
Dengan dibantu oleh Azka, Mia mengurus surat kepindahannya dari Universitas di Munich ke Jakarta. Ia akan memulai perkuliahannya lagi setelah Azka menyelesaikan S2 nya, sekitar 4 bulan lagi.
Mia pindah ke London dan tinggal bersama Azka di sebuah apartemen. Setiap pagi ia bangun terlebih dulu dan menyiapkan semua keperluan Azka.
"Az, bangunlah. Bukankah kamu akan menemui dosenmu pagi ini?" tanya Mia.
"Aku mengantuk sekali. Bangunkan aku 5 menit lagi," Mia tersenyum, kemudian keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur. Mia memang belum pandai memasak, tapi kalau hanya sekedar membuat nasi goreng omelet, ia masih bisa.
Ia berkutat di dapur, mulai dari memotong dan menghaluskan beberapa bumbu dapur, serta mengocok telur. Ia melihat jam di dinding, sudah lewat 15 menit sejak ia terakhir membangunkan Azka. Ia pun kembali ke kamar.
"Az,"
"Az, bangunlah. Nanti kamu terlambat," Mia memberikan sebuah ciuman di pipi Azka. Azka mengerjapkan matanya, kemudian tersenyum.
"Aku suka caramu membangunkanku. Aku ingin setiap hari seperti itu," Azka kemudian membalas ciuman di pipi Mia, kemudian berjalan ke arah kamar mandi.
Mia memegang pipinya yang dicium oleh Azka, wajahnya memerah. Meskipun mereka sudah menjadi suami istri, tapi Mia selalu merasa malu dan salah tingkah jika Azka menciumnya.
Ia pun segera kembali ke dapur untuk menyelesaikan masakannya yang belum ia mulai sama sekali. Mia hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk menyelesaikannya karena ia memang sudah mempersiapkan nahan bahannya tadi.
Ia meletakkan sarapan tersebut di atas meja dan masuk kembali ke kamar. Ia menyiapkan pakaian yang akan digunakan oleh Azka dan meletakkannya di atas tempat tidur. Tak lama, Azka keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih setengah kering.
Ahhh, kamu memang tampan sekali, Az. - batin Mia ketika melihat Azka keluar sambil memegang handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya.
__ADS_1
"Apa kami mau ikut denganku ke kampus?" tanya Azka.
Mia menggelengkan kepalanya. Ia tak mau mengganggu aktivitas Azka. Akan lebih baik jika ia tetap berada di apartemen dan melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat.
"Aku akan menunggumu di apartemen saja, banyak yang bisa kukerjakan," jawab Mia.
"Jangan mengerjakan pekerjaan rumah, bukankah sudah ada yang datang setiap hari untuk membersihkannya?"
"Kalau begitu aku akan memasak sesuatu untukmu."
"Tidak perlu," ucap Azka.
"Apa kamu tidak menyukai masakanku? Apa rasanya tidak enak?" tiba tiba saja Mia merasa sedih. Ia merasa tidak berguna sama sekali.
"Bukan begitu maksudku, aku tidak ingin kamu kelelahan karena mengurus apartemen. Aku hanya ingin kamu kelelahan jika bersamaku di atas tempat tidur."
Mia menelan salivanya dengan susah payah.Wajahnya memerah ketika Azka membisikkan kata kata itu, membuatnya langsung menutup wajah dengan kedua tangannya, ia benar benar malu.
"Hei, apa kamu masih malu, sayang? Aku sudah sering melihatnya dan aku menyukainya," ucapan Azka kembali membuat Mia malu tak tertahankan. Ia langsung keluar dari kamar sebelum wajahnya menjadi gosong karena terlalu panas.
Di luar kamar, ia langsung mengambil sebuah majalah dan mengipasi wajahnya, sementara Azka tertawa di dalam kamar. Semakin hari ia semakin suka menggoda Mia, benar benar seperti anak kecil yang polos. Padahal mereka sudah menjadi suami istri, bahkan sudah melakukan yang lebih dari sekedar ciuman ataupun berpegangan tangan.
*****
__ADS_1
Emma memandang ponselnya. Ia memperhatikan titik berwarna putih yang bergerak ke sana ke mari, kemudian berhenti. Ia pun segera merapikan rambutnya, memakai riasan, dan membuka kancing kemejanya bagian atas, hingga memperlihatkan sedikit kedua aset kembarnya.
Ia berjalan memasuki sebuah cafe dan tersenyum ketika melihat seorang pria tengah duduk seorang diri sambil membolak balik sebuah buku menu. Emma berjalan mendekatinya dengan sedikit berlenggal lenggok.
"Ahhh, halo. Anda ... Tuan Alvin kan," sapa Emma dengan gaya sedikit genit.
"K-kamu?"
"Kenalkan, aku Emma. Apa kamu lupa padaku?" tanpa bertanya, Emma langsung duduk di sebelah Alvin dengan menggeser tubuh Alvin.
"Aku Emma Wattson," Emma memperkenalkan dirinya sekali lagi sambil mengulurkan tangan dan mengedipkan sebelah matanya pada Alvin.
Alvin menghela nafasnya kasar. Ia baru ingat siapa Emma. Alvin sedikit menggeser tubuhnya agar tidak terlalu dekat dengan Emma. Bagaimanapun juga, Alvin adalah pria normal, yang bila disuguhi hal semacam itu, akan membuat pertahanannya runtuh seketika.
Ya Tuhan, apakah ini salah satu ujian lagi dalam hubunganku dengan Diva? Aku tidak ingin jatuh untuk kedua kalinya. Bisakah Kamu membantuku untuk membuat wanita ulat sagu ini kembali ke pohonnya? - Alvin benar benar seperti diuji, namun ia tak ingin jatuh lagi. Ia mencintai Diva dan tak ingin kehilangannya lagi. Diva telah memberinya kesempatan dan ia tak akan menyia-nyiakannya.
"Maaf, sepertinya aku harus pergi," ucap Alvin.
"Jangan pergi, makan malam dulu bersamaku. Bukankah berdua lebih baik dari pada seorang diri?" goda Emma.
"Maaf tapi aku tidak bisa."
Emma mendekati Alvin dan menempelkan tubuhnya pada Alvin, "Aku akan memberikanmu lebih jika kamu mau makan malam denganku."
__ADS_1
Alvin menutup matanya dan menguatkan hatinya, ia pun langsung bangkit dari duduknya, "maaf, aku bukan pria yang kamu cari. Aku harus pergi, permisi."
Emma tersenyum saat melihat kepergian Alvin, "misi berhasil, semua selesai. Saatnya kita bersantai!" gumamnya pelan, tapi masih terdengar oleh seorang pria yang duduk di belakangnya.