
Bagaimana perasaan kalian jika ditinggal kedua orang tua pergi untuk selama-lamanya dalam waktu bersamaan. Itulah yang sedang menimpaku saat ini. Kedua orang tuaku meninggal karena kecelakaan.
Diantara nisan bertuliskan nama Radithya Pirata dan Rania Pastika kini aku menangis. Membayangkan bagaimana kehidupanku kedepannya tanpa kehadiran mereka.
Tapi untunglah disampingku masih ada nenek yang selalu menyayangiku. Nenek membantuku bangkit dari posisiku dan menggandeng tanganku menuju kerumah.
"Sha ini memang berat. Tapi Asha juga harus belajar ikhlas, supaya ayah dan bunda tenang disana ya nak."
"iya nek, Asha sudah ikhlas." Jawab ku sambil memeluk foto kedua orang tuaku dan mendapat pelukan hangat dari nenek ku.
"Asha maafin nenek sebelumnya, tapi nenek dikota juga ada pekerjaan. Kita juga butuh uang untuk biaya hidup. Asha mau ikut nenek ke kota? Asha juga harus bangkit, buat bangga ayah dan bunda disana nak. Kalau Asha sedih, ayah dan bunda disana juga ikut sedih." Kata nenek sambil memelukku kembali dengan wajah bersalah.
"Iya nek, Asha akan berusaha bangkit. Asha juga mau ikut nenek ke kota, tapi bagaimana dengan sekolah Asha nek?"
"Masalah itu, majikan nenek sudah mendaftarkan Asha di sekolah milik majikan nenek Sha." Ucap nenek sambil mengusap halus ujung kepalaku.
"Sungguh baik sekali majikan nenek, besok kalau ketemu, Asha mau mengucapkan ribuan terima kasih kepadanya. Emm ... Kita kapan pindahnya nek?"
"Kita pindah besok minggu nggak apa-apa kan sha?
"Minggu ya nek? Yaudah nek gapapa asha ikut nenek aja." Jawabku dengan senyuman, meskipun dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku sangat berat meninggalkan rumah yang aku tinggali saat ini. Dimana aku dibesarkan oleh kedua orang tuaku.
__ADS_1
3 HARI KEMUDIAN
"Gimana Sha udah nggak ada yang ketinggalan?" Tanya nenek.
"Gak ada nek," jawabku sambil terus menatap sedu rumahku. 'Ayah bunda, Asha pergi dulu ya, Asha janji asha akan berusaha menjadi yang terbaik supaya ayah dan bunda bahagia disana'--batinku.
"Yaudah yuk masuk!" perintah nenek halus. Akupun langsung memasuki mobil mewah milik majikan nenek tersebut.
Didalam mobil aku tertidur pulas karena semenjak ayah dan bunda meninggal aku tidak bisa tidur dengan tenang. Sekitar 5 jam perjalanan akhirnya sampailah dirumah majikan nenek.
Rumahnya sangat mewah dengan halaman yang sangat-sangat luas udah seperti lapangan sepak bola.
"Diem lo, lama-lama gue tampol pake panci knock lo!"
*Udah-udah kita lanjut lagi ke tkp
*****
Aku sama nenek turun dari mobil dan memasuki rumah tersebut. Disana kami disambut oleh majikan nenek dan anaknya.
"Selamat siang! tuan, nyonya." Ucap nenek sambil agak membungkukkan badannya, dan mendapat senyuman dari mereka.
__ADS_1
"Selamat siang mbok, ini cucu mbok yang mbok maksud itu ya? Cantiknya." Ucap Weida majikan nenek sambil mengusap halus kepalaku.
"Selamat siang! tuan, nyonya." Sapaku kepada mereka sambil tersenyum.
"Jangan panggil tuan sama nyonya nak, panggil aja om sama tante, ehhh jangan deh panggilnya mama sama papa aja sama seperti anak saya. Syukur-syukur besok kamu yang jadi menantu saya." Ucap Adelard sambil menyenggol bahu anaknya yaitu Aksel.
"Apaan sih ma pa, yakali Aksel mau sama cewe cupu kaya dia!" Jawabnya ketus sambil menunjuk kearahku.
'Siapa juga yang mau sama cowok sok dan sombong kaya kamu' batin ku sambil senyum terpaksa.
"Aksel jaga ucapan kamu, udah sama kamu antar Asha kekamarnya. Gak ada penolakan atau nanti uang jajan kamu papah potong! Dan kamu Asha kamu ikutin Aksel ya! Kamu pasti capek kan? Mbok Ijah sekarang juga istirahat dulu aja!" Ucap Adelard dan mendapat anggukan dari aku dan nenek.
"Ais ... Ehhh lo sini ikut gue!" Ujar Aksel dan akupun langsung mengikutinya. Sesampai dikamar.
Brakkk
"EHHH LO JANGAN SESEKALI BERFIKIR HIDUP LO AKAN TENANG DISINI, NGERTI!" Bentaknya sambil mengangkat daguku kasar.
"Ng-ngerti." Ucapku lirih, dan dia langsung keluar dengan membanting pintu kamar dengan keras.
'Emang ada yang makhluk bumi yang kaya dia? Ehh dia tadi bilang hidupku tidak akan tenang? Maksudnya apaa?'--batinku
__ADS_1