mencari ketenangan.
Billy menyandarkan wajahnya di pundak Emma, "Bolehkah aku di sini bersamamu?"
Langit sudah mulai sedikit gelap, tak mungkin Emma mengusir Billy pergi, "terserah padamu."
Selang beberapa waktu, Emma masuk ke dalam tenda miliknya. Ia merebahkan tubuhnya dan mengambil selimut. Udara di sana terasa dingin, apalagi malam hari. Ia memeluk dirinya sendiri, berusaha mengusir dinginnya udara malam. Ia tak menyangka akan sedingin ini, padahal ia sudah menggunakan jaket tebal.
Di luar tenda, Billy terus membakar kayu bakar yang tersisa. Ia juga memeluk dirinya dan menghadapkan telapak tangannya ke arah api, untuk menghangatkan diri. Waktu sudah tengah malam, suasana sudah mulai sepi, api sudah mulai padam. Billy pun membuka tenda milik Emma dan melihat Emma yang tertidur meringkuk. Ia segera mendekat dan memeluk wanita itu.
Billy membuka jaket yang ia kenakan, kemudian menyelimuti Emma. Ia tak ingin Emma kedinginan. Emma terbangun karena gerakan Billy. Ia melihat jaket Billy menyelimuti dirinya agar ia merasa hangat.
"Dasar bodoh! Menyelimuti orang lain dan membiarkan dirinya sendiri kedinginan," gerutu Emma. Namun, hal itu membuat Emma tersenyum, hatinya menghangat. Ia menoleh ke arah Billy yang sedang tertidur, kemudian memberikan jaket Billy kembali.
Emma memeluk tubuh Billy dari belakang, membuat Billy yang belum tertidur tersenyum. Ia langsung memutar tubuhnya menghadap ke arah Emma. Mata mereka bertemu, kemudian Billy mendaratkan ciuman di dahi Emma, "Aku mencintaimu."
__ADS_1
Mereka saling berpelukan dengan erat, saling memberi kehangatan di antara mereka.