
Saat ku buka paket itu betapa aku terkejutnya melihat isi di dalam paket itu. Paket itu berisi kotak beludru merah berukuran sedang dan buku album yang berhiaskan dream chater. Jantung ku mulai berdetak tak beraturan. Aku memberanikan diri untuk lanjut membuka kitak beludru itu. Betapa aku terkejut dengan isinya. Sebuah kalung yang bertahtakan matahari dengan disertai ukiran namaku yang terlihat begitu indah.
Tangan ku bergetar ketika memegang kalung itu. Kalung yang dulunya ingin sekali aku miliki dan aku pun tahu siapa pengirim paket ini. Air mata ku pun sudah menggenang di pelupuk mata. Hati kecil ku merasa kan secuil rasa yang seharusnya ku lupakan. Tak sengaja mataku tertuju buku yang masih berada pada kotak itu. Tangan ku dengan ragu mengambil dan membuka buku itu. Saat di lembaran pertama pun buku ini sudah mampu membuat benteng pertahanan ku hancur.
Air mata ku meluruh tanpa henti. Hatiku rasanya remuk tak bersisa. Dengan segala kekuatan yang masih tersisa aku melanjutkan membuka lembar demi lembar isi buku ini. Semua hal yang dulu ku lakukan ada dalam buku ini, disertai juga keterangan di setiap gambaran peristiwa. Begitu banyak hal yang aku sendiri tak pernah sadar, bahwa dia masih ada di hatiku.
Aku memeluk buku ini dengan erat, seperti aku menyalurkan semua perasaan yang ku punya pada pemilik nya. Tangisan ku juga tak kunjung mereda. Perasaan yang selama ini kusimpulkan ternyata selama ini salah, tapi kenapa harus sekarang. Setelah semua masa sulit aku lalui dia baru menunjukkan keberadaan nya. Di mana dia saat aku membutuhkan nya? Di mana dia saat aku butuh tempat untuk ku bertahan? Dia tak pernah sekali pun datang.
__ADS_1
Tapi kenyataan nya sejauh apapun aku menolak nya, hati kecil ku masih berkata ya dengan kehadiran nya. Aku juga tak ingin terus menyalahkan atas semua kejadian. Ini adalah takdir Tuhan, yang aku pun tak ingin ini terulang. Cukup semua ini hanyalah menjadi kenangan. Jangan sampai ini kembali datang dan menghancurkan.
Bara pov
Berada di tengah kesibukan tak membuat sedikit pun aku teralihkan akan bayangan nya. Selalu saja bertanya-tanya tentang keadaan nya. Tapi masih pantas kah aku kembali lagi padanya. Aku takut akan sebuah penolakan.
Aku pun segera mencari semua hal yang aku butuh kan. Mulai dari mempersiapkan kalung yang berhiaskan matahari dengan ukiran namanya di belakang. Itu yang pernah ia katakan pada ku ‘dulu'. Kini keinginan itu aku akan coba mewujudkan nya. Aku ingin senyum nya hadir kembali seperti dahulu kala.
__ADS_1
Setelah selesai dengan karung nya. Aku menyusun foto-fotonya dalam sebuah album, dan tak lupa ku beri keterangan di setiap momen nya. Kusususun dengan sedemikian rupa, agar terlihat indah dan tertata. Sungguh ini terlihat sangat menggelikan. Pria berumur seperti ku membuat hal sepele seperti ini. Tapi itu tak apa, jika bisa mengembalikan senyuman nya yang pernah hilang.
Aku terlalu fokus pada apa yang aku kerjakan sekarang. Hingga aku lupa menjalankan tugas negara yang sedang ku emban. Oh sebegitu lama kah aku menyusun foto-fotonya. Aku pun menunda menyelesaikan ini. Aku pun beranjak dan segera pergi ke ruang praktek. Aku pun menyunggingkan senyuman pada setiap pasien yang kutemui. Agar tak tercipta suasana tegang antara pasien dan dokter.
Setelah memeriksa pasien terakhir, aku pun meregangkan tubuh ku yang serasa kamu. Setelah semua beres, aku berjalan keluar dari ruang praktek. Aku berjalan menuju ruangan ku yang lumayan jauh dari klinik. Banyak dokter maupun perawat yang menyapa ku, aku pun membalas sapaan mereka dengan senyuman khas yang kupunya.
Saat aku tiba di ruangan aku mengemasi barang-barang yang tadi aku gunakan. Aku mau melanjutkan ini di rumah. Setelah semua telah ku masukan, aku segera pulang untuk melanjutkan pekerjaan yang ku tunda sebelum nya. Aku tak sabar melihat reaksi nya. Sungguh itu hal yang kunantikan dari nya.
__ADS_1