My Highschool Sweetheart

My Highschool Sweetheart
SIAP LAKSANAKAN


__ADS_3

3 bulan kemudian,


Azka sedang berada di dalam ruang operasi. Mia tidak diijinkan untuk melahirkan secara normal karena terhalang kondisi paru parunya. Meskipun sudah lebih baik pasca operasi, namun Azka tetap melarangnya.


Tak butuh waktu lama, karena Azka kini sudah menggendong seorang bayi laki laki yang begitu tampan.


Axelle dan Vanessa serta Ronald dan Rosa juga berada di depan ruang operasi. Mereka tersenyum ketika melihat Azka keluar dari sana.


"Bagaimana?"


"Operasinya sudah selesai dan bayinya sedang dibersihkan. Mereka akan membawa Mia dan putraku ke ruang rawat. Sebaiknya kita menunggu di sana."


Mereka berlima menunggu kedatangan Mia dan juga cucu mereka. Meskipun ini bukan cucu pertama bagi kedua keluarga, namun kehadiran anggota keluarga baru tetap sesuatu yang sangat membahagiakan bagi mereka.


ceklekkk ....


Pintu terbuka dan sebuah brankar dibawa masuk, bersama dengan sebuah box bayi yang terbuat dari kaca. Kedua pasang pria dan wanita paruh baya itu langsung mengembangkan senyum mereka ketika melihat kehadiran seorang bayi yang terlihat begitu menggemaskan.


"Apa kamu sudah memberikannya nama?" tanya Ronald pada Azka.


"Sudah. Namanya Axton Brave Williams," jawab Azka.

__ADS_1


"Namanya sangat bagus," puji Ronald dan terus melihat ke arah box bayi, "Halo Axton!"


"Kamu sekarang sudah menjadi Daddy, Az. Kamu harus menjadi pribadi yang lebih kuat dan bertanggung jawab," pesan Axelle sambil memegang bahu putranya itu.


"Tentu saja, Dad!" Azka menoleh ke arah Mia yang terbangun karena banyaknya suara. Azka pun mendekatinya dan mengambilkan air minum.


"Di mana Axton?" tanya Mia. Ia memang sudah merencanakan nama Axton untuk putranya setelah mengetahui jenis kelaminnya saat usia kandungannya mencapai 5 bulan. Mereka memilih nama hingga akhirnya mereka sepakat memberi nama Axton Brave Williams saat usia kandungan mencapai 8 bulan.


"Istirahatlah dulu, Axton juga masih terlelap," ujar Azka.Ia tak ingin Mia kelelahan dan berakibat buruk pada kesehatannya. Mia mengangguk dan kembali memejamkan matanya.


*****


tokk ... tokkk ... tokkk ...


"Masuklah," ucap David sambil menandatangani beberapa dokumen yang menumpuk di atas mejanya.


"Permisi."


"Ada apa Em? Apa ada tamu? atau ada dokumen lain yang perlu kutandatangani?" tanya David.


"Tidak, aku hanya perlu berbicara denganmu."

__ADS_1


"Katakanlah. Aku akan mendengarkanmu. Maaf jika aku sambil mengerjakan ini."


"Aku ... aku ingin berhenti bekerja," ucap Emma.


"Berhenti? kenapa kamu berhenti? Apa gaji yang kuberikan kurang? atau ada yang mengganggumu?" tanya David beruntun.


Emma tersenyum. Ia tahu David mengkhawatirkan dirinya, tapi sepertinya ini saatnya ia menuruti keinginan suaminya sendiri. Ia juga harus mempersiapkan diri untuk mengurus buah hatinya nanti.


"Sebentar lagi aku akan melahirkan. Aku ingin beristirahat. Selain itu, suamiku memintaku untuk berhenti bekerja dan fokus dengan rumah tangga kami," Emma sebenarnya sedikit sungkan untuk meminta hal ini dari David. Ia tahu David sangat membutuhkan tenaganya.


David tersenyum ke arahnya, "Akhirnya saat ini tiba juga. Aku tidak menyangka kamu akan lebih dulu memiliki anak daripada diriku," David terkekeh.


"Aku akan menyetujui permintaanmu, tapi bisakah kamu membantuku untuk mencari penggantimu?"


"Syarat apa yang kamu inginkan sebagai asistenmu?" tanya Emma.


"Ia harus cekatan, teliti, dan bisa diandalkan sepertimu. Hanya saja aku menginginkan laki laki yang mengisi posisimu. Aku tak ingin Angel berpikiran macam macam jika aku mempekerjakan seorang asisten wanita."


"Siap laksanakan!" Emma sangat tahu apa yang harus ia kerjakan. Ia bisa mencari asisten terbaik untuk atasannya itu dengan menggunakan kemampuannya di bidang IT.


*****

__ADS_1


__ADS_2