My Highschool Sweetheart

My Highschool Sweetheart
HANYA DIRIMU


__ADS_3

Alvin melangkah keluar dari club setelah ia memberikan sebuah map pada temannya itu, tanpa Alvin tahu bahwa temannya itu tengah menahan sesuatu yang tiba tiba muncul di dalam tubuhnya.


Ia mengambil saputangannya dan mengusap dahinya yang mulai berkeringat. Ia juga mengusap wajahnya kasar. Ia berusaha bangkit namun ada sesuatu yang minta dilepaskan. Tangan kirinya masih memegang sebuah map, sementara tangan kanannya berusaha mencari pegangan.


"Memang seharusnya aku tidak pergi ke tempat seperti ini. Kutukan tempat ini memang tidak pernah lepas dariku."


Seorang wanita yang menggunakan pakaian seksi berjalan mendekati pria yang mulai terlihat tak bisa berdiri dengan tegak. Emma yang awalnya ingin mengikuti Alvin, malah terjebak di dalam club bersama pria itu.


"Halo tampan, apa kamu membutuhkan aku?" sebuah elusan di dada pria itu seketika membuat sesuatu di bawah sana seakan ingin keluar dan mencari mangsanya. Pria itu langsung meraih pinggang wanita itu. Namun, ketika ia mau menempelkan bibirnya, dengan gerakan cepat Emma langsung menarik pria itu untuk menjauh.


Tarikan Emma yang cukup kuat membuat pria itu mengikutinya tanpa perlawanan. Emma membawanya ke arah mobil miliknya yang ia parkir tak jauh dari pintu club tersebut.


"Cepat katakan di mana kamu menginap, aku akan mengantarkanmu ke sana," ucap Emma.


Pria itu menoleh seakan mengenali suara wanita yang ada di dekatnya, "Emma, kaukah itu?"


"Hmm, cepat katakan di mana kamu menginap," Emma membuka pintu bagian depan kemudian memaksa pria itu untuk masuk, kemudian memasangkan seatbelt.

__ADS_1


"Apa kamu tidak merindukanku sama sekali? Aku merindukanmu, Emma sayang. Aku tidak pernah mengkhianatimu, aku berani bersumpah," ucapnya secara tak sadar.


Setelah Emma berhasil memasukkan pria itu, Emma berjalan memutar dan duduk di balik kemudi. Sepertinya ia tak akan mendapat jawaban di mana pria itu menginap, maka dengan terpaksa ia akan membawanya ke apartemen miliknya. Ia punya obat penawar untuk obat perangsang itu.


"Emma ... Emma sayang," pria itu terus menerus meraih lengan Emma yang sedang menyetir.


"Bisakah kamu melepaskan tanganku? Aku sedang menyetir," pinta Emma.


"Emma, kembalilah padaku. Aku berani bersumpah bahwa aku tak pernah mengkhianatimu. Ayolah!!" Pria itu terus menarik sebelah tangan Emma.


"BILLY ARGANTARA!! Bisakah kamu diam terlebih dahulu? Kita akan bicara nanti setelah kita sampai," Emma tak ingin terjadi kecelakaan saat ia menyetir mobil. Ia masih muda, bahkan belum menikah. Ia tak ingin mati dengan cepat, apalagi jika penyebab kematiannya karena kecelakaan. Menyeramkan! Ia bergidik ngeri sendiri saat membayangkannya.


"Kamu berat sekali, apa kamu tidak bisa berdiri dengan tegak?" tanya emma dengan kesal, tapi Billy sama sekali tidak menjawab pertanyaannya, malah semakin meracau tidak jelas.


Emma meletakkan Billy di atas tempat tidur miliknya. Ia mencari obat penawar dan kemudian memasukkannya ke dalam mulut Billy. Setelahnya ia langsung masuk ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan diri.


Emma merendam tubuhnya di dalan bathtub. Rencananya malam ini gagal, malah bisa dibilang salah sasaran. Bahkan ia menarik kesimpulan sendiri bahwa ia tidak boleh melakukan itu pada Alvin. Tadi secara tidak langsung Alvin telah menolaknya kembali, menolak semua rayuannya. Emma menghela nafasnya kasar, kemudian membersihkan dirinya di bawah shower setelah berendam cukup lama.

__ADS_1


Ia keluar dari kamar mandi dan melihat Billy yang sudah terlelap di atas tenpat tidurnya. Ia pun berjalan ke arah lemari pakaiannya, dan mengambil 1 set piyama tidur. Ia menggantinya, kemudian segera keluar dari kamar. Malam ini ia akan tidur di sofa ruang tamu.


Sebelum ia berhasil keluar dari kamar, sebuah tangan meraih telapak tangannya dan menariknya. Matanya membulat ketika melihat Billy tengah tersenyum padanya.


"K-kamu tidak tidur?" tanya Emma.


"Tidur? tentu saja tidak. Aku sadar sesadar sadarnya."


"Apa maksudmu? Kamu sudah minum obat penawarnya, seharusnya kamu sudah terlelap."


"Ooo ... jadi kamu ingin aku terlelap? Aku sudah membuang obat itu. Kamu harus membantuku untuk menuntaskan semuanya. Aku tidak butuh obat penawar, aku butuh dirimu," ucap Billy.


"Kamu gila!" teriak Emma.


"Ya, aku gila karena kamu. Berani sekali kamu memutuskan hubungan kita. Aku sama sekali tidak mengkhianatimu, percayalah padaku," Billy masih menahan rasa panas yang menjalar di tubuhnya, "Ahhh..."


"Aku akan mengambilkan obat penawarnya lagi, tunggulah di sini," Emma ingin berjalan menuju elmari pakaiannya, tempat ia menyimpan semua obat obatan.

__ADS_1


"Emma, tolong aku sekarang. Aku akan membuang setiap obat yang kamu berikan. Aku ... aku hanya ingin dirimu, hanya dirimu. Aku mencintaimu, Emma Wattson!" teriak Billy.


__ADS_2