
Terapi kali ini di akhiri, aku juga sangat lelah. Apalagi kali ini membutuhkan waktu yang sangat lama. Dokter saka menyuruh ku kembali ke ruangan tempat aku tidur. Dia akan menyusul ku setelah menuliskan rekam medis ku. Dia akan memberikan konseling lagi setelah selesai dengan pasien-pasiennya. Aku pun hanya bisa menurut i saja tanpa banyak memprotes nya seperti yang kulakukan biasanya. Aku sudah tak memiliki banyak tenaga untuk hanya sekedar berdebat dengan dokter saka.
Aku pun berjalan ke ruangan dengan tubuh yang lemas. Oh Tuhan apalagi ini, ruangan yang ku tuju sangat lah jauh dari tempat ku berada kini. Aku berharap sih sisa-sisa tenaga ku cukup untuk aku sampai ke sana. Mau minta bantuan siapa coba kalau aku tiba-tiba jatuh di sini, meski tempat ini lumayan sering di lewati tapi kan yang lewat hanya lah pasien dan suster yang membantu, dan gak mungkin kan aku merepotkan mereka.
Dengan jalan yang pelan dan tertatih-tatih, akhirnya aku sampai juga di ruangan ku istirahat ini. Peluh pun sudah membasahi tubuh ku, aku masuk ruangan dan langsung menjatuhkan tubuh ku di ranjang tempat ku tidur tadi. Huhuhuhuhu tubuh ini rasanya kayak mau rontok deh, capek banget.
Aku mengistirahatkan tubuh ku, tak lupa aku juga memejamkan mata ku. Menenangkan pikiran ku, dan tak lupa aku mensugestikan pada diriku sendiri kalau semua ini baik-baik saja. Tak mungkin kan aku harus selamanya seperti ini. Aku juga tak bisa selamanya bergantung pada orang terus menerus, aku harus bisa melewati semua ini seperti waktu itu.
Sampai sampai aku lupa bahwa seharusnya aku hari ini tuh masih harus bersekolah. Sangking banyak nya pikiran ku hingga aku sampai lupa bahwa status ku saja masih seorang pelajar. Kok bisa bisanya aku meninggal kan kewajiban ku. Tak butuh waktu lama, aku langsung mengambil ponsel ku.
__ADS_1
Aku segera menghubungi wali kelas ku, aku tak mau ada alfa yang bisa membuat ku terkena poin. Untung saja aku cukup dekat dengan wali jelas ku, kan kalo izin gini kan jadi enak. Aku langsung menelepon beliau, dan saat beliau mengangkat aku langsung menjelaskan kenapa aku tidak bisa masuk hari ini. Untung saja bu Kiran mengerti akan kondisi ku, malah beliau khawatir dengan keadaan ku sekarang.
Aku menjelaskan bahwa aku sudah baik-baik saja, aku nggak ingin banyak orang khawatir dengan kondisi ku. Setelah itu bu Kiran juga sudah menerima surat izin tidak masuk ku, ya tau sendiri yang kirim surat pasti dokter Saka. Dia kan selalu teliti dengan semua nya, jadi tak heran dia sudah mengirim kan surat izinkan ke pada pihak sekolah. Aku pun mengakhiri telepon.
Kini tenaga ku sudah mulai sedikit pulih, tapi masih ada sih dikit rasa lelah. Aku masih membaringkan tubuh ku di ranjang ini. Tiba-tiba dokter saka masuk, seperti biasa dia selalu masuk tanpa mengetuk atau memberi tahu dulu, selalu saja bikin orang kaget.
Ku lihat dari wajah nya tampak tidak baik, pasti ada masalah yang sangat serius atau mungkin kondisi ku yang sudah sangat parah.
Aku sendiri juga sudah bisa menebak nya, jadi aku juga tidak terlalu terkejut mengetahui kondisi ku. Tapi aku merasa bersalah pada dokter Saka, yang selama ini sudah banyak membantu ku untuk bisa kembali pulih. Tapi kini aku malah kembali ke kondisi semula dan itu seperti menjadi pukulan bagi dokter Saka. Dia merasa gagal karena tak dapat membantu ku ke dalam kondisi yang lebih baik.
__ADS_1
Aku berusaha untuk tegar, dan kini aku aku bertekad untuk pulih. Setidaknya aku tidak mau mengecewakan orang yang sudah banyak membantu ku. Aku tidak ingin orang lain kecewa dengan kondisi ku padahal sudah memberikan banyak bantuan.
Setelah menyampaikan itu dokter Saka kembali seperti biasa, walaupun binar di matanya masih menunjukkan kekecewaan dengan dirinya sendiri. Tak lupa dia mengingat kan ku untuk konseling sebelum aku pulang nanti. Kali ini aku patuh dengan semua wejangan yang dia berikan.
Selesai dengan berbagai petuah dan wejangan dokter Saka keluar dan menyuruh ku untuk kembali beristirahat. Tak lupa sebelum keluar dia mengusap kepala ku dan menyunggingkan senyuman khasnya. Dia lebih mirip seperti seorang kakak laki-laki dari pada dokter yang menangani ku.
Kini aku di ruangan ini sendiri. Aku ternyata masih beruntung memiliki orang sekitar yang peduli dengan ku. Apalagi mereka tak serta merta menjauhiku karena kondisi ku yang seperti ini. Jadi aku sekarang mengumpulkan tekadku untuk bisa melawan kondisi ku. Aku tidak ingin mengecewakan mereka lagi. Cukup kali ini aku membuat mereka kecewa tidak untuk nanti.
Aku memutuskan untuk tidur sebentar, kali ini aku berusaha menenangkan pikiran ku dahulu agar tidur ku tidak gelisah. Aku tidak ingin Terkegantungan akan obat penenang, karena itu juga tidak lah baik untuk ku konsumsi setiap saat. Memang ini sungguh sulit untuk di lakukan, tapi jika aku dulu mampu melewati mengapa kini aku tidak bisa, kan itu sangat mustahil.
__ADS_1
Cara itu sulit sih untuk kembali di lakukan, tapi aku mengingat trik lama yang sering aku gunakan juga dulu. Aku langsung mengambil handphone ku dan menyala kan music ballads dengan volume yang hanya bisa di dengar oleh ku. Dulu cara ini yang sering aku gunakan jika aku sudah mulai susah untuk tidur dan ini berhasil. Aku tak butuh banyak waktu yang lama untuk aku bisa tidur dengan pulas.
Aku tak tahu tertidur berapa lama sampai-sampai ada suster yang membangun kan ku untuk jadwal konseling hari ini. Aku tidak menyangka aku bisa kembali tidur dengan lelap dan tenang. Aku merapikan pakaian ku dulu sebelum melakukan konseling dengan dokter Saka. Aku juga tak lupa mencuci muka ku agar terlihat jauh lebih segar. Setelah selesai aku ke ruangan konseling bersama suster yang membangun kan ku tadi. Kami mengobrol di sepanjang perjalanan. Sungguh aku suka dengan orang seperti dia, cantik dan ramah. Sungguh perpaduan yang sempurna.