
Asha memasuki kamarnya dan langsung merebahkan badannya dikasur queen size nya. Kamar Asha ini cukup besar bahkan hampir 3x dari kamar Asha yang dulu, meskipun ia cucu pembantu tapi seperti yang kalian tahu Weida dan Adelard sudah menganggapnya seperti anaknya. Ralat menganggapnya seperti calon menantu.
"Ayah, bunda Asha kangen kalian. Semoga kalian tenang disana ya, maafin Asha ya belum bisa bahagiain Ayah sama Bunda. Tapi Asha janji Asha akan berusaha." Ucap Asha menangis sambil memeluk foto kedua orangtua.
Asha tertidur dengan keadaan mata sembab karena menangis dan seragam yang masih basah.
"Asha kok tidur masih pakai seragam,mana seragamnya basah lagi. Bangun dulu nak ganti baju habis itu tidur lagi." Ucap nenek Asha halus.
"Ehh nenek, maaf nek Asha tadi ketiduran."
"Gapapa sayang, mandi dulu gih nanti demam lo gegara pakai baju basah. Nanti kalau habis mandi bisa tidur lagi." Jawab nenek Asha sambil mengusap rambut Asha halus.
Asha mengangguk dan langsung menuju kamar mandi untuk mandi.
Keesokan harinya
Keluarga digdaya sedang berkumpul diruang makan untuk sarapan bersama. Dan seperti biasa Mbok Ijah sedang menyiapkan makanan untuk mereka.
"Mbok, makan bareng disini aja!" kata Adelard.
"Maaf tuan, saya tidak untuk disini, sebaiknya saya makan didapur saja."
"Apaan sih mbok kita itu sama saja pokoknya mbok makan bareng kita disini." Jawab Adelard lembut dan Mbok Ijah hanya bisa pasrah.
"Nah gitu dong mbok. Ehhh Asha kok belum turun ya? Kalau gitu Aku panggil Asha dulu ya." Kata Waida bangkit dari kursinya.
"Biar saya aja nya." Ujar Mbok Ijah.
"Nggak usah mbok biar saya saja." Jawab Weida dan Mbok Ijah mengangguk pelan.
Weida berjalan menuju kamar Asha, sesampai dikamar Asha ia dikejutkan karena tubuh Asha menggigil dan wajahnya sangat pucat. Weida langsung menempelkan tangannya didahi Asha ia tambah terkejut karena dahi Asha sangat panas.
"Ya ampun Asha kamu demam kok nggak bilang mama." Ucap Weida panik sambil memeluk Asha untuk memberi sedikit kehangatan.
__ADS_1
"Mmaa ding--dinginnn." Ujar Asha sambil menggigil.
"PA, AKSEL, MBOK IJAHHH SINI!" teriak Weida dari kamar Asha yang sontak membuat mereka yang dipanggil langsung menghampirinya.
"Ya ampun Asha, Aksel cepat panggil dokter!"
perintah Adelard dan langsung diangguki Aksel.
"Asha kamu kenapa nak kok bisa kayak gini?" kata Mbok Ijah tak kalah panik.
Sekitar 10 menit dokter datang dan langsung memeriksa Asha.
"Gimana dok keadaan Asha?" Tanya Weida.
"Asha gak apa-apa cuma sedikit demam. Ini saya beri obat dan harus diminum sampai habis. Mungkin beberapa hari lagi Asha akan sembuh." Jawab dokter menjelaskan.
"Syukurlah kalau begitu, Terima kasih dok." Ujar Weida dengan hembusan nafas lega.
"Kalau begitu saya permisi dulu, selamat pagi."
"Loh Aksel ngapain kamu masih disini?" tanya Waida dengan sedikit mengerutkan dahinya.
"ii-itu ma... " Jawab Aksel gagap.
"Itu itu apa? Sana cepet berangkat sekolah! Gak ada tapi-tapian atau kamu enggak mama kasih uang selama satu minggu." Ancam Weida.
"Ck, iya ma ini Aksel juga mau berangkat." Jawab Aksel kesal dan langsung meninggalkan kamar Asha.
*****
"Kok gue jadi merasa bersalah sama cupu ya ... Ehhh kenapa juga gue bersalah salah dia sendiri dong udah tau hujan malah tetap jalan kaki nggak neduh dulu apa gimana." Gerutu Aksel yang sedang mengendarai mobilnya.
"Kalau lo gak nurunin Asha ditengah jalan,dia juga nggak akan jalan kaki OGEB!"--Author
__ADS_1
"Serah gue lah mobil-mobil gue,"
"Gak da akhlak emang -_-
*Oke sabar,kita lanjott lagi ke TKP *
Sesampai di sekolah
"Gila Aksel ganteng banget!"
"Kak Aksel keren banget!"
"Pacarin guee bwanggg!"
Begitulah kira-kira suara para ciwi-ciwi fans Aksel. Namun, seperti biasa Aksel tak menggubrisnya sedikitpun. "Apaan sih lebay." Gerutu Aksel dan berjalan meninggalkan parkiran untuk menuju kelasnya.
Saat hendak menuju kelasnya ia bertemu Varo dikoridor. Varo menatap dingin Aksel dan menyenggol bahu Aksel dengan sengaja. Varo masih tidak terima dengan sikap Aksel kepada Asha.
"Ck, sialan!" gumam Aksel yang masih bisa didengar oleh Varo.
"Liat aja Sel, gue akan buat lo menyesal karena nyakitin Asha." Kata Varo dalam hati.
Aksel akhirnya sampai dikelasnya yaitu 11 IPA-1. Ia langsung duduk dibangkunya dengan wajah kesal mengingat kejadian tadi di koridor. Teman satu geng nya yang melihat Aksel tak seperti biasanya langsung bergidik ngeri.
"Tu anak kenapa Rel?" tanya Gavin bisik-bisik.
"Kesambet kali vin, liat deh mukanya ngeri bet."
"Iya yak lebih ngeri dari setan salak coyyy."
"Valak go**ok!" jawab Verrel,lalu mereka tertawa cekikikan.
"BERISIK LO BERDUA, BISA DIEM GAK!" Bentak Aksel kepada Gavin dan Verrel
__ADS_1
*M**ampus lo berdua kena semprot Aksel kan😂*