
“aku suka dengan hasil jepretan mu, “ucapnya padaku.
“makasih.” Jawab ku padanya dengan kepala menunduk menyembunyikan semburat merah di wajah.
Setelah pujian itu, dia mengajak ku makan siang bersama di kantin. Ya mana bisa aku menolak kalau di kasih anugrah seperti ini. Kami pun langsung berjalan menuju kantin.
Saling bertukar senyum dan bercerita satu sama lain. Rasanya aku telah sangat akrab dengan nya. Padahal yang tadinya kami sempat canggung. Tapi beginilah adanya.
Saat kami berjalan bersama banyak pasang mata yang menatap kami. Mungkin mereka heran kali lihat cogan yang keren abis. Aku sih biasa aja, tapi ku lihat mas Bian sedikit risih dengan pandangan mereka.
__ADS_1
“Udah mas, gak usah di hiraukan. Biar aja sih, “kataku ke mas Bian.
“aku sedikit risih, tapi ya biasa sih, “ Jawabannya padaku.
“Yuk lah mas, aku juga udah laper banget nih “ ucapku seraya menarik tangan mas Bian agar lebih cepat.
Kami pun sampai di kantin, di sini tuh lumayan rame padahal belum jam istirahat, biasalah mereka. Aku memesan soto, sedangkan mas Bian memesam gado-gado. Kami pun memilih bangku yang ada di sudut dekat pohon besar. Karena di sana tempat nya sejuk dan enak sih bisa lihat semuanya.
Tak berselang lama makanan kami pun datang, aku dan dia sama-sama berdo’a terlebih dahulu sebelum menyantap makanan kami. Setelah itu pun kami makan dengan khidmat, karena aku sendiri tak suka ketika makan ada yang mengajak ku mengobrol.
__ADS_1
Setelah makan pun kami melanjutkan obrolan kami yang tadi. Aku sangat suka sudut pandangnya. Aku jarang menemukan orang yang berpandangan sangat terbuka, tapi juga masih menganut paham paham lama.
Kami juga saling bertukar cerita, tapi masih dalam batasan kami. Dia sedikit menceritakan pengalaman nya saat di kampus. Itu sangat membuat ku penasaran, seperti apa dia saat berada di lingkungan nya. Apakah sama seperti sekarang atau berbeda.
Ku lihat jam, aku terkejut ini sudah hampir masuk jam pelajaran ke 5. Tapi herannya aku merasa baru sebentar mengobrol dengan mas Bian. Rasanya ingin lanjut mengobrol saja, tapi takut kalau di alpha sama guru matpel ini.
Aku pun beranjak dari bangku kantin, tak lupa aku pamit pada mas Bian terlebih dahulu. Setelah pamit aku pun buru-buru ke kelas. Sampai-sampai aku lupa jika tadi novel ku masih ada di meja kantin. Tapi kalau aku mau kembali ya sayang dong, udah setengah jalan. Jadi nanti saja lah ku ambil, palingan sudah di simpan sama bu kantin. Kuharap sih begitu.
Aku pun masuk ke dalam kelas dengan nafas memburu, dan rasa takut yang begitu mendera. Sumpah aku tuh jarang banget telat masuk kayak gini, biasanya pun kalau tepat masuk itu pas waktu gak ada gurunya. Dan kali ini udah telat masuk hampir satu jam pelajaran dan lagi ada guru yang mengajar. Nyesel deh kalau kayak gini. Sumpah jadi serba salah nih.
__ADS_1
Gurunya pun menatap ku tajam saat aku masuk ke kelas. Aku sih sudah memprediksi jika akan terjadi hal seperti ini sih. Siap gak siap sih sebenarnya. Gak tau lagi harus alasan apa nantinya. Yang penting sekarang aku masuk dan meminta maaf atas keterlambatan ku kini. Gak tau nanti kalau di hukum pun aku juga sudah siap menerima hukuman nya.