
Billy berdiri di depan ruang ICU. Ia langsung membawa Emma ke rumah sakit karena melihat kondisi Emma yang sudah lemas dan sedikit pucat.
Seorang dokter keluar dari ruang rawat, "keluarga pasien?"
"Saya," Billy berjalan mendekati dokter tersebut. Rasa khawatir masih menyelimuti dirinya.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Billy.
"Apa anda suaminya?" tanya sang dokter.
"Ya, saya suaminya," Billy akan mengakui Emma sebagai istrinya. Ia tak ingin terjadi apapun pada wanita itu.
"Saya ucapkan selamat. Istri anda sedang mengandung. Usia kandungannya sudah mencapai 4 minggu. Saya akan kembali memeriksanya saat ia sadar nanti, sekarang ia sedang beristirahat."
Mendengar perkataan dokter, wajah Billy berbinar seketika, "Akhirnya aku berhasil! Kini kamu tidak akan bisa lagi lari dariku. Aku akan pastikan kamu yang menjadi istriku dan ibu dari anak anakku."
Billy masuk ke dalam ruangan. Ia melihat emma tengah terbaring dengan mata terpejam. Ia mendekat dan kini duduk persis di sebelah brankar pasien. Tangan sebelah kiri memegang tangan kanan Emma, sementara tangan kanannya mengelus perut Emma, "Aku sudah menanamkan sahamku di sini, dan sepertinya harga sahamku telah naik."
Billy duduk dan terus memegang tangan Emma dan menempelkannya di wajahnya. Ia menciumi tangan wanita itu terus, "Cepatlah sadar. Aku akan membawamu langsung ke Roma untuk menemui kedua orang tuaku."
*****
Azka dinyatakan lulus dengan predikat cum laude. Ia memang memiliki otak yang encer, hingga mampu menyelesaikan S1 dalam waktu 3,5 tahun dan S2 dalam waktu 1,5 tahun.
__ADS_1
"Apa kita akan segera kembali ke Indonesia?" tanya Mia.
"Ya. Daddy dan Mommy akan datang saat acara kelulusanku. Setelah itu kita akan pulang bersama dengan mereka. Mengapa? Apa kamu tidak ingin pulang?"
"Aku ingin pulang, aku ingin bertemu dengan keluargaku, terutama keponakanku," Mia tersenyum sambil memeluk Azka.
"Aku lebih senang kita berada di indonesia. Di sana akan lebih banyak orang yang bisa mengawasi dan menjagamu. Jadi aku tidak terlalu khawatir jika meninggalkanmu."
"Terima kasih."
"Tak perlu mengucapkan terima kasih padaku. Sudah menjadi tugasku untuk selalu memastikan dirimu aman," ujar Azka.
"Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, bahkan mungkin saat ini cintaku lebih besar daripada cintamu," goda Azka, membuat Mia memberikan cubitan di pinggang suaminya itu.
"Apa kamu ingin tahu seberapa besar cintaku?" Mia menganggukkan kepalanya. Azka langsung menggendong Mia dan membawanya ke dalam kamar.
Azka merebahkan tubuh Mia dengan perlahan di atas tempat tidur dan mulai melummat bibir Mia, hingga akhirnya terjadilah apa yang harus terjadi.
*****
Emma tersadar, ia mengerjapkan mata dan memandang ke sekeliling. Ia bisa mencium aroma obat obatan yang begitu khas menyeruak di penciumannya.
__ADS_1
Ia menoleh ke samping ketika merasakan beban di tangannya. Ia melihat Billy yang tertidur di sampingnya. Seulas senyum terbit di wajah Emma. Dengan perlahan ia mengangkat tangannya, kemudian mengelus pelan rambut Billy.
Billy yang merasakan sentuhan di kepalanya pun terbangun. Ia mengucek matanya untuk mempertajam penglihatannya, "Kamu sudah sadar? akhirnya ..."
Emma bisa melihat raut khawatir di wajah Billy. Ia kemudian memegang pipi Billy, "Kamu mengkhawatirkanku?"
"Tentu saja. Untung saja aku tidak ikutan pingsan," di saat seperti ini, masih bisa saja Billy bercanda. Hal itu membuat Emma terkekeh.
"Aku akan memanggil dokter," Billy langsung menekan sebuah tombol di samping tempat tidur. Ia memegang tangan Emma tanpa melepaskannya, hingga dokter masuk ke dalam ruangan.
"Halo Nyonya Emma. Saya senang anda sudah sadar," doker itu tersenyum melihat keberadaan Billy di sana, "Apa anda sudah diberitahu berita bahagia oleh suami anda?"
"S-suami?" tanya Emma dengan nada heran.
"Ahhh saya belum memberitahukannya, Dok. Mungkin akan lebih baik kalau anda yang memberitahukan dan juga memberikan wejangan wejangan bagi kami, karena ini adalah yang pertama untuk kami," Emma menoleh dengan heran ke arah Billy, seakan mencari jawaban.
"Nyonya, sebelumnya saya ucapkan selamat untuk anda dan suami. Saat ini anda tengah mengandung dengan usia kandungan sekitar 4 minggu," Emma membulatkan matanya saat mendengar penjelasan dokter. Ia menoleh ke arah Billy yang tersenyum dengan mata berbinar binar. Ia ingin memukul Billy karena telah membuatnya hamil, padahal mereka belum menikah. Namun, ia menahannya karena tak ingin membuat keributan di saat dokter masih berada di ruangan tersebut.
"Saya akan meresepkan beberapa vitamin dan penguat kandungan. Saya juga mengharapkan anda tidak stres ataupun kelelahan karena hal itu akan membahayakan janin anda karena masih berada di trimester pertama. Nanti sore anda sudah bisa pulang, karena tidak ada yang perlu dikhawatirkan," lanjut sang dokter.
"Terima kasih, Dok," ucap Billy dan Emma bersama sama.
Setelah kepergian sang dokter, Emma langsung menoleh ke arah Billy yang tersenyum sambil menampilkan deretan giginya.
__ADS_1
"Lihat kan, ini hasil perbuatanmu," ucap Emma kesal.
"Iya aku tahu itu hasil perbuatanku. Tenang saja, aku akan mempertanggungjawabkannya. Bahkan aku sudah akan menikahimu meskipun kamu belum hamil," balas Billy dengan kembali menampilkan senyumnya, membuat Emma hanya bisa mencebik kesal.