
3 bulan berlalu, pernikahan antara Billy dan Emma akhirnya terlaksana. Bima dan Karla sebenarnya sudah mengetahui mengenai Emma sebelumnya dan mereka menyiapkan pernikahan tanpa memberitahu Billy. Bahkan mereka bekerja sama dengan Emma untuk mengerjai Billy.
"Kita belum pernah menemui dokter kandungan lagi sejak pertama kali mengetahui kehamilanmu," Billy berlutut di depan Emma sambil mencium perut Emma.
"Bagaimana kalau minggu depan saja? Minggu ini pekerjaanku masih banyak," ucap Emma.
"Apa tidak sebaiknya kamu berhenti bekerja? Aku masih mampu mencukupi semua kebutuhanmu."
"Aku bekerja dengan David bukan karena kamu tidak bisa mencukupi kebutuhanku. Aku berhutang budi padanya."
"Seharusnya mereka yang berhutang budi padamu karena telah menyelamatkan adiknya, bukan kamu yang berhutang," jelas David.
"Bagaimanapun, hanya keluarga Asher yang memberiku pekerjaan saat itu. Mereka tidak melihat latar belakang kehidupanku ataupun pendidikanku. Dengan lapang dada mereka menerimaku, bahkan Diva sudah kuanggap seperti adikku sendiri."
"Aku tidak suka kamu berhubungan dengan mereka," ujar Billy.
"Kenapa? Apa karena Angel? kudengar dengar, kamu pernah menjadikannya bahan taruhan dengan teman temanmu," mata Billy membulat ketika rahasianya diketahui oleh istrinya.
"Kata siapa?" Billy berusaha mengelak.
"Tentu saja kataku, kan barusan aku yang mengatakannya," ucap Emma.
"Dari mana kamu tahu? Aku kan tidak pernah menceritakannya pada siapapun," Billy langsung menutup mulutnya karena ia sudah kedapatan jujur.
"Anak pintar," Emma menepuk pipi suaminya itu, "Tenanglah, aku tidak akan marah. Lagi pula itu kan hanya kenakalan di masa sekolah. Tidak masalah bagiku. Tapi jika kamu melakukannya saat ini ... jangan harap aku mengampunimu. Aku akan pergi darimu membawa anak ini, setelah sebelumnya menghabisi burung perkututmu itu."
__ADS_1
"Enak saja burung perkutut. Milikku ini adalah kobra yang akan menggigit milikmu. Apa kamu ingin mencobanya sekarang?" tanya Billy.
"Ishhh ... kesempatan!"
"Kamu itu sudah jadi istriku, masih saja mengatakan aku ini cari cari kesempatan. Ayolah, kita bermain sebentar ya. Ularku ingin menemui pawangnya," Billy mengedipkan matanya berkali kali untuk membuat Emma luluh, tapi sayang hal itu sama sekali tidak akan berhasil.
"Aku harus bekerja. Kamu mau mengantarku atau aku pesan taksi online sekarang?" tanya Emma sambil menoleh ke arah Billy.
"Baiklah, baiklah. Aku akan mengantarmu. Tapi bisakah kamu mengabulkan permintaanku?"
"Apa?"
"Cobalah katakan pada David untuk mencari penggantimu. Aku benar benar khawatir jika kamu harus terus bekerja dalam keadaan hamil."
"Baiklah, aku akan mencobanya. Tapi aku tidak janji David akan mengabulkan permintaanku."
Angel merenung di balkon kamar tidurnya. usia pernikahannya sudah hampir setengah tahun, tapi masih belum ada tanda tanda ia hamil.
Mereka sudah pergi ke dokter untuk memeriksakan kandungan mereka, dan dokter mengatakan kalau mereka berdua dalam keadaan sehat.
Angel melihat Diva, adik iparnya yang baru menikah 1 bulan yang lalu, tapi sudah dinyatakan hamil. Tak terasa bulir air mata jatuh di pipinya. Meskipun orang orang akan mengatakan padanya untuk selalu sabar karena usia pernikahan mereka baru seumur jagung, tapi melihat sekelilingnya begitu mudah untuk hamil, membuat Angel semakin berkecil hati.
Ia berdiri, memegang railing balkon sambil membuang pandangannya lurus ke depan.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" David memeluk pinggang Angel dari belakang. Sedari tadi istrinya itu melamun hingga tak menyadari bahwa dirinya masuk ke dalam kamar dan memperhatikannya.
__ADS_1
"Ahh ... aku tidak memikirkan apa apa, hanya sedang memandang taman belakang," dengan cepat Angel menghapus air matanya. Ia tak ingin David melihat kesedihannya.
David memutar tubuh Angel. Ia masih dapat melihat sisa air mata di wajah Angel, "Apa kamu menangis?" David mengusap sisa air mata yang tertinggal.
"Mataku hanya kelilipan saja. Apa kamu tidak merasakan kencangnya angin, hmm?" Angel masih terus menghindar. Angel begitu takut pernikahannya akan hancur tanpa kehadiran seorang anak. Kehancuran dalam pernikahan selalu membuatnya takut dan was was.
Setiap malam setelah David tertidur, ia selalu terbangun dan memandangi suaminya itu. Ia takut semua ini hanya halusinasi yang akan hilang bagai mimpi.
David mencium tengkuk Angel dan meninggalkan tanda kepemilikan di sana. Tangan David merangsak masuk ke balik dress yang dikenakan Angel, hingga wanita itu meremang karena sentuhan yang diberikan oleh David.
"Jangan pernah memikirkan hal yang buruk. Aku akan selalu ada bersamamu, apapun yang terjadi," David menggedong Angel dan merebahkannya di atas tempat tidur. Ia mulai membuka pakaian mereka berdua hingga tubuh keduanya polos.
David memberi lummatan pada bibir Angel dan memasukkan lidahnya untuk mengeksplor mulut istrinya itu. Ia melakukan semuanya dengan perlahan, agar Angel merasa relaks dan tenang. Ia memberikan sentuhan pada tubuh Angel, kemudian meremas kedua bukit kembar dengan pijatan yang benar benar membuat wanitanya terbuai.
David menciumi seluruh tubuh Angel. Ia juga memainkan milik Angel dengan lidahnya, membuat Angel menggeliat san menggelinjang karena kenikmatan yang diberikan oleh David.
"I love you," ucap David di telinga Angel.
"I love you too. Please don't leave me. I'm scare," Angel mengalungkan kedua lengannya di leher David dan memberi beberupa tanda kepemilikan di sana.
"Aku tidak akan pernah pergi. Aku yang seharusnya takut kamu akan pergi dariku. Aku mencintaimu, My Angel, now and forever."
Sebuah senyuman terbit di wajah Angel. Ia langsung membalik posisi mereka dan membuat dirinya berada di atas. Angel memberikan sentuhan di seluruh tubuh David dan memainkan milik David dengan mulut dan lidahnya. David mengerrang sambil memegang kepala Angel.
"Sayang, bisakah kamu langsung membiarkan senjataku masuk ke dalam milikmu?" Angel menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ahhh .... ahhh .... ahhh ....," Angel mendessah dan mengerrang di bawah tubuh David. David yang melihat Angel sengaja menggodanya, langsung kembali memutar posisi mereka dan memasukkan senjatanya. Ia menghentakkannya perlahan, semakin lama semakin cepat hingga akhirnya mereka mencapai puncak bersama. David mencium perut Angel dan berdoa supaya bibit bibit premiumnya segera menghasilkan sesuatu.