
Emma berada di balik meja kerjanya sambil merapikan sedikit riasan di wajahnya. 1 tugasnya sudah selesai dan ia akan melaporkan semuanya hari ini, kemudian ia akan meminta jatah liburan yang pernah dijanjikan oleh David.
Emma memperhatikan jam di pergelangan tangannya. Oa mendengus kesal karena sudah hampir jam 11 tapi belum terlihat sama sekali pria berwajah tampan, namun menyebalkan yang seharusnya sudah berada di dalam ruangan di sebelahnya sambil menandatangani berkas berkas.
Emma membuka komputer di hadapannya, kemudian dengan beberapa ketikan pada keyboad dan goyangan tikus di atas mejanya, ia berhasil mendapatkan lokasi di mana atasannya itu berada saat ini.
"Whattt??!! ia masih ada di rumah?" Emma yang ingin melaporkan hasil kerjanya dan meminta jatah libur, tiba tiba saja menjadi kesal.
"Apa aku datangi saja ke rumah? lagi pula, Diva juga pernah mengundangku ke rumah. Tak ada bos, tak ada pekerjaan ... let's go Emma," Emma langsung meraih tas nya dan berjalan meninggalkan meja kerjanya.
Sesampainya ia di depan kediaman keluarga Asher, ia segera menyapa seorang security yang berjaga di sana, kemudian melangkahkan kakinya untuk masuk. Emma juga membawa 1 buah paperbag yang berisi berkas berkas yang harus ditanda tangani oleh David.
"Emma!" teriak Diva yang baru saja akan keluar dari rumah.
"Halo, Div. Kamu akan pergi?" tanya Emma yang melihat Diva telah memakai sebuah dress cantik dan sebuah tas tangan kecil.
"Aku akan pergi bersama Alvin. Apa Kak Emma ingin ikut?" tanya Diva.
"Tidak, pergilah. Aku ingin bertemu dengan kakakmu. Apa yang ia lakukan? Apa ia sedang sakit hingga tidak bisa pergi ke kantor?" tanya Emma.
__ADS_1
"Aku tidak tahu. Coba kamu tanyakan pada Angel. Ia mengetahui semua hal yang terjadi pada Kak David," jawab Diva.
Saat Diva ingin melangkahkan kakinya pergi, Emma menariknya kembali, "Oya Div, aku bisa pastikan padamu kalau kekasihmu itu telah berubah. Ia tidak tergoda sama sekali dengan wanita lain, selain dirimu."
Diva menautkan kedua alisnya seakan bingung akan perkataan Emma, "Aku tidak mengerti ..."
"Ahhh, ya sudahlah. Kamu tidak perlu mengerti kalau begitu. Yang pasti Alvin sangat mencintaimu, bukalah sedikit hatimu untuknya, sebelum ia akan benar benar lari pada wanita lain."
"Emma!!" ucapan akhir Emma sedikit menakuti Diva. Meskipun ia belum sepenuhnya menerima Alvin, tapi ia tak ingin Alvin kepincut wanita lain. Saat ini ia hanya sedikit melakukan talik ulur dengan Alvin, untuk melohat bagaimana kesungguhan pria itu.
*****
"Apa sudah mau keluar, sayang?" tanya Azka.
"hmm ... ahhhh!!"
"Kita sama sama ya," Azka terus menghentakkan miliknya sambil sesekali mencium Mia yang terlihat sudah mulai kelelahan. Baru pagi ini Azka mencoba untuk bermain 2 ronde dengan Mia, karena biasanya ia akan berhenti setelah sekali bermain.
Setelah selesai, Azka merebahkan tubuhnya di samping Mia dan mengecup kening istrinya itu, "Terima kasih, sayang. Kamu luar biasa."
__ADS_1
Tak terdengar suara jawaban dari Mia karena ia langsung terlelap karena kelelahan. Mia memang masih harus beradaptasi dengan kondisi paru parunya, pasca operasi. Azka sebenarnya tak ingin membuat Mia kelelahan, hanya saja tubuhnya sangat menginginkan Mia lagi dan lagi.
Azka akhirnya kembali memejamkan matanya. Hari ini aktivitasnya hanyalah menemui dosen yang membimbing tesisnya, dan itu juga setelah jam makan siang. Ia masih punya banyak waktu untuk beristirahat.
Azka memeluk Mia dan mengecup pucuk kepalanya, "Aku akan membuatmu hidup bahagia, aku berjanji."
*****
Emma naik ke lantai atas kediaman Asher, di mana kamar David berada. Ia mengetuk pintu beberapa kali.
tokkk ... tokkk .... tokkk ....
"Tuan David, apa anda tidak akan ke kantor? ini sudah jam makan siang. Bagaimana dengan janji meeting dengan Tuan Albert?"
Tak terdengar suara sama sekali dari dalam, padahal Emma sudah menempelkan telinganya ke daun pintu kamar tidur atasannya itu. Karena benar benar tak mendengar apapun, Emma memberanikan diri membuka pintu karena ia takut atasannya itu sakit hingga tidak bisa membuka pintu.
"Saya masuk ya Tuan," Emma membuka pintu dengan perlahan, kemudian ia langsung menutup mulut dengan kedua tangan dan matanya ikut membulat saat melihat atasannya itu tengah terlelap dengan memeluk seorang wanita. Ia langsung berlari keluar dari kamar dan menetralkan degup jantungnya yang semakin kencang.
"Ishhh, dia benar benar membuat mataku yang suci ini ternodai. Apa dia tidak tahu kalau aku ini masih remaja ting tong. Seharusnya ia mengunci pintu jika ingin berbuat hal hal yang ... ahhh," Emma mengusap wajahnya kasar, kemudian memberanikan diri untuk kembali mengetuk pintu. Ia harus melakukannya hingga atasannya itu bangun, kalau tidak maka meeting dengan Tuan Albert bisa gagal. Jika gagal, maka Emma lagi yang akan terkena imbasnya, menyebalkan bukan?
__ADS_1