My Highschool Sweetheart

My Highschool Sweetheart
I LOVE YOU


__ADS_3

Mia benar benar kesal karena tidak ada piyama tidur yang bisa ia pakai. Kopernya kosong, bahkan pakaian untuk besok ia pulang dari penthouse pun tidak ada.


"Kakakkk!!! kamu menyebalkan sekalii!!" Mia bergumam setengah berteriak.


"Mi ..., kamu belum berpakaian?" tanya Azka yang kini sudah berada di wardrobe juga.


"A-aku ... tidak ada piyama tidurku sama sekali di dalam koperku," Mia berucap pelan dengan nada sedikit kesal.


Azka mendekatinya kemudian membuka koper miliknya, "Ini, pakailah piyamaku."


Mia terpaksa menerima piyama milik Azka karena memang tidak ada yang bisa ia pakai. Ia segera berlari lagi ke kamar mandi dan berganti di sana.


Saat ia keluar dari kamar mandi, Mia sudah melihat Azka yang duduk di tepi tempat tidur. Mia hanya menggunakan atasan dari piyama Azka karena celananya terlalu besar. Azka melihat ke arahnya dan tersenyum, membuat jantung Mia berdetak dengan cepat.


Sadar Mi, ia sudah menjadi suamimu. Azka suamimu. Bukankah itu cita citamu sejak dulu? Jadi nggak usah sok gugup, bukannya kamu suka juga? - Mia mendengus kesal dengan pikirannya yang bermonolog sendiri. Kalau saja ia bisa berlari saat ini, ia akan melarikan diri untuk menetralkan detak jantungnya.


"Kemarilah," Azka menepuk tempat tidur yang persis di sebelahnya. Dengan perlahan Mia mendekat dan akhirnya duduk di sebelah Azka.

__ADS_1


"Kemarilah, kenapa begitu jauh?" ucap Azka lagi karena jarak Mia dengannya memang masih sekitar 50 cm.


Mia menggeser dirinya sedikit, hingga membuat Azka tersenyum kemudian merangkul bahu Mia dengan cepat dan mendekatkan wanita itu dengan dirinya hingga tak ada jarak. Mia langsung menoleh ke arah Azka, setelah melihat ke arah tangan Azka yang berada di bahunya.


"Bukankah kamu mau selalu dekat denganku? Aku mengabulkannya, jadi jangan pernah malu malu lagi padaku," wajah Mia merona.


Dia yang memintaku menikah dengannya, kenapa sekarang dibilangnya aku yang mau dekat dekat dengannya. Tapi, iya juga sih. - Mia tersenyum senang di dalam hatinya meski saat ini jantungnya berpacu cukup cepat, layaknya balapan kuda.


Azka menangkup wajah Mia yang terlihat kemerahan, membuatnya gemas karena Mia terlihat seperti anak kecil, "Dengarkan aku ... Aku, Azka Abraham Williams sangat mencintai dan menyayangimu Mia Pranata. Aku akan selalu ada di sisimu, untuk menemanimu, menjagamu, dan melindungimu."


Cuppp ....


Ini bukan ciuman pertama mereka, tapi inilah ciuman pertama mereka yang dipenuhi dengan cinta dan kehangatan. Azka meraih tengkuk Mia untuk kembali memperdalam ciuman mereka. Mereka baru berhenti ketika oksigen terasa kurang di sekitar mereka.


Azka mulai menjelajahkan tangannya ke dalam piyama yang digunakan Mia. Sentuhan tangan Azka membuat gelenyar dan getaran di dalam tubuh Mia, membuatnya mengeluarkan suara dessahan.


Tanpa melepaskan ciuman mereka, Azka membaringkan Mia di atas tempat tidur berukuran king size dan mulai membuka satu persatu kancing piyama tersebut. Dengan mudahnya Azka menyentuhkan tangannya ke arah kedua aset kembar milik Mia karena ia tidak menggunakan pakaian dallam sama sekali. Sepertinya Azka harus berterima kasih pada Abigail karena telah mengosongkan isi koper milik istrinya itu.

__ADS_1


Sentuhan Azka benar benar membuat Mia merasa melayang, hingga ia tak menyadari kalau kini tubuhnya sudah polos tanpa sehelai benangpun. Azka membuka piyama atas miliknya dengan cepat, kemudian kembali memberikan kecupan kecupan di leher Mia, turun ke dada dan bermain dengan kedua aset kembar milik Mia.


Mia melentingkan tubuhnya ketika permainan Azka di kedua aset kembarnya memberikan sensasi yang menggetarkan sesuatu di dalam dirinya. Tanpa sadar, tangan Mia mulai meraba dada bidang Azka dan memberikan sentuhan lembut di sana.


Tangan Azka kini mulai turun ke area penting milik Mia. Ia memainkan jarinya di sana hingga membuat Mia mengeluarkan dessahan lagi. Azka kembali melummat bibir Mia dengan lembut, "Aku akan melakukannya sekarang. Setahuku ini akan terasa sakit di awal, aku akan melakukannya dengan perlahan."


Mia menganggukkan kepalanya dan mencengkeram sprei sebagai pertahanannya. Ketika Azka mengarahkan miliknya ke aset penting Mia, Mia meringis, "Sakit ..."


Azka kemudian kembali menyesap dan melummat bibir Mia. Ia ingin membuat Mia relaks dan tidak terlalu tegang. Ia terus mencium Mia sambil mengarahkan miliknya pada milik Mia.


Mia merasa sakit, hingga ia mencengkeram bahu Azka dengan kencang. Ketika Azka berhasil menembusnya, ia merasakan sesuatu yang hangat mengalir. Ia langsung mencium kening Mia dan membiarkan milik Mia untuk beradaptasi dengan miliknya.


Setelah beberapa saat, ia mulai menggoyangkan pinggulnya dengan perlahan. Semakin lama semakin kencang hingga membuat mereka berdua mengerangg dan mendessah bersama. Suasana penthouse tersebut terasa begitu panas meskipun pendingin ruangan telah dinyalakan. Setelah bergelutt beberapa lama, akhirnya keduanya mengalami pelepasan bersama.


Azka menyatukan keningnya dengan kening Mia, "Terima kasih, sayang. Aku mencintaimu."


Azka kembali mencium kening Mia dan merebahkan tubuhnya di samping Mia. Ini adalah pengalaman pertama bagi mereka berdua dan Azka sungguh sangat menikmatinya.

__ADS_1


Ia memeluk tubuh Mia dari samping dan melihat Mia yang memejamkan matanya karena kelelahan. Azka hanya akan melakukannya satu kali malam ini karena ia tahu Mia baru sembuh. Ia ingin istrinya itu segera pulih seperti orang normal lainnya, meskipun ia harus menahan dirinya untuk tidak terus menerus menyerang istrinya itu setelah merasakan betapa nikmatnya bergelutt bersama.


"I Love You," Azka kembali mencium pucuk kepala Mia dan memeluk wanita itu. Ia menyelimuti Mia dan memejamkan mata bersama, menikmati malamm pertama mereka di tengah Kota Munich.


__ADS_2