
Kringggg kriinggg
Bel sekolah berbunyi, siswa-siswi Elementary High School berhamburan keluar lingkungan sekolah. Saat ini Asha, Varo, dan Dira masih berada dikelas mereka, karena sekarang adalah jadwal piket mereka.
Setelah menyapu, mengepel, dan membersihkan kelasnya, Dira pulang terlebih dahulu karena ia sudah dijemput supirnya. Sedangkan Varo dan Asha masih dikelas sambil menunggu parkiran sepi karena mereka sudah janji mau ke toko buku bersama.
Aksel dan kedua temannya yaitu Gavin dan Verrel berencana untuk membuntuti Varo dan Asha, tak lain karena permintaan konyol Aksel maka mau tidak mau mereka berdua harus menurutinya.
Merasa parkiran sudah agak sepi akhirnya Varo memutuskan untuk ke toko buku sekarang dan Ashapun menyetujuinya.
"Sha, kayaknya parkiran udah sepi tuh. Kita kesana sekarang aja yuk." Ajak Varo.
"Iyaa udah sepi, yaudah ayuk."
Mereka berdua keluar kelas, disepanjang koridor mereka bercanda tawa bahkan Varo juga merangkul pundak Asha. Pemandangan seperti itu membuat Aksel yang dari tadi mengikuti mereka merasa terbakar hatinya. Ingin rasanya ia memukul wajah Varo, namun ia sadar jika ia lakukan sekarang maka akan merusak rencananya kali ini.
Sesampai diparkiran Asha dan Varo langsung memasuki mobil dan meninggalkan area sekolah. Begitupun dengan 3F mereka langsung memasuki mobil Aksel dan membututi mobil Varo.
Suasana di mobil Varo
"Sha, kita pergi gini lo udah izin orang rumah kan?" tanya Varo.
"Udah kok Var tenang aja, tapi nanti pulangnya jangan sore-sore ya!"
"Oke siap bos," ujar Varo dengan tangan seperti hormat sedangkan tangan satunya memegang stir mobil.
"Apaan sih Var," kata Asha sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Sha by the way lo sekarang masih sering dibully Aksel nggak?"
"Masih, tapi udah nggak sesering dulu kok Var. Kayaknya dia udah mulai sedikit berubah deh Var, meskipun juga kadang masih ngeselin."
"Berubah gimana Sha?"
"Kemarin itu, dia ngajak aku ketaman Var," Jawab Asha polos.
Mendengar perkataan Asha membuat Varo geram "Tapi kamu jangan luluh dulu Sha, bisa jadi aja dia manfaatin kamu doang. Dia berubah waktu ada orang tuanya dan nanti kalau gak ada mereka kamu dibully. Pokonya kamu harus hati-hati Sha oke!"
"Ehhh oke deh Var," jawab Asha yang mendengar perkataan Varo barusan membuatnya kehilangan semangat.
'Benar juga perkataan Varo, lagian apasih Sha yang kamu harepin dari Aksel. Dia kan udah punya pacar, kamu gak inget ya perkataan Cherry tadi ' Monolog Asha dalam hati.
Sementara itu suasana dimobil Aksel.
__ADS_1
"Sel, cepetan itu. Nanti kita ketinggalan jejak mereka." Ujar Verrel sambil menggerakan bahu Aksel kasar.
Aksel yang sedang fokus menyetir menjadi murka "Ck, lo bisa gak sih diem! Gue lagi nyetir nih." Geram Aksel.
"Dibilangin juga, kalo gue sih gapapa ketinggalan mereka. Malah seneng sih gue soalnya bisa jadi aja Varo ngajak Asha ketoko buku itu cuma alasannya supaya dia bisa nembak Asha. Secara mereka tuh cocok banget, Varonya baik dan Ashanya juga baik kan jadinya cocok." Ucap Verrel dengan niat memanas-manasi Aksel.
Aksel yang mendengar perkataan Verrel barusan langsung melajukan mobilnya dengan cepat.
Sesampai di toko buku Asha dan Varo langsung masuk sedangkan 3F masih tetap didalam mobil Aksel. Mereka hanya memastikan apakah Varo dan Asha benar ketoko buku atau ketempat lain.
"Sel, lo kok jadi aneh sih? Cherry lo anggurin, cewek cupu kaya gitu lo deketin." Ejek Gavin.
"BAC*T LO!" balas Aksel dengan nada tinggi. Gavin yang mendengar jawaban temannya langsung tak berani menjawab sedangkan Verrel ia malah tertawa tepat ditelinga Gavin.
Sekitar 30 menit mereka didalam mobil. Sedangkan Asha dan Varo tak kunjung juga keluar, hal itu membuat Aksel frustasi.
