
Sunyi itulah suasana yang menggambarkan suasana di dalam mobil saat ini. Asha sibuk menikmati perjalanannya meskipun ia juga sesekali menatap layar ponselnya berharap mendapat notif dari Varo.
Sedangkan Aksel ia bingung sekaligus gengsi dalam mengawali percakapannya.
Hampir setengah jam perjalanan tak ada sepatah katapun dari mereka. Ingin rasanya Aksel mengambil handphone Asha lalu membantingnya. Karena meskipun ia berhasil pulang dengan Asha, namun ia yakin pikiran Asha selalu tertuju pada Varo.
Aksel memberhentikan mobilnya d
isalah satu Cafe yang menjadi langganannya dan teman-temannya. Asha yang awalnya sibuk dengan gadget nya langsung menatap bingung Aksel.
"Loh kok kesini Sel?" tanya Asha ragu-ragu.
"Makan dulu gue laper," jawab Aksel singkat.
"Inikan udah sore Sel, nanti kalau dimarahin mamah gimana?"
"Udah gak udah banyak bac*t deh lo, tinggal nurut aja ribet." Bentak Aksel.
Asha yang mendengar itu langsung ketakutan, ia lalu keluar dari mobil dan mengekori Aksel.
Aksel memandangi seluruh kafe dan tempat duduk yang kosong untuk mereka tempati. Dan mereka mendapat tepat duduk yang paling ujung.
"Lo mau pesen apa?"
"Ehhhh aku gak usah Sel,"
"Ck, harus mau gak ada penolakan!" ketus Aksel.
Aksel lalu memanggil pelayan cafe tersebut untuk memesan makanan.
"Permisi, mau pesan apa?"
Aksel membolak-balik buku menu.
"Beef burger 2, french fries 2, minumnya ... Ohhh ini aja jus strawberry 2."
"Saya ulangi ya, beef burger 2, french fries 2, sama jus strawberry 2."
"Tambah es krim 2 deh."
"Okee, kalau gitu tunggu pesanannya dulu ya." Ucap pelayan ramah.
Aksel lalu meraih ponsel di tas nya lalu memainkannya. Begitupun dengan Asha ia masih setia menunggu kabar dari Varo.
Tak berapa lamapun akhirnya Asha mendapat whatsApp dari Varo.
Alvaro
Sha, lo udah sampai rumah?
Ashalina
__ADS_1
Belum Var, kamu udah sampai?
Alvaro
Kok belum Sha, gue udah sampai.
Lo diturunin Aksel lagi ditengah tengah jalan lagi ya?
Gue jemput sekarang!
Ashalina
Syukurlah kalau udah sampai.
Enggak, bukan gitu Var.
Aksel ngajak makan dulu soalnya katanya dia laper.
Alvaro
Gitu ya?? Kalau kapan-kapan aku ajak kamu makan berarti mau dong?
Ashalina
Yaudah mau deh:)
Alvaro
Ashalina
Iya janji
Asha merasa lega karena ia sudah mendapat kabar dari Varo. Tak sadar sedari tadi ternyata Asha senyum-senyum sendiri. Aksel yang melihatnya ingin rasanya membanting handphone Asha.
'Ni anak sibuk sama ponsel terus, pasti lagi chatting sama Varo. Mana senyum-senyum lagi.' Ucap Aksel dalam hati.
"Pfftt!!! senyum-senyum sendiri kaya orang gila. Lagi chatting sama pacarnya ya?" sewot Aksel.
Asha menggeleng cepat "Enggak Sel," jawabnya dengan halus.
Beberapa saat kemudian makanan yang mereka pesan akhirnya datang. Aksel langsung memakannya karena dari tadi ia sudah sangat lapar begitupun dengan Asha.
Aksel menatap Asha yang sepertinya menikmati makanannya.
"Enak gak?" tanya Aksel datar.
"Enak banget Sel, apalagi es crimnya." Jawab Asha girang.
