My Highschool Sweetheart

My Highschool Sweetheart
MENJAUHLAH


__ADS_3

Azka kembali ke London untuk melanjutkan studinya, begitu juga dengan Mia, ia mengambil spesialis paru. Mereka berkomunikasi setiap hari dan Azka pun mengunjungi Mia hampir setiap minggu.


Abigail sudah melahirkan dan Azka juga memberikan pengawalan kepada keluarga Pranata membuat Mia bernafas lega. Ia tidak perlu ketakutan setiap hari membayangkan terjadi sesuatu pada keluarganya, karena hubungannya dengan Azka.


"Kamu baik baik saja, Mi?" tanya Azka saat melihat wajah Mia yang sedikit pucat.


"Aku tidak apa apa, hanya kelelahan saja karena semalam aku harus mengerjakan tugas dan setelahnya aku tidak bisa tidur," ucap Mia.


Azka menghampiri Mia yang sedang bergelung dengan selimutnya di atas tempat tidur, berusaha memejamkan matanya. Azka duduk persis di samping Mia, kemudian memeluknya.


"Tidurlah, aku akan memelukmu," Mia mengangguk. Ia mengeratkan wajahnya ke dada Azka, seakan mencari kehangatan. Sebenarnya, semalaman ia merasakan sesak yang tak terkira di dadanya, membuatnya berulang kali harus menggunakan tabung oksigen kecil yang ia letakkan di bawah tempat tidurnya.


Mia berusaha bernafas dengan teratur, tak berapa lama terdengar hembusan nafas pelan dan teratur, menandakan bahwa Mia telah terlelap. Azka mencium pucuk kepala Mia sebelum bangkit dari tempat tidur.


Ia berjalan mengitari tempar tidur kemudian mengambil tabung oksigen kecil yang disembunyikan oleh Mia di bswah tempat tidurnya, "Sampai kapan kamu akan terus menyembunyikan ini, apa kamu masih tidak percaya padaku?" gumam Azka pelan.


Setahun sudah mereka berhubungan, dan Azka telah menemui keluarga Pranata untuk menyatakan niat tulusnya untuk menjadi kekasih Mia dan menjaganya. Ronald dan Rosa menyetujuinya karena melihat kesungguhan Azka. Namun, mereka juga menceritakan keadaan kesehatan Mia yang sebenarnya. Mereka tidak ingin Azka merasa ditipu karena keadaan Mia yang bisa dikatakan tidak sempurna.


Aku akan mencarikan dokter paru terbaik untuk menangani Mia dan aku yakin dia akan sembuh. - ucap Azka saat itu.


Keluarga Pranata sebenarnya telah menemukan Dokter Paru terbaik, namun dokter tersebut selalu sibuk dan memiliki jadwal yang sangat padat. Bahkan untuk berkonsultasi, jadwalnya sudah penuh hingga tahun- tahun depan.


Azka pergi ke luar, kemudian memasak bubur untuk Mia. Ia tidak belajar memasak secara khusus. Hanya dengan memperhatikan Vanessa, Mommynya, saat berada di dapur, cukup membuat Azka mengerti apa yang harus dilakukan untuk membuat ini dan itu.


Setelahnya, ia duduk di sofa depan TV sambil menatap layar laptopnya. Ia sedang mendesain sesuatu untuk proyek terbaru Williams Group. Azka perlahan merintis perusahaannya sendiri, yang bergerak di bidang interior. Axelle mengetahui itu dan mendukung semua yang dilakukan oleh putranya itu.


Menjelang siang, Mia terbangun dari tidurnya. Ia keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur. Ia mengambil gelas dan menuang air ke dalamnya, lalu menegaknya hingga tandas. Ia sama sekali tak melihat keberadaan Azka.

__ADS_1


"Apa dia pergi? atau aku hanya berhalusinasi?" gumam Mia.


Ia melihat panci berisikan bubur di dalamnya, kemudian tersenyum. Ia memanaskan bubur tersebut, kemudian memindahkannya ke dalam sebuah mangkuk. Ia melahapnya dengan cepat karena memang perutnya sangat lapar.


Mia kembali berkutat dengan sebuah buku yang direkomendasikan oleh salah satu teman kampusnya. Buku itu membahas secara keseluruhan tentang organ paru. Ia mempelajari dengan seksama dan melihat kesamaan dengan paru paru miliknya. Ia sengaja melakukan rontgen paru miliknya untuk mempelajarinya.


