
Berbeda lagi dengan Bara, ia di rundung kegelisahan. Tanpa sebab yang jelas dia gelisah yang tak berkesudahan. Malam makin larut, tapi rasa gelisah itu tak kunjung hilang. Apa yang ia kerjakan juga tak ada yang beres.
Segala umpatan keluar dari mulut nya, amarah pun juga tak bisa disalurkan. Makin menjadi-jadi tingkah bar-bar Bara. Barang-barang banyak yang berserakan di ruangan nya. Jika dilihat ruangan nya sudah mirip dengan kapal pecah.
Setelah amarah nya tersalurkan Bara pergi ke luar rumah. Pandangan matanya tertuju pada langit yang gelap tapi bertaburan bintang. Pemandangan itu bisa membuat suasana hati nya membaik, meskipun tak sepenuhnya.
Mereka bertiga memiliki kisah rumit yang membuat luka itu kian parah. Kesalah pahaman di antara Bara dan Aya membuat kisah rumit yang akan membawa banyak dampak untuk kedepan nya. Dan kemunculan Bian yang mampu membuat Aya melupakan sesaat luka yang dimiliki nya, akan membuat keadaan kian rumit.
__ADS_1
Aku berlari dengan tergesa\-gesa, bel masuk sudah berkumandang dengan indah. Sungguh pagi yang sial, di lorong pun sudah banyak Guru yang berjalan menuju kelas. Makin takut saja, apalagi sekarang waktu nya ulangan. Makin gak karuan aku, berlari dengan cepat membuat nafas ku tersenggal\-senggal. Saat aku sampai di depan pintu kelas, aku berhenti dan berdoa dulu, semoga tak mendapatkan semprotan dari bu Rukmini.
Aku mengintip dulu sebelum aku mengetuk pintu, dan aku pun bisa bernafas lega, karena bu Rukmini belum ada di meja nya. Aku pun memasuki kelas, dengan tampang yang acak\-acakan aku menuju bangku ku. Menaruh ras di atas meja dengan kasar, hingga terdengar suaranya. Aku mendudukkan diri di kursi ku dan langsung merebahkan kepala di atas meja.
Kelas yang sunyi membuat suara ketukan sepatu bu Rukmini terdengar sangat lah membuat suasana mencekam. Apalagi di tambah dengan wajah sangar nya, makin horor ini suasana kelas. Semua memperlihatkan wajah tegangnya, termasuk juga aku. Bu Rukmini meletakkan barang\-barangnya di meja, lalu berjalan membagikan LJK pada murid \-muridnya.
__ADS_1
Kami mengisi identitas di lembar Jawaban yang telah di bagi. Di tengah\-tengah kami yang mengisi identitas, bu Rukmini membagikan soal\-soal mematikan nya. Oh my gosh, soal macam apa ini, sangat\-sangat sulit dan tak bisa diterima oleh nalar. Siap\-siap saja untuk remidi untuk ulangan kali ini.
Identitas sudah ku isi, sekarang aku sudah bersiap untuk berperang dengan soalnya ibu singa ini. Saat membaca soal pertama saja aku sudah di buat bingung gak karuan. Soal macam apa ini, ku balik lembar berikut nya, dan soalnya makin parah saja. Kulirik kanan dan kiriku siapa tahu bisa mencontek, dan kulihat mereka juga sama saja dengan ku.
Aku menjawab soal yang ku bisa, dan jumlah nya tak sampai 20 soal. Sudah alamat aku remidi,ku jawab soal yang lain dengan menghitung kancing. Bodo amat lah, pusing aku melihat soalnya lama\-lama. Waktu nya ternyata tinggal beberapa menit saja. Bu Rukmini sudah memberikan aba\-aba untuk mengestafetkan soalnya ke depan. Terdengar suara ricuh, karena belum menyelesaikan jawaban soal nya. Muka bu Rukmini sudah terlihat kesal karena suasana kelas yang sudah tidak kondusif. Mereka pun menyadari hal itu membuat mereka langsung diam dan melakukan apa yang di perintah kan oleh bu Rukmini.
Aku pun menyerah kan lebar jawaban ku dengan pasrah. Udah gak mau mikir lagi aku. Terlalu pusing karena soal \-soal laknat bu Rukmini. Setelah semuanya beres, bu Rukmini menutup kelas dan keluar dari kelas kami. Di bangku depan memperdebatkan jawaban soal nya tadi, ada juga yang tengah menyumpahi bu Rukmini, dan ada juga yang sans dan langsung tidur. Sama hal nya dengan ku, udah males mikir mending sekarang aku tidur aja.
__ADS_1