
Langit pun kini telah menunjukkan waktu sore. Aku pun sudah merasa baikan. Bu Kirana juga masih menjaga ku. Aku pun tak ingin berlama-lama di rumah sakit ini. Bu Kirana pun sudah menanyakan apa aku sudah boleh pulang. Aku di bantu bu Kirana merapikan diri. Setelah semuanya beres, aku pun pulang di antar bu Kirana. Keluar dari rumah sakit dengan di papah Bu Kirana. Dia sangat baik padaku. Mungkin dia prihatin pada ku setelah tahu kisah ku.
Di taxi pun Bu Kirana hanya mengobrol santai. Beliau tidak menanyai ku tentang mengapa aku menangis. Tak berselang lama, aku pun sampai di depan rumah kost ku. Di luar ada mbak jessy yang baru pulang dari kampus. Dia kaget melihat ku pulang di antar wali kelas ku.
" Makasih ya Bu, maaf saya jadi merepotkan anda," Ucap ku pada Bu Kirana.
" Tak apa-apa nak, itu sudah jadi kewajiban saya sebagai wali kelas." terang nya pada ku. Dia tersenyum tulus pada ku. Beliau juga tidak lupa mengelus kepala ku.
"Bu, bagaimana dengan motor saya? " tanya ku pada bu Kirana.
" Nanti motor mu akan di antar teman sekelas mu " jawab Bu Kirana pada ku. Setelah itu aku mengucapkan terimakasih sekali lagi dan Bu Kirana pamit pulang pada ku. Aku pun mengijinkan beliau pulang. Aku melambaikan tangan ketika taxi Bu Kirana melaju. Beliau membalas nya dengan senyuman.
__ADS_1
Setelah selesai dengan Bu Kirana, sekarang giliran aku menghadapi kak jessy yang super duper kepo. Aku menghela nafas panjang.
" Kenapa lo dek, kok pulang di anter sama wali kelas mu? ", tanya mbak jessy pada ku.
" Gue abis kumat mbak" balas ku santai. Ku lihat wajah mbak jessy panik. Dia langsung memutar-mutar badan ku. Aku pun langsung memegang tangan mbak jessy agar pemeriksaan tak berlanjut lagi.
" Lo kumat, tapi gak bilang sama gue " Sulut mbak jessy pada ku. Dia tampak kesal pada ku.
" Lain kali tuh bilang, jangan buat gue kawatir dek. Lo itu juga keluarga gue, dek." Terang mbak jessy pada ku. Aku pun hanya menjawab iya. Di dalam hati pun aku pun merasa sedikit bersalah. Mbak jessy pun menuntun ku ke dalam rumah.
Sesampainya di kamar, mbak jessy pun pamit balik ke kamar nya. Aku pun mengistirahatkan tubuh ku. Rasa lemas dan lelah pun belum hilang sepenuhnya. Bayangan kejadian di rumah sakit tadi memenuhi pikiran ku. Kisah lama yang belum usai terkadang perlu di selesai kan agar tak menjadi beban untuk kedepan nya. Sesak memang jika di ingat kembali. Namun bayang-bayang itu tak pernah bisa terlupakan oleh ingatan.
Flashback
__ADS_1
Duduk berdua di ayunan sambil mengobrol kan tentang hal-hal yang tak begitu penting. Tawa pun terdengar keras. Begitu indah hari ini, wajah bahagia terpancar dari kita berdua. Sangat sederhana memang kebahagiaan yang tercipta. Namun itulah yang kita cari.
Namun kebahagiaan itu tak berselang lama menjadi sebuah tragedi. Sangat ironis memang hidup ini. Dia pergi ketika aku berada dalam kehancuran. Meninggal kan luka yang begitu dalam. Pergi tanpa sebuah perpisahan dan kata pisah yang tak pernah terucap. Dia sangat lah kejam, pergi tanpa pernah kembali. Kisah yang pernah kita rajut pun hanya menjadi kenangan. Aku bisa apa selain bertahan dengan luka menganga yang ada.
Tak hanya dia yang menabur luka, tapi semua orang yang ku kenal seakan ingin menghancurkan hidup ku. Keluarga ku, sahabat ku, bahkan teman ku pun seakan berlomba-lomba untuk menyakiti ku. Hingga pada suatu ketika aku pun memutuskan untuk mengubah jalan hidup ku. Memulai nya dari awal dengan aku yang baru. Aku pun juga melupakan semua nya, benar-benar memulai nya dari awal.
Tapi itu semua tak semudah itu. Dia kembali datang di kehidupan ku lagi, dia lagi-lagi menciptakan luka yang dalam dalam diriku. Sampai dia lagi-lagi meninggal kan ku. Aku pun sudah tak memiliki harapan. Aku hampir ingin mengakhiri hidup ku. Berkali-kali aku mencoba untuk mengakhiri hidup ku, berkali-kali juga orang-orang menyelamatkan ku. Aku sungguh beruntung, tapi setelah itu semua aku tak lagi sama.
Aku mengidap PTSD suatu penyakit kejiwaan. Aku memang tak gila hanya saja aku memiliki Dunia ku sendiri. Aku selalu merasa tak tenang. Tidur ku tak pernah bisa nyenyak. Mimpi buruk pun tak pernah absen dari tidur ku. Hingga aku pun tak pernah lupa mengkonsumsi obat penenang di setiap malam ku.
Sampai setelah sekian lama, penyakit itu sudah mulai membaik. Aku pun sudah tak sesering dulu mengkonsumsi obat penenang. Aku sudah mulai kembali seperti sedia kala. Namun aku tak benar-benar bisa kembali seperti dulu. Tak ada senyum dan juga tawa. Hingga pada suatu saat senyum itu mulai kembali, dia yang ingin ku hindari datang lagi.
~~~
__ADS_1