
David memasuki kantor miliknya. Sudah 1 minggu ini ia pergi ke Indonesia, kemudian menemui Azka di Munich. Setelah bertemu Azka waktu itu, Leon langsung kembali ke Indonesia, sementara dirinya menghabiskan waktu untuk sekedar berlibur di Kota Munich.
Ia memanggil asistennya dan menyerahkan semua berkas yang harus dikerjakan oleh tim desain, "Aku sudah menuliskan semuanya di sana. Aku harap mereka bisa segera menyelesaikannya, sehingga aku bisa kembali untuk mempresentasikannya pada Tuan Williams."
"Baik, Tuan," jawab Emma. Emma adalah asisten pribadi David. Meskipun masih muda, namun kerjanya sangat luar biasa. Ia sangat cekatan dan detail, sehingga mampu mengerjakan semuanya dengan baik.
"Jika ada sesuatu yang tidak jelas, kamu bisa mengatur jadwal meetingku dengan bagian desain. Aku juga ingin mendengar bagaimana pendapat serta ide mereka."
"Siap, Tuan," Emma mencatat semuanya dalam buku memo kecil yang selalu ia bawa kemana pun ia pergi.
"Lalu, apa kamu sudah mengerjakan semua yang kuperintahkan selama aku tidak di sini?"
"Sudah, Tuan. Nona Diva tidak pergi ke mana mana. Ia lebih sering menghabiskan waktunya di rumah. Sementara Tuan Alvin lebih sering mendatangi Nona Diva di rumah."
"Apakah Diva menerimanya?"
"Sampai saat ini mereka hanya mengobrol biasa dan sepertinya Nona Diva sedikit menjaga jarak dengan Tuan Alvin," jelas Emma.
__ADS_1
"Baiklah, tetap lanjutkan pengawasanmu. Kamu boleh keluar," Emma pun segera keluar meninggalkan David.
*****
Azka berbicara dengan kedua orang tua Mia tentang rencananya membawa Mia ke New York. Ia sudah menemukan Dokter Spesialis Paru terbaik.
"Bukankah dokter menyarankan untuk secepatnya melakukan donor paru?" tanya Ronald.
"Ya, aku juga sudah mengirim semua rekam medis Mia pada Dokter Stuart. Ia sudah mempelajarinya dan mengatakan bahwa ia bisa memperpanjang waktu hingga kita menemukan donor untuk Mia."
Ronald dan Rosa sedikit bernafas lega. Namun, mereka tetap memiliki rasa khawatir jika donor tersebut tidak ditemukan. Mereka tidak ingin kehilangan Mia.
Di dalam ruangan itu juga dibuat sekat khusus yang berisi tempat tidur untuk kedua orang tua Mia. Azka tahu kedua orang tua Mia pasti tak ingin dipisahkan dengan Mia.
"Az, terima kasih banyak. Uncle dan Aunty tidak tahu harus berkata apa. Kami berjanji akan membalas semua kebaikanmu."
"Jangan katakan apapun, hanya izinkan aku bersama dengan Mia jika ia sudah sembuh nanti. Aku akan menikahinya segera setelah ia sembuh. Aku berjanji akan menjaganya."
__ADS_1
Ronald dan Rosa merasa terharu dengan semua yang dilakukan Azka. Pria itu bahkan ingin menikahi putri mereka, meskipun ia tahu kondisi Mia.
"Apa kamu yakin?" tanya Ronald, "Aku tak ingin kamu terbeban dengan ini. Kamu tahu jika setelah Mia menerima donor, ia akan terus melakukan perawatan, sampai tubuhnya benar benar bisa menerima organ barunya itu."
"Tenanglah, Uncle. Aku menyayangi Mia. Ia telah menyayangiku jauh sebelumnya dan ia tak pernah lelah memperhatikanku. Bukankah kini sudah seharusnya aku membalas semuanya? Ia akan sembuh."
Ronald dan Rosa bernafas dengan lega. Mereka tersenyum melihat kesungguhan Azka. Mereka merasa Mia sangat beruntung bisa mendapatkan Azka.
*****
Lucia akhirnya diserahkan pada pihak kepolisian beserta bukti bukti yang memberatkannya. Ia terus meronta dan berteriak ketika pihak kepolisian memasukkannya ke dalam sel.
"Sialannn kalian semua!! Kalian tidak tahu siapa aku? Aku pastikan akan membakar tempat ini, bahkan menghancurkan keluarga kalian satu persatu!! Cepat lepaskan aku!!!" teriak Lucia sambil berusaha menggoyangkan jeruji besi yang tidak bergerak sama sekali.
"Bisakah kamu menghentikan kegilaanmu. Sebaiknya kamu segera menghubungi pengacaramu besok. Kami akan menyiapkan berkas berkasmu malam ini. Jangan mengganggu kami dengan suara bisingmu," seorang polisi berusaha untuk membuat Lucia diam.
"Keluarkan aku!!! Dasar kalian semuaaa sialannn!!! Aku benci kalian semua," teriak Lucia.
__ADS_1
Mengingat Lucia, Lydia, dan ibu mereka Shelly berada di dalam tahanan, Azka berinisiatif untuk membawa Ayah Lucia ke rumah sakit agar mendapatkan perawatan. Apa yang dilakukan oleh Lucia selama ini hanya karena dendam yang tak akan pernah selesai jika diteruskan. Ketika melihat keadaan Ayah Lucia pertama kali, hati azka langsung tergerak dan meminta anak buah Black alpha untuk menyiapkan kamar khusus di rumah sakit dengan perawat yang bisa menjaga dan menemaninya.
Azka akan bersikap baik pada orang yang baik, dan bersikap kejam pada orang yang jahat. Baginya, orang jahat tidak bisa dilawan dengan kebaikan karena mereka akan memanfaatkan kesempatan itu untuk menyakitinya lebih dalam lagi.