
Dokter yang merupakan rekomendasi dari Dokter Stuart tersenyum setelah mendengarkan apa yang terjadi. Ia menghubungi sahabatnya yang juga seorang dokter di sana.
"Aku telah menghubungi sahabatku, kalian bisa langsung ke sana tanpa mengantri. Namanya Dokter Alicia, ia adalah seorang dokter kandungan."
Mendengar kata dokter kandungan, Mia menjadi takut. Apakah kandungannya kini juga bermasalah? Kondisinya saat ini sudah merepotkan Azka. Jika kandungannya juga bermasalah, maka ia .....
"Az, apa kandunganku bermasalah?" tiba tiba saja air mata mengalir di pipinya.
"Tenanglah. Tak akan terjadi apapun padamu. Ingatlah bahwa aku akan selalu bersamamu."
"Tapi ... ," Azka berbalik dan memegang bahu Mia, "Jangan katakan apapun sebelum kita selesai menemui dokter. Jangan membuat asumsi sendiri dengan pikiranmu, okay?"
Akhirnya Mia mengangguk, meski hatinya tetap merasa tidak tenang. Mereka turun menuju lantai dasar di mana poli kandungan berada. Setelah menanyakan ruangan Dokter Alicia pada bagian administrasi, mereka pun mengetuk pintunya.
Mereka dipersilakan masuk oleh seorang perawat. Di belakang meja telah terlihat seorang wanita paruh baya dengan kacamata bertengger di pangkal hidungnya.
"Nyonya Williams, silakan berbaring," perintah Dokter Alicia.
Azka membantu Mia untuk berjalan ke arah brankar, kemudian perawat itu mengambil alih. Mia berbaring, kemudian perawat itu menyelimuti Mia dan membuka bagian perut Mia.
__ADS_1
"Jangan takut, tidak akan terjadi apa apa," ucap Dokter Alicia tersenyum sambil memegang alat USG di tangannya.
Setelah mengoleskan gel pada alat transduser, ia menempelkan alat tersebut di perut Mia. Ia menggeser alat tersebut kemudian mengambil gambar dan mencetaknya. Perawat itu membersihkan bekas gel yang ada di perut Mia dan membantunya untuk kembali berdiri.
Kini Azka dan Mia duduk berhadapan dengan Dokter Alicia, "Apa saya mengidap suatu penyakit yang berbahaya?" tanya Mia yang memang sejak tadi dilanda rasa khawatir. Azka langsung menggenggam tangan Mia.
Dokter Alicia tersenyum pada Mia, kemudian menyerahkan gambar yang tadi ia cetak, "Tidak, tak ada penyakit berbahaya pada kandunganmu. Lihatlah ini, kalian berdua akan segera memiliki seorang bayi. Saat ini usianya baru 4 minggu, jadi baru terlihat seperti biji kacang."
Tanpa disadari bulir air mata kembali terjun dari mata Mia. Mendengar bahwa ia akan segera memiliki seorang anak, membuatnya tak dapat menahan rasa haru.
"A-aku punya anak, aku akan punya bayi," Mia menoleh ke arah Azka masih dengan air mata berurai.
Dokter Alicia meresepkan penguat kandungan dan beberapa vitamin setelah melihat catatan kesehatan Mia. Ia juga meminta Mia untuk tidak terlalu lelah dan mengkonsumsi makanan yang sehat.
"Apa kamu hanya akan menciumnya saja, aku tidak?" Mia tersenyum saat melihat Azka merajuk.
"Tentu saja tidak, aku akan memberikan lebih banyak ciuman pada seseorang yang sudah membuatku memiliki seorang bayi," Mia mencium pipi Azka kemudian tersenyum.
"Kalau begitu jangan di sini. Ayo kita pulang dan menyelesaikan semuanya," Azka menggenggam tangan Mia dan membawanya ke arah parkiran. Ia ingin segera sampai di apartemen untuk menagih semua ciuman yang bisa diberikan oleh Mia untuknya.
__ADS_1
*****
Malam itu, Emma akan melakukan rencananya. Ia sebenarnya sedikit ragu melakukannya karena ia takut Alvin tidak mampu mengatasinya. Secara tidak langsung Alvin akan menganggap David menjebaknya dan akan membencinya. Diva juga mungkin akan menyalahkan kakaknya karena memisahkan dirinya dengan Alvin dengan cara yang licik.
Emma duduk di meja bartender, kemudian menegak minumannya dalam sekali tegukan. Ia melihat ke arah mangsa yang kini baru saja memasuki club. Emma dengan mudah bisa mengetahui semua aktivitas Alvin, bahkan sampai semua data dirinya ia akan dengan mudah mendapatkannya. Emma memang dianugerahi dengan kemampuan IT yang luar biasa, yang ia simpan dengan rapat.
Saat ini Emma melakukan penyamaran agar tak ada yang mengenalinya. Alvin duduk tak jauh dari posisinya. Ia seperti sedang menunggu seseorang. Emma berjalan mendekati Alvin ketika seorang bartender telah meletakkan minuman di hadapannya.
"Apa anda ingin ditemani?" tanya Emma
"Tidak, pergilah. Aku ke sini bukan untuk bertemu wanita sepertimu," jawab Alvin.
Emma memegang bahu Alvin dan mengarahkan tubuh pria itu agar menghadapnya, kemudian ia mengalungkan tangannya di leher Alvin, "Kamu kejam sekali, padahal aku ingin menikmati malam ini denganmu."
Emma tersenyum ketika sekali lagi Alvin menolaknya, bahkan mendorongnya menjauh. Ia telah berhasil memasukkan obat perangsang tersebut ke dalam minuman Alvin. Tapi Emma tidak memasukkan dosis tinggi, hanya dosis biasa agar Alvin merasa kepanasan.
"Baiklah, baiklah, aku pergi," Emma mengangkat kedua tangannya kemudian berlalu menjauh, tapi tetap dalam jangkauan. Ia akan tetap mengawasi Alvin.
Tak berapa lama seseorang datang menghampiri Alvin dan membuat mata Emma membulat, "Bagaimana ia bisa ada di sini? bukankah seharusnya ia ada di Munich?"
__ADS_1
Setelah menepuk bahu Alvin, pria itu langsung menegak gelas minuman yang tadi disuguhkan untuk Alvin, membuat Emma kembali mengeram kesal.
Emma menarik rambut dengan kedua tangannya, "Kacau!"