Menjelang sore, Azka datang kembali ke apartemen miliknya. Mia bernafas lega karena ia sudag menyembunyikan semua hal yang berhubungan dengan penyakitnya, kecuali buku bukunya.


"Apa kamu ingin makan di luar?" tanya Azka, ketika melihat wajah Mia yang sudah kembali seperti sedia kala. Mia mengangguk. Mereka pun bersiap dan berjalan ke luar apartemen.


Mia mengajak Azka ke sebuah kedai kecil yang menyajikan masakan Indonesia. Ketika sampai di sana, Mia melihat sosok wanita yang sudah lama tidak dilihatnya, "Kak Angel!"


Angel yang merupakan pelanggan satu satunya yang berada di tenpat tersebut langsung menoleh ke arah asal suara, "Mia!"


"Kakak suka makan di sini?" tanya Mia, dan Angel mengangguk.


"Apakah ini kekasihmu?" tanya Angel, membuat wajah Mia memerah.


"Tidak perlu dijawab, aku sudah tahu jawabannya," Angel tersenyum. Ia sudah menyelesaikan makannya dan akan segera kembali bekerja.


"Kakak sudah selesai?" tanya Mia.


"Ya, aku harus bekerja."


"Apa kakak masih bekerja di sana?" Angel tak menjawab. Ia hanya tersenyum kemudian pamit dan melambaikan tangannya ke arah Mia dan Azka.


*****

__ADS_1


pranggg!!!


"Apa kamu tidak bisa bekerja dengan benar?!" Lucia yang saat itu tengah memeriksa salah satu club miliknya yang diberikan oleh ketua geng mafia, dibuat marah dan kesal karena ada seorang pelayan yang menumpahkan minuman, hingga mengenai kakinya.


Lucia sementara ini menghentikan langkahnya untuk menghancurkan keluarga Williams. Sejak salah satu anak buahnya menghilang dan tidak terdengar kabarnya hingga saat ini, ia merasa akan berbahaya jika ia tetap bergerak.


Ia yakin sekali anak buahnya tak akan membocorkan apapun tentang dirinya ataupun geng mafia yang menjadi tempatnya bernaung. Black Shadows memang terkenal dengan para anggotanya yang sangat loyal, mereka bahkan rela mati hanya demi anggota yang lain.


"Kamu kira kamu bisa membayar harga sepatuku?" Lucia dengan kasar menarik rambut pelayan tersebut dan mendekatkan ke wajahnya.


"Ma-maafkan saya, Nona," ucap sang pelayan.


"Kamu kira aku akan dengan mudah memaafkanmu, hah?!" teriak Lucia, "Cepat bawa dia ke dalam ruang VIP untuk melayani tamu kita yang datang nanti. Jangan izinkan dia keluar, siapapun yang berani melanggar perintahku, akan aku habisi!" Lucia membuat gerakan horisontal di lehernya, kemudian tersenyum ke arah pelayan yang kini sudah memohon dan berderai air mata.


Dari kejauhan, Angel memperhatikan semuanya. Ia menghela nafasnya dalam melihat semua kejadian itu. Apa yang harus ia lakukan saat ini? Apa ia harus diam menganggap semuanya tak pernah terjadi dan pekerjaannya aman, atau ia harus ikut campur dan merelakan pekerjaannya?


Para tamu mulai berdatangan ke club, Angel juga sudah bersiap untuk mulai melayani para tamu yang datang dengan menawarkan berbagai jenis minuman pada mereka dari harga terendah hingga tertinggi.


Ia melihat bahwa Nona Lucia dan para pengawalnya telah pergi meninggalkan club sekitar 30 menit yang lalu. Angel akhirnya memberanikan diri menuju ke ruang VIP untuk mengecek keadaan di sana.


Tokk ... tokkk ....


Angel bisa mendengar suara tangisan dari dalam. Ia pun mengeluarkan suaranya, "Apa kamu baik baik saja?" tanya Angel.


"Tolong aku! keluarkan aku dari sini! Aku takut!!" Angel masih punya hati untuk tidak membiarkan seorang gadis polos harus merelakan dirinya melayani para lelaki hidung belang.


"Menjauhlah dari pintu," bisik Angel.

__ADS_1


__ADS_2