
Tok Tok Tok
Asha yang sedang duduk di meja belajarnya membaca novel langsung beranjak dari tempat duduknya dan membuka pintu. Asha terkejut karena didepan ada Aksel yang menatapnya dengan tajam.
"Ke--kenapa Sel?" tanya Asha menunduk tak berani menatap wajah Aksel.
"Lo ngomong sama lantai, kalau ngomong sama orang itu liatin orangnya bukannya malah nunduk! Dilantai ada apaan sih kok lo lebih milih natap lantai daripada wajah ganteng gue." Jawab Aksel sombong dengan nada tinggi.
Asha hanya terdiam menunduk sambil meremas bajunya karena takut. Aksel yang merasa Asha tak menggubrisnya membuatnya menjadi kesal.
"Cupu kalau ada yang ngomong sama lo itu tatap wajahnya." Kata Aksel sambil menganggkat dagu Asha kasar.
"Awww ... Sakit Sel, lepas!" pekik Asha kesakitan.
Aksel menatap Asha sebentar dengan sedikit merasa bersalah. "Sakit ya Sha, maaf gue gak bermaksud begitu. Habisnya lo dari tadi pulang sekolah lo gak keluar kamar, lo gak masak apa gimana gitu? Gue laper banget dari tadi gue belum makan."
"Dibawah gak ada bahan makanan yang bisa dimasak Sel. Kalau kamu lapar kenapa gak delivery aja?"
"Lo nyuruh gue? Ingat ya lo itu disini cuma babu gue jadi lo gak berhak nyuruh-nyuruh gue. Ayo ikut gue beli bahan makanan ke supermarket!" ujar Aksel lalu menarik tangan Asha. Asha yang diperlakukan begitu oleh Aksel hanya bisa menurutinya.
Aksel mengajak Asha membeli bahan makanan ke supermarket yang jauh dari rumahnya. Padahal sebenarnya ada supermarket yang dekat rumahnya, karena ia hanya ingin lebih lama berdua dengan Asha ia mencari yang lebih jauh.
Asha didalam mobil hanya diam sambil menatap jendela menikmati pemandangan kota malam itu. Tiba-tiba ia tersadar jika mereka sudah melewati supermarket.
"Sel kok gak berhenti? Bukannya supermarketnya tadi disana ya?" tanya Asha sambil menunjuk keluar jendela.
"Disana gak komplit, yaudah sih tinggal nurut aja! Lo juga gak keluarin uang bensin kan?" Jawab Aksel sinis.
"Emang kamu mau makan apa sih Sel?" tanya Asha halus walau sebenarnya ia kesal dengan tingkah Aksel.
"Terserah yang penting enak, kalau gak enak lo besok berangkat sekolah sendiri."
"Iya," jawab Asha singkat.
Asha merasa bosan karena perjalanannya sudah hampir 1 jam. Akhirnya ia membuka layar ponselnya dan membuka WhatsApp, ia mendapat pesan dari grub yang dibuat Varo beberapa hari yang lalu.
********* SAHABAT MISQUEEN *********
Nadira
P
P
P
Gaesss
Gue gabutt
Pacar gue gak online lagi
Alvaro
Dih kasihan beut
__ADS_1
Ashalina
Uluh-uluh Dira, sini peluk online
Nadira
Brisik lo Var
Sini-sini Sha berpelukan online
Alvaro
Gue ikut peluk dong
Nadira
Lo gak boleh ikut-ikutan Var, ini khusus kaum hawa
Alvaro
Idih dasar betina
Ehh betewe lagi pada ngapain nih?
Nadira
Lagi nunggu ayam bertelor Var
Ashalina
Kamu sendiri lagu ngapain Var?
Alvaro
Lagi nemenin ibu negara belanja nih
Nadira
Rajin amat lo Var
Alvaro
Gini-gini gue nurut sama orang tua ye
Ehh udah dulu ya dipanggil ibu negara nih
Ashalina
Okeyy
Nadira
(2)
Asha lalu memencet tombol home lalu menyimpan kembali ponselnya. Aksel dari tadi memperhatikan gerak-gerik Asha, dari tadi ia tak berbicara sedikitpun pada Asha. Padahal ia berharap dengan begini ia bisa mengobrol dan semakin dekat dengan Asha.
__ADS_1
'Kok suasananya gini sih, Asha gak ngajak ngobrol lagi. Apa gue awali ya? Tapi gue mau ngomong apa?' Batin Aksel.
"Cupu l-lo itu bisa ketemu Varo gimana? Kayaknya lo sama dia udah kenal lama deh." Ujar Aksel.
