
"Emma, siapkan pernikahanku dengan Angel. Tak.perlu terlalu mewah, tapi harus sangat berkesan. Aku ingin dia merasa menjadi wanita paling cantik dan paling dicintai di dunia ini," ujar David setelah ia menyelesaikan pertemuannya dengan Tuan Albert.
Aku belum melaporkan tugasku yang sebelumnya, ia sudah memberiku tugas yang lain. Baru saja ingin meminta libur, ternyata tidak jadi. Benar benar menyebalkan! - Emma bermonolog sendiri dengan batinnya serta menghentakkan kakinya tanpa bersuara.
"Tapi ada yang harus kukatakan lebih dulu."
"Ada apa?" tanya David sambil memeriksa tabletnya.
Emma menyetir mobilnya dengan lebih perlahan, "ini mengenai Tuan Alvin."
David melihat ke arah Emma, seperti mengatakan bahwa ia mendengarkan, "Tuan Alvin sepertinya telah berubah Tuan. Ia tidak tergoda wanita lain, meskipun wanita itu berada di depannya dengan pakaian minim dan mengajaknya berbuat lebih. Hatinya seperti sudah menjadi milik Nona Diva."
"Bagaimana mungkin kamu menarik kesimpulan hanya dengan seperti itu? Ia menolak seorang wanita, belum tentu ia menolak jika nantinya ada wanita kedua dan ketiga yang menggodanya.
David menghela nafasnya pelan seakan berpikir keras. Ia bukan meragukan Alvin, namun hatinya merasa tidak tenang jika ia belum benar benar menguji kesetiaan Alvin pada adik perempuan satu satunya.
David akhirnya menjelaskan panjang kali lebar hingga rencana mereka pun jadi meluas.
"Apa kamu yakin akan melakukan itu? Bagaimana jika ia tidak kuat? Bukankah itu akan melukai hati Diva?"
"Lebih baik aku melukainya sekarang dari pada ia akan terluka berulang kali ketika mereka sudah menikah. Aku tak bisa melihatnya menderita," ujar David.
"Baiklah, aku akan menyiapkan semuanya, baik rencanamu pada Tuan Alvin maupun dengan pernikahanmu. Namun, aku ingin kamu menyetujui permintaanku."
"Apa yang kamu inginkan?" tanya David sambil menautkan kedua alisnya.
"Tentu saja aku menginginkan liburan, Tuan David yang terhormat. Aku ini bukan robot. Aku butuh pencerahan untuk tugas tugas dan rencana rencanamu yang lain nantinya," ungkap Emma kesal.
"Baiklah, tidak masalah. Aku akan memberikanmu libur selama 1 minggu."
__ADS_1
Emma menoleh ke arah David seakan tak percaya bahwa ia hanya akan mendapatkan 1 minggu.
"Emma!! lihat ke depan! Aku belum mau mati!" teriak David dengan panik.
"Aku akan terus menoleh ke belakang kalau kamu hanya memberikan 1 minggu padaku."
"Baiklah, baiklah ... 1 minggu lebih 1 hari."
Emma menginjak rem mobilnya dengan sedikit mendadak, membuat kepala David menabrak kursi di depannya, "Hei, kamu mau membunuhku?"
"Ya! aku akan membunuhmu, dasar bos pelit! Aku minta 1 bulan," teriak Emma. Setelah bekerja tanpa libur selama ini, masa ia hanya diberi 1 minggu sebagai kompensasi.
David mengelus dahinya, "Ya ampun Emma, kamu bisa merusak ketampananku. Bagaimana jika angel tidak mau menikah denganku karena perbuatanmu ini?"
"Aku akan menyumpahimu tidak menikah seumur hidup jika masih menolak permintaanku."
"Baiklah, baiklah. Aku akan memberimu 1 bulan, tapi tolong kerjakan semua tugas tugasmu sebelum cuti dengan baik. Aku tak mau ada yang menggantung ataupun tertunda nantinya."
"Ya Tuhan, kenapa aku bisa mempekerjakannya sebagai asistenku? Bisa mati aku di tangannya jika ia terus mengancam seperti ini," David bergumam sambil mengelus dadanya. Sementara Emma memperhatikan dari kaca spion sambil tersenyum bahagia.
*****
Azka akan mengantarkan Mia untuk melakukan pemeriksaan. Mia hanya perlu melakukan pemeriksaan dengan dokter khusus yang ditunjuk oleh Dokter Stuart.
"Kamu sudah siap?" tanya Azka.
"Sudah. Apa aku merepotkanmu, Az?"
"Tentu saja tidak. Aku akan menemanimu, selalu."
__ADS_1
Mia tersenyum kemudian memeluk Azka, "Apa kamu ingin sesuatu di bawah sana membuat kita tidak jadi pergi?"
Mia langsung melihat ke bawah dengan polosnya, kemudian kembali melihat ke arah mata Azka dan tersenyum, "baiklah, ayo kita berangkat."
Mia memeriksakan kondisinya dan dokter mengatakan kalau Mia tetap tidak boleh terlalu lelah untuk sementara waktu. Ia harus terus meminum obat dan vitaminnya sesuai permintaan Dokter Stuart.
Saat keluar dari ruang praktek dokter dan melihat ke sekeliling yang begitu ramai, tiba tiba saja kepala Mia terasa pusing. Ia memegang kepalanya dan berpegangan pada Azka.
"Kamu kenapa, Mi? Sayang, lihat aku," ucap Azka saat melihat mata Mia yang sepertinya tidak kuasa untuk membuka lebar.
"Kepalaku pusing, bantu aku untuk duduk dulu," Azka membawa Mia untuk duduk di salah satu sofa yang ada di ruang tunggu.
"Tunggu sebentar di sini, aku akan mendaftar kembali di dokter. Jangan ke mana mana, mengerti?" Mia menganggukkan kepalanya. Ia memang tak akan ke mana mana karena kepalanya benar benar sakit sekali.
Saat Azka telah pergi, Mia merasa perutnya kini seperti diaduk aduk. Ia menengadahkan kepalanya ke atas, mencari udara segar, namun sepertinya tak berhasil.
"Aku harus mencari toilet," Mia ingin bangkit dari duduknya karena tidak mungkin ia memuntahkan isi perutnya di ruang tunggu itu.
Mia berusaga berpegangan pada dinding yang dilewatinya. Semakin lama semakin pusing dan mual, ia tidak kuat untuk berdiri.
"Sayang, kenapa kamu berdiri?" Saat mendengar suara Azka dan mencium harum maskulin dari tubuh Azka, rasa mual yang menderanya tiba tiba hilang. Namun sakit kepalanya masih terasa.
"Tadi aku mual, aku ingin ke toilet."
"Apa masih ingin ke sana?" Mia menggelengkan kepalanya. Ia pun duduk kembali sambil menempelkan wajahnya di dada Azka.
"Aku sudah mendaftar lagi, kita tunggu sebentar ya," Azka mengelus rambut Mia. Ia sedikit takut jika terjadi sesuatu dengan Mia. Mereka baru merasakan sedikit kebahagiaan dan tak ingin hal itu dirampas seketika.
*****
__ADS_1
Aku udah up 3 bab ya kak, sebagai permintaan maaf karena kemarin ga up. Maklum kerjaan numpuk banget kemarin, jadi ga bisa nyentuh hp.
Cherry menunggu like dan komen cantiknya ya kakak semua. I Luph u pull 🥰