"Nih anak ngapain sih kok nggak keluar-keluar." Umpat Aksel kesal sambil mengacak rambutnya kasar.
"Kita susul mereka yuk." Ajak Aksel dan lagi-lagi kedua temannya hanya bisa pasrah menurutinya.
Didalam toko buku Varo sedang memilih-milih buku yang nanti akan dibelinya. Asha lebih memilih mencari novel romantis sedangkan Varo novel horor.
Saat sedang mencari buku tiba-tiba ada seseorang yang menabrak bahu Asha, hal itu membuat Asha langsung menoleh mencari pelakunya. Siapa lagi kalau bukan Aksel.
"Tempat umum bebas!" ketus Aksel dengan nada sombong dan tidak mendapat sahutan lagi dari Asha.
Varo menghampiri Asha karena ia sudah mendapat buku yang akan dibelinya. "Sha udah dapat belum? Kalau udah ayo kita ke kas .... " Ucapan Varo terputus karena tersadar keberadaan Aksel.
"Udah nih Var," jawab Asha sambil menunjukkan buku ditangannya.
Varo langsung menarik tangan Asha. Lagi-lagi membuat Aksel mengeraskan rahangnya.
Setelah membayar buku, Asha dan Varo langsung keluar toko tersebut. Namun mereka dikejutkan karena mobil Varo ban nya kempes, padahal tadi nggak sama sekali.
"Bisa didugakan siapa lagi kalau bukan Aksel dkk pelakunya,"-- Author.
"Sha, ban mobilnya kok bisa kempes sih. Kayaknya lo naik taksi online aja ya? Soalnya ini udah sore." Ujar Varo panik.
"Aku tungguin kamu aja Var, kan tadi kita kesininya bareng," jawab Asha sambil tersenyum membuatnya semakin terlihat manis.
"Nanti lo dimarahin Tante Weida sama nenek lo Sha." Kata Varo halus.
"Ehhhhh tap .... " Perkataan Asha terputus karena kedatangan Aksel dan kedua temannya.
__ADS_1
"Ada masalah apaan nih?" tanya Gavin pura-pura tidak tahu.
"Ini mobil Varo bannya kempes, kalian bisa bantuin gak?"
"Maaf Sha tapi kita nggak bisa bantuin, soalnya kita kesini juga bareng sama Aksel." Jawab Verrel.
"Ohhh gitu ya," nampak wajah Asha yang sedikit kecewa.
"Udah Sha, lo naik taksi online aja gapapa ya? Masalah ini nanti biar aku telfon supir aku."
"Kamu disini sendiri gak apa-apa?"
"Gak apa-apa Sha,"
"Yaudah deh kalau gitu aku pesen taksi dulu ya." Ucap Asha dan mendapat anggukan dari Varo.
"Ehhh ehhh daripada naik taksi online mending bareng Aksel aja Sha, kan kalian juga satu rumah. Kan lo belum tahu daerah sini, naik taksi online terus nggak diantar sampai rumah tapi malah diajak kemana gitu terus di itu... Hisss kan jadi ngeri." Seru Gavin menakut-nakuti Asha. Asha yang mendengar perkataan Gavin langsung bergidik ngeri dan menelan salivanya.
Dihati Asha yang paling dalam ia bimbang. Di satu sisi ia takut, di sisi lainnya ia merasa tidak enak dengan Varo.
Asha menatap Varo tidak enak, sebelum ia meminta persetujuan Varo, Varo sudah mengangguk terlebih dahulu, hal itu membuat hati Asha sedikit tenang.
"Varo aku duluan ya?" pamit Asha dengan perasaan tidak enak kepada Varo.
"Iya Sha, nanti kalau udah sampai hubungin gue ya!" ujar Varo dan Asha mengangguk.
Aksel yang mendengar jika Asha akan bareng dia tersenyum girang di dalam hatinya namun ia menutupinya dengan sifat dinginnya.
Aksel menarik tangan Asha menuju mobilnya.
"Udah ayo cepet," ketus Aksel.
"Loh Gavin sama Verrel gimana? Kan tadi mereka kesini sama kamu,"
"Mereka naik taksi online,"
"Loh tadi katanya .... " Ucapan Asha terputus karena langsung mendapat tatapan sinis dari Aksel.
Sekarang tinggal Varo sendiri, karena Gavin dan juga Verrel sudah pulang menaiki taksi online yang mereka pesan. Varo terlihat menghubungi seseorang yang kemungkinan adalah sopir dirumahnya.
"Pak bisa jemput saya di toko buku xxxxxx gak? Soalnya mobil saya ban nya kempes."
" .... "
__ADS_1
"Makasih ya pak, saya tunggu."