"Bagus deh kalo lo suka, berarti selera lo lumayan tinggi dan gak rendah-rendah amat." Cetus Aksel.
Asha yang awalnya senang sekarang menjadi murung lagi.
"I-Iya." Jawabnya gagap.
__ADS_1
"Kata mama nanti malam dia mau keluar kota ikut papa, dan Mbok Ijah juga ikut buat temen mama disana. Dan lo selama mereka pergi harus nurutin semua perkataan gue."
"Maksud kamu nurutin perkataan kamu apa?" Tanya Asha bingung.
"Lo tuh pura-pura be*o apa be*o beneran? Ya maksudnya lo itu jadi babu gue selama mereka gak dirumah. Dan untuk mempermudah kalau gue butuh BABU. Gue minta nomer lo supaya kalo gue mau apa-apa gue tinggal chatting lo. Dan gak ada penolakan karena kalau lo nolak gue bakalan lakuin sesuatu buat lo, inget keluarga gue itu udah baik sama lo. Anggap aja ini itu sebagai ungkapan terima kasih lo sama gue, karena lo gue harus berbagi kasih sayang orang tua gue."
Asha sempat berfikir 'Ya benar kata Aksel, keluarganya udah baik banget sama aku. Setidaknya hanya ini yang bisa aku lakukan' Ucap Asha dalam hati.
"Iya Sel aku mau."
"Bagus deh, dan lo gak boleh bilang sama mamah papah tentang ini. Satu lagi, siniin hp lo!"
Asha lalu memberikan hp nya kepada Aksel. Aksel mengetik nomor nya lalu misscall supaya nomor Asha masuk ke hp nya.
"Itu nomor gue, pokoknya kalau gue panggil lo harus cepet-cepet samperin gue."
"Iya Sel."
"Yaudah lanjutin deh makan lo, habis ini kita pulang. Kesorean nanti kanjeng mami bisa-bisa ceramah 7 hari 7 malam."
Asha yang mengerti ucapan Aksel mengangguk dan melanjutkan makannya lagi.
Skip sampai rumah
"Kalian dari mana aja sih? Jam segini kok baru pulang?" tanya Weida halus.
"Dari toko buku ma ... Loh kok udah bawa koper mau berangkat sekarang ma?" tanya Aksel.
"Iya soalnya tadi papa dihubungi sekretarisnya katanya ada masalah dadakan. Kalian gapapa kan kita tinggal?"
"Gapapa ma." Jawab Asha dan Aksel kompak.
"Yaudah kalau gitu kalian mama tinggal dulu ya." Ucap Weida sambil menyeret kopernya karena mereka sekarang sedang terburu-buru.
"Nenek juga pamit dulu ya Sha." Kata Mbok Ijah lalu mengekori majikannya.
Asha dan Aksel menatap kepergian mereka. Setelah mobil yang mereka tumpangi tak terlihat, Asha dan Aksel lalu masuk kedalam rumah dan menutup pintunya.
"Ehh cupu ingat perjanjian kita tadi. Lo harus turutin semua perkataan gue. Lo besok harus bangunin gue, buatin gue sarapan, dan juga lo harus berangkat sama pulang sekolah bareng gue. Lo ngerti kan?"
"Iya Sel, aku ngerti."
"Good, kalau gitu gue mau kekamar dulu." Kata Aksel lalu menuju kamarnya begitupun dengan Asha.
Aksel Pov
Gue memasuki kamar gue dan langsung merebahkan badan ke tempat tidur.
"Akhirnya gue bisa dapat nomer Asha, bisa deket-deket Asha terus. Dan yang paling penting gue jadi bisa punya kesempatan buat bikin Asha jauh dari Varo. Emang gue itu paling bisa memanfaatkan keadaan ya." Ucap gue sambil senyum-senyum sendiri.
Gue langsung bangkit dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi buat mandi. Habis mandi gue mau langsung tidur soalnya sekarang gue udah capek banget.
__ADS_1