
Azka akan menghadapi ujian tesisnya hari ini. Ia telah bersiap dengan kemeja dan jas miliknya. Mia menyiapkan semua keperluan Azka, bahkan ia juga bangun sangat pagi untuk menyiapkan sarapan untuk suaminya itu.
"Terima kasih sudah menyiapkan sarapan untukku," Azka mengusap pucuk kepala Mia san Mia pun tersenyum.
Morning sickness yang dialami oleh Mia sudah jauhberkurang dibandingkan pertama kali. Ia hanya akan mual jika mencium bau bau tertentu, tapi akan segera hilang jika Azka berada di sampingnya.
Usia kehamilan Mia kini sudah mencapai 11 minggu, namun perutnya belum terlalu terlihat menonjol.
"Apa kamu mau menemaniku ke kampus?" tanya Azka.
"Tidak. Aku tak ingin membuatmu repot di sana. Berkonsentrasilah pada ujian tesismu, aku mendoakanmu dari sini. Segeralah pulang karena aku dan anak kita menunggumu."
Azka mencubit hidung Mia, "aku akan segera kembali, aku berjanji. Beristirahatlah, nanti aku akan membelikanmu makan siang.'
Akhirnya Azka pergi ke kampus untuk melakukan sidang tesisnya. Ini adalah langkah terakhir sebelum Azka meraih gelar masternya dalam bidang bisnis manajemen. Setelah kepergian Azka, Mia membereskan peralatan makan dan peralatan masak yang akan ia cuci. Perlahan ia sudah mulai terbiasa dengan semuanya. Ia ingin menjadi seseorang yang berguna bagi Azka, tidak hanya tidur dan makan saja.
*****
__ADS_1
Alvin mengajak Diva ke sebuah toko perhiasan di dalam sebuah Mall. Mereka akan membeli cincin pernikahan mereka. Acara pernikahan mereka akan diselenggarakan dalam waktu 1 bulan dari sekarang. Mereka terlihat sangat bahagia.
"Kami ingin melihat koleksi cincin pernikahan," ujar Alvin.
Sang pramuniaga tersenyum kemudian berjalan menuju salah satu rak kaca dan mengeluarkan beberapa cincin pernikahan yang terlihat begitu indah.
"Pilihlah, yang mana yang kamu sukai," ucap Alvin pada Diva.
Diva melihat ke arah cincin yang terlihat berjejer di dalam kotak dengan alas berwarna hitam, yang semakin memperlihatkan betapa berkilaunya cincin cincin yang berada di sana. Namun, ia melihat cincin cincin tersebut terlalu berkilau karena batu yang dimiliki terlalu besar.
"Apa tidak ada yang lebih kecil?" tanya Diva.
"Aku tidak suka. Aku lebih suka cincin dengan batu yang kecil saja, terlihat lebih cantik. Jika ingin sesuatu yang besar, aku hanya ingin cintamu yang besar," jawab Diva.
Alvin tersenyum dan berbisik, "Cintaku akan jauh lebih besar dari yang kamu kira. Kamu menerimaku apa adanya, aku sangat berterima kasih."
Akhirnya mereka memilih cincin dengan mata yang kecil, namun terlihat sangat elegan. Mereka meminta untuk mengukirkan nama mereka berdua di ring bagian dalam cincin tersebut.
__ADS_1
Diva tak pernah menyangka bahwa ia dan Alvin akan menikah, apalagi sejak kejadian itu. Ia sangat berharap Alvin selalu mencintainya dan tak akan pernah berpaling ataupun terjebak dalam situasi yang tidak mengenakkan.
*****
Selama 1 bulan ini, Emma sangat menikmati liburannya. Billy menemaninya kemana pun ia pergi. Mereka seperti tak terpisahkan.
Liburan mereka tinggal beberapa hari lagi. Pagi ini, Emma terbangun dengan kepala yang sangat sakit hingga ia tak mampu beranjak dari tempat tidur. Saat ia ingin bangun untuk minum air putih, namun perutnya seakan diaduk hingga ia langsung berlari ke kamar mandi dan mengeluarkan semua isi perutnya.
15 menit sudah ia berada di dalam kamar mandi, hingga ia terduduk di samping bathtub dan menyandarkan tubuhnya. Ia sangat lelah sekali, apalagi kepalanya terasa sangat pusing. Rasanya untuk kembali ke atas tempat tidur saja ia tak sanggup. Emma menengadahkan kepalanya dan menjadikan pinggir bathtub sebagai bantalan kepalanya. Ia memejamkan matanya agar sakit kepalanya tak terlalu terasa.
Di luar pintu, Billy sudah mengetuknya berkali kali, namun tak ada jawaban dari Emma. Awalnya ia biasa saja, tapi semakin lama ia jd semakin khawatir karena tidak biasanya Emma tertidur hingga siang hari.
"Em!! Apa kamu baik baik saja?" tanya Billy sambil terus mengetuk pintu kamar Emma.
Setelah pulang dari berkemah di pinggir danau dengan pemandangan Mt.Cook, Emma memutuskan pindah mencari apartemen kecil untuk tempat tinggalnya selama di New Zealand. Dan Billy yang tak tahu malu malah ikut bersamanya tinggal di dalam apartemen yang sama meskipun mereka tetap tinggal berbeda kamar.
"Emm!!" Billy tetap berusaha memanggil Emma. Akhirnya karena merasa ada sesuatu yang telah terjadi, Billy pun mendobrak kamar Emma. Ia melihat tempat tidur Emma kosong, langsung menuju ke kamar mandi.
__ADS_1
Billy melihat Emma sedang bersandar di tepi bathtub dengan mata terpejam, "Em, bangunlah!"