
Setelah membersihkan diri, Karla langsung menuju ke ruang tamu, tempat calon menantunya berada. Ia berjalan dengan tergesa gesa karena tak ingin calon menantunya menunggu lama.
Dari atas, ia melihat Billy sedang menenangkan wanita itu. Terlihat dari cara duduknya yang terkesan salah tingkah, ia gugup.
"Bil!" mendengar sebuah suara, Emma lamgsung berdiri namun dengan kepala yang masih tertunduk. biasanya ia berani memandang orang lain, tapi di depan seorang wanita yang bisa dibilang akan menjadi calon mertuanya, ia benar benar gugup.
"Mom, kenalkan .... ini Emma, Emma ... ini Mommyku, Mom Karla," Emma mengulurkan tangannya.
"Selamat siang, Aunty. Saya Emma," Emma yang merasa sangat gugup, mulai berpikiran aneh di kepalanya.
Apa ia akan berteriak di depan wajahku, lalu mengusirku? Ia pasti akan mengatakan bahwa aku tidak cocok dengan putranya. Atau ia akan memberiku cek dengan nominal besar untuk menjauhi putranya? Nggak apa apa juga soh ya, lumayan buat hidup ke depannya. Apalagi biaya untuk melahirkan dan merawat anak ini, cukuplah. - Emma malah berpikir kemana mana. Ia pun menyiapkan diri untuk menerima kemungkinan terburuk, yakni diusir, dihina, dan dicap sebagai wanita murahan karena telah hamil sebelum menikah.
"Jadi, kapan kalian akan menikah?" tanya Karla langsung di hadapan Billy dan Emma. Emma langsung mendongakkan kepalanya karena kaget akan perkataan Rosa.
"Apa Aunty tidak akan mengusirku? atau memberiku cek untuk menjauhi putramu?" tanya Emma, yang tanpa sadar menarik sudut bibir Karla.
"Apa kamu ingin kuusir?"
"Ya tidak apa apa kalau Aunty mau mengusirku, tapi jangan lupa cek nya. Aku perlu biaya untuk melahirkan anak pria tidak tahu diri ini, apalagi merawatnya," gerutu Emma sambil menoleh ke arah Billy.
"Kamu tidak akan bisa lepas dariku. Mau atau tidak, suka atau tidak, kamu akan tetap menikah denganku!" Billy sedikit meninggikan suaranya.
Karla bisa melihat bagaimana Billy mencintai wanita ini dan sepertinya wanita ini sangat kesal dengan apa yang dilakukan oleh Billy hingga membuatnya hamil. Sepertinya akan menyenangkan jika mengerjai putranya ini.
"Berapa uang yang kamu inginkan untuk menjauhi putraku?" tanya Karla
"Mom!!" Billy benar benar tak menyangka bahwa Mommynya akan menawarkan sejumlah uang pada Emma untuk pergi dari hidupnya.
"Aunty berani bayar berapa?" Emma kini menatap ke arah Karla.
"Berapapun, asal kamu tak mendekati putraku lagi."
Billy langsung menarik tangan Emma dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. Ia mengungkung Emma di dinding, "Apa kamu akan mengambil uang itu dan meninggalkanku?"
__ADS_1
"Apa tidak boleh? lagi pula aku rasa akan lebih baik kalau aku tidak menikah. Sudah cukup dengan anak ini. Kamu juga bisa bersama dengan wanita yang kamu cintai. Jangan memaksakan dirimu denganku."
"Emma Wattson! Harus kukatakan berapa kali kalau hanya dirimu yang aku cintai. Aku mencintaimu dan tak akan pernah membiarkanmu pergi 1 langkah pun dari rumah ini. Aku akan menikahimu hari ini juga, dengan atau tanpa persetujuan orang tuaku," ucap Billy tegas.
prokk ... prokkk ... prokk ...
Billy menoleh ke arah asal suara, ia tercengang ketika melihat Daddy dan Mommy nya telah berdiri di sana dan menyaksikannya.
"Dad benar benar kagum padamu. Kamu bisa mengejar wanita yang kamu cintai. Sifatmu memang mirip seperti Mommy mu, pantang menyerah!" Bima memuji putranya yang sangat berani dalam mengutarakan isi hatinya. Berbeda dengan dirinya dulu.
"Daddy ada di rumah?"
"Tentu saja ada. Memangnya Dad tidak boleh bertemu dengan calon menantu daddy?"
"Kapan Dad masuk?" tanya Billy.
"Memang kapan Dad keluar?" tanya Bima.
"Sebenarnya apa yang kalian sembunyikan?" tanya Billy.
"Tak ada, memang apa yang bisa kami sembunyikan. Bukankah tadi Mommy sudah mengatakan akan memberikan sejumlah uang pada wanita ini agar dia menjauhimu," jawab Karla lagi.
"Mom! Aku serius!"
"Memangnya Mom main main?"
"Sudahlah aktingnya, aku lelah harus terus menahan tawa sedari tadi. Kamu tidak lihat bagaimana wajah putramu itu? hidungnya sudah mulai kembang kempis," bisik Bima di telinga Karla, yang ntah mengapa membuat Karla tertawa karena kini matanya berfokus pada hidung Billy, putranya.
"Baiklah, baiklah. Masuklah. Kita bicara di dalam."
*****
"Mom, apa aku boleh minta izin untuk menemui Mami dan Papiku?" tanya Mia. Ia sudah kangen lagi dengan kedua orang tuanya, padahal ia belum lama mengunjungi mereka, yakni saat kepulangannya dari London.
__ADS_1
"Tentu saja, sayang. Apa mau Mom temani?" tanya Vanessa.
"Tidak perlu, Mom. Aku akan diantar oleh supir."
"Baiklah, jangan pulang terlalu malam. Tidak baik untuk wanita hamil."
"Okay Mom. Aku akan pulang sore. Apa Mom mau menitipkan sesuatu?"
"Tidak sayang. Hati hati ya," pesan Vanessa.
Mia berencana menemui kedua orang tuanya lagi karena hari ini Kak Abigail akan datang bersama dengan Chloe. Ia tidak sabar untuk bertemu dengan keponakannya yang cantik itu.
"Chloeee!!" sapa Mia ketika ia sampai di kediaman Pranata. Ia melihat kedua orang tuanya tengah duduk di ruang tengah dan bermain bersama cucunya.
"Akhirnya kamu datang juga, Mi. Kakak sangat merindukanmu. Bagaimana keadaanmu?" tanya Abigail sambil mengelus perut Mia.
"Aku baik Kak. Tidak ada masalah."
"Apa kamu sudah mengunjungi dokter kandungan?"
"Belum. Rencana akhir minggu ini, karena saat ini Azka sedang sibuk."
Mia duduk di sebelah Abigail, berhadapan dengan kedua orang tuanya yang sedang bermain dengan Chloe.
"Bagaimana kabarmu, sayang? Apa ada sesuatu pasca operasi itu?" tanya Ronald.
"Tidak ada, Pi. Hanya sekarang ini aku lebih mudah lelah saja," jawab Mia.
"Apa setiap malam Azka mengerjaimu? katakan padanya agar jangan membuatmu lelah," bisik Abigail di telinga Mia.
"Mengerjai bagaimana, kak? Ia tak pernah membawa pekerjaan ke rumah," jawab Mia.
Abigail menepuk dahinya, adiknya ini masih polos saja meskipun sudah menikah.
__ADS_1