My Mysterious Girl

My Mysterious Girl
Part 37


__ADS_3

Aku membuka ponsel ku dan melihat pesan itu. Benar saja ternyata pesan itu dari kakek ku. Terus terang saja ada perasaan tak enak menyusup di hatiku. Seperti pesan pesan sebelum nya, kakek mengirimkan bujukan untuk aku pulang ke rumah. Sejujurnya aku ingin pulang ke rumah, tapi aku masih belum siap dan belum kuat menerima kenyataan pahit itu.


Tanpa sadar air mata ku menetes membanjiri wajahku. Aku rindu sebenarnya dengan kakek, tapi aku masih belum siap untuk kembali mengingat luka lama itu. Selalu saja seperti ini ketika aku disuruh untuk kembali. Aku ingin tapi luka ini belum lah sepenuh nya sembuh. Aku akan berusaha segera berdamai dengan masa lalu.


Segera ku hapus air mata ini, aku berusaha menyanyikan diriku bahwa aku bisa. Aku tak boleh menyerah dengan keadaan, apa pun yang terjadi nanti biar lah menjadi teka-teki tersendiri. Yang harus ku lakukan sekarang adalah bertahan dan menguatkan keyakinan ku agar tak mudah goyah.


Aku tak dapat membaca novel lagi, karena fokus ku sudah terpecah. Tapi rasanya aku tak ingin beranjak dari sini, di sini terlalu nyaman untuk aku tinggal kan sama halnya dengan kenangan. Pemandangan yang hijau apalagi di tambah kesejukan yang tak di pungkiri dapat menghilang kan stress yang melanda.


Aku mengambil ponsel di saku ku, langsung ku ambil sebuah gambar pemandangan yang bagiku sangat menakjubkan. Berkali-kali aku memotret nya tapi aku tak puas kalau hanya mengambil gambar sekali dia kali saja. Karena pemandangan indah itu harus di abadikan dengan sebaik mungkin, siapa tahu bisa di jadikan kenangan di hari tua nanti.

__ADS_1


Aku mengamati hasil jepretan ku di galeri, lumayan banyak lah gambar yang ku ambil padahal objeknya masih sama. Aku sangat puas ketika melihat jepretan-jepretan yang ku ambil ini. Sungguh ini sangat menakjubkan kan.


Saat aku sibuk menggeser layar ponselku, aku mendengar langkah kaki yang berjalan ke arah ku. Tapi aku tak menghiraukan hal itu. Karena itu juga bukan urusan ku. Aku masih sibuk memilah-milah gambar di ponsel ku.


“Boleh aku duduk di sini, “ Ucapnya padaku.


“silah kan, “ jawanku tanpa menoleh padanya, tapi aku merasa seperti mengenal suara nya.


Sungguh aku merasa sangat malu saat ini. Bisa-bisa nya aku tak melihat lawan bicaraku tadi, nyesel kan sekarang. Kalau tahu akhirnya kayak gini mendung gak ku kasih izin tadi. Rasanya tuh canggung banget sekarang. Aku ingat kapan terakhir kali kita bertemu, dan pertemuan itu bukan lah pertemuan yang baik.

__ADS_1


Aku mencoba sebisa mungkin tak gugup saat ini. Gak tahu kenapa aku bisa segugup sekarang, padahal kemarin-kemarin aku juga biasa saja waktu bertemu. Emang gini nih kalau lemah menerima pemandangan indah dari sang Pencipta.


Ponsel yang tadinya sibuk ku main kan sekarang sudah raib ke tangan nya. Aku hanya bisa pasrah ketika ponsel ku mulai di lihat oleh nya. Biasanya aku paling anti kalau ponsel ku dipegang atau di pinjam orang. Aku tuh sangat menjaga privasi diri dengan sangat baik.


Dia tersenyum ketika melihat hasil jepretan-jepretan ku. Sungguh senyum nya tuh sangat manis, entah berapa banyak gula yang ia makan hingga bisa semanis ini. Setelah selesai dengan isi galeri ku dia langsung mengembalikan ponselku.


“aku suka dengan hasil jepretan mu, “ucapnya padaku.


“makasih.” Jawab ku padanya dengan kepala menunduk menyembunyikan semburat merah di wajah.

__ADS_1


Setelah pujian itu, dia mengajak ku makan siang bersama di kantin. Ya mana bisa aku menolak kalau di kasih anugrah seperti ini. Kami pun langsung berjalan menuju kantin. Saling bertukar senyum dan bercerita satu sama lain. Rasanya aku telah sangat akrab dengan nya. Padahal yang tadinya kami sempat canggung. Tapi beginilah adanya.


__ADS_2