"Aku sama Varo pertama kali ketemu itu waktu pertama kali aku masuk sekolah. Dia nggak sengaja nabrak aku, dia juga yang ngantar aku keruang kepala sekolah karena saat itu aku belum tau denah sekolahnya. Dan kebetulan ternyata kita juga satu kelas."
"Terus lo punya masalah apa sama nenek lampir kok lo tadi hampir mau ditampar, untung aja tadi gue dateng kalo nggak, nggak tau muka lo mau jadi apa." Ujar Aksel dengan lagak sombong.
"Nenek lampir?" tanya Asha bingung.
"Itu Cherry, aiss ... nyebut namanya aja udah bikin gue males."
"Mungkin dia cemburu karena kita sering berangkat sama pulang bareng."
"Ngapain juga cemburu, bukan siapa-siapa gue juga."
"Loh bukannya dia pacar kamu?"
"Dih amit-amit banget gue punya pacar kaya dia, kaya kurang cewe aja. Dan lo, lo itu beruntung bisa serumah sama gue, kemana-mana sama gue, pulang sama berangkat sekolah sama gue. Banyak cewe diluaran sana yang mau diposisi lo. Emang siapa yang bilang gue pacarnya Cherry?"
"Kemarin waktu aku kekamar mandi dia bilang gitu." Jawab Asha jujur.
'Aduh keceplosan lagi, semoga aja Aksel gak sadar apa yang aku omongin barusan." Batin Asha.
"Hah dikamar mandi maksud lo apasih?"
"Eng-nggak k-kan dar-i an-nak a-a nak lain ngomong gitu waktu kemarin aku ke kamar mandi." Jawab Asha gagap.
'Aduh aku ngomong apaansih, semoga Aksel nggak curiga.' Ucap Asha dalam hati**.
Aksel melirik Asha sebentar, dan ia yakin bahwa kejadian yang sebenarnya bukan begitu. Ia sudah tahu apa yang dilakukan Cherry jika ada orang yang mendekatinya.
Selama ini ia tahu bahwa Cherry dan geng nya sering membully. Bahkan tak sedikit pula yang sampai keluar dari sekolah karena tak tahan di bully. Namun, ia selalu cuek dan tidak mau mengurusi hidup orang lain.
Kali ini berbeda, karena Asha yang mungkin target bully Cherry selanjutnya. Dan Aksel nggak akan membiarkan itu terjadi.
"BOHONG!" ucap Aksel datar. Asha yang mendengar itu langsung menatap Aksel ngeri dan menelan salivanya.
"Lo mau ceritain kejadian yang sebenarnya sama gue apa gue cari tau sendiri. Jangan pikir gue nggak tau kalau Cherry itu sering bully anak lain disekolah. Gue tahu semuanya Sha. Dan kalau sampai Cherry dan geng nya ketahuan bully lo, gue gak segan-segan ngeluarin mereka dari sekolah. Dan lo, jangan harap bisa gue maafin karena lo udah bohong sama gue. Gue paling nggak suka sama orang yang pembohong."
"JAWAB GUE CUPU!" bentak Aksel karena dari tadi Asha hanya terdiam.
"Maaf Sel aku bohong sama kamu, sebenarnya itu kemarin waktu kita berangkat bareng Cherry lihat. Pas istirahat aku ke kamar mandi dan aku suruh Varo sama Dira duluan ke kantin. Dan tiba-tiba Cherry nyengkeram tangan aku dan nyuruh aku jauhin kamu. Aku sebenarnya mau jelasin kalau aku hanya cucunya pembantu dirumah kamu, tapi Cherry pergi gitu aja."
"Kenapa lo gak cerita sama gue dari kemarin?"
"Karena menurutku hal seperti ini tidak perlu diceritakan kepada orang lain. Toh aku dari dulu juga udah biasa diginiin."
"Itu dulu Sha, sekarang udah beda. Pokoknya kalau kamu diapa-apain lagi sama Cherry lo harus bilang sama gue. Dan ingat gue paling gak suka sama orang pembohong!"
"I-iya Sel,"
Aksel mengangguk dan didalam hatinya ia merasa bangga, karena ia berhasil membuat Asha sedikit terbuka dengannya. Meskipun dengan sedikit paksaan.
'Berarti Asha cerita baru sama gue? Gue orang pertama yang diceritain? Permulaan yang baik nih. Tapi gue juga harus pantau Asha terus supaya nggak diapa-apain lagi sama nenek lampir.
__ADS_1
"Udah sampai, kita turun dulu!" kata Aksel dan Asha mengangguk menyetujui