
"Billy ... ahhh!!" Billy terus menghentakkan pinggulnya hingga ia mencapai puncak bersamaan dengan wanita yang kini berada di bawahnya.
Billy mengecup dahi Emma, "Maaf karena aku memaksamu, tapi hanya dengan cara ini aku bisa membuatmu tetap berada di sampingku. Aku akan segera menikahimu."
Billy merebahkan tubuhnya di samping Emma dan memeluk wanita itu. Sebenarnya Billy melihat saat Emma memasukkan sesuatu ke dalam minuman Alvin, karena itulah dirinya langsung menyambar dan menegak habis minuman itu.
Emma tak mungkin menyakiti orang lain, jadi yang ia pikirkan adalah obat tersebut berisi obat tidur ataupun obat perangsang, tak mungkin racun atau semacamnya yang berakibat fatal.
Ketika merasakan panas di tubuhnya, Billy berpura pura meminta minum kepada bartender. Toleransi alkoholnya memang rendah, sehingga ia akan dengan mudah menjadi mabuk. Namun, kesadaran masih ia miliki ketika seorang wanita menghampirinya. Ia menggoda wanita itu hanya ingin membuat Emma cemburu, dan benar saja ... mantan kekasihnya itu langsung membawanya pergi dari sana.
Keesokan paginya, Emma mengerjapkan matanya karena sinar matahari mulai masuk melalui celah gordennya. Ia merasakan hawa dingin di tubuhnya. Ia menghela nafas saat teringat apa yang terjadi semalam. Ia memejamkan matanya sambil memukul kepalanya, "Bodoh kamu Em ... senjata makan tuan," gerutunya pelan.
__ADS_1
Sebuah tangan kembali meraih pinggangnya dan memutar tubuhnya hingga menghadap ke arah lain, "Pagi sayang .... cuppp .... morning kiss."
Billy tersenyum melihat wajah Emma yang sedang kesal, "Pergilah. Aku tak akan meminta pertanggung jawaban apapun darimu. Ini kesalahanku," ucap Emma dan menoleh ke arah lain.
Billy memegang dagu Emma dan memutar wajah Emma agar tetap mengarah padanya, "Aku akan bertanggung jawab, karena aku memang menginginkannya. Emma Wattson, maukan kamu menikah denganku?"
Tanpa suasana romantis, tanpa pakaian yang indah, tanpa makan malam, bahkan tanpa cincin, Emma dilamar. Ia bahkan tidak memakai pakaian, lamaran macam apa ini? pikirnya dalam hati.
"Kamu terlalu lama menjawabnya. Aku menganggapnya sebagi ya, karena aku tak menerima penolakan. Hari ini juga aku akan membawamu ke Roma dan kita akan menikah," Billy membuka selimut dan memperlihatkan tubuh polos Emma, kemudian langsung meraih tubuh wanita itu dan menggendongnya, membawanya ke kamar mandi.
"Jangan terlalu banyak bergerak atau aku akan mengulangi aktivitas kita semalam," Billy tersenyum dan berjalan menuju shower setelah meletakkan Emma di dalam bathtub.
__ADS_1
Emma langsung mengisi bathtub tersebut dengan air dan ia penuhi dengan busa agar tubuhnya tak terlihat oleh Billy saat pria itu keluar.
*****
"Sayang, makanlah. Aku sudah membuatkan sarapan untukmu," Azka membawakan sarapan ke dalam kamar tidur karena Mia baru saja mengalami mual yang sangat hebat. Tubuhnya langsung terasa lemas dan ia merasa sangat lelah.
"Maukah kamu memelukku? Aku hanya ingin memelukmu agar rasa mual ini tidak datang kembali," memang setiap kali Mia memeluk Azka, maka rasa mual sama sekali menghilang. Hal ini sungguh menyulitkannya, apalagi jika Azka tengah pergi ke kampus untuk menemui dosennya.
"Tentu saja. Aku akan memelukmu selama yang kamu mau," Azka naik ke atas tempat tidur dan memberikan pelukan pada Mia. Mia kembali menghirup harum maskulin tubuh Azka, membuat tubuhnya merasa lebih nyaman.
"Maaf aku merepotkanmu. Kamu jadi sulit ke kampus karena aku mengganggumu terus menerus."
__ADS_1
"Jangan pikirkan itu. Sebentar lagi kuliahku akan selesai dan kita akan kembali ke Indonesia. Aku berharap kamu tidak kuliah dulu selama kehamilanmu ini."
"Hmm, aku akan menuruti semua keinginanmu," Mia mengangguk sambil tersenyum. Mia mulai merasa apa yang dikatakan Azka adalah benar sehingga ia akan mengikuti semuanya. Ia tak ingin Azka marah dan meninggalkannya. Kadang Mia masih merasa takut kalau tiba tiba Azka akan pergi.