
Sudah 1 minggu semenjak kejadian itu Asha di rumah sakit. Dan baru saja kemarin Asha pulang dari rumah sakit hari ini memaksa Mbok Ijah, Weida, dan Adelard mengizinkannya berangkat sekolah.
Mereka sempat menolak permintaan Asha, tapi karena Asha kekeuh dan menyakinkan mereka bahwa Asha tidak apa-apa. Akhirnya mereka luluh dan mengijinkan Asha, toh ada Aksel yang akan mengawasi Asha.
Hari ini seperti biasanya Asha berangkat bareng Aksel. Sesampai disekolah banyak sekali yang sedang membicarakan Cherry dan geng nya tentang perbuatan yang mereka lakukan kepada Asha. Dan hari ini orang tua mereka bertiga dipanggil kesekolah. Nanti juga Weida dan Adelard akan datang ke EHS tanpa sepengetahuan Asha tentunya.
Karena apa? Kemungkinan hari ini mereka bertiga akan dikeluarkan. Bukan hanya karena pembullyan terhadap Asha, tetapi juga kepada murid-murid lainnya.
Asha memasuki kelasnya dan betapa terkejutnya dia karena langsung mendapat sorakan dari seluruh murid 11 IPA-2.
"ASHA AKHIRNYA LO BERANGKAT!"
"GUE KANGEN SAMA LO SHA!"
"GAK ADA LO GAK SERU SHA!"
Begitulah teriakan dari mereka. Asha yang mendengar itu hanya tersenyum selebar-lebarnya.
"Loh Sha lo udah pulang kok gak bilang sama kita!" Ujar Dira sambil memanyunkan mulutnya.
"Kan biar surprise Dir," balas Asha.
"Pokoknya gue seneng banget Sha. Sumpah lo gak berangkat gue kesepian, gak ada yang bisa gue ganggu."
Tak berapa lama Varo datang dan tanpa aba-aba langsung meluk Asha karena saking senangnya. Aksel yang masih berdiri disana hatinya merasa berkecamuk.
"Sha kamu udah pulang. Harusnya kamu bilang biar nanti kita hias kelasnya buat sambut kesembuhanmu." Ujar Varo sambil lalu melepas pelukannya.
"Aku kan pulang dari rumah sakit Var. Bukan ulang tahun." Balas Asha dan Varo hanya terkekeh.
"Buat rayain kesembuhanmu gimana kalau nanti kita berdua pulang sekolah jalan-jalan?" ajak Varo.
"Gak boleh Asha nanti pulang sama gue!" sela Aksel.
"Ayolah Sel, sekali ini aja. Lagian nanti gue juga jagain Asha." Pinta Varo memelas. Aksel mendecih sambil membuang pandangannya ke sembarang arah.
"Yaudah terserah lo deh. Tapi jagain Cupu kalau kenapa-napa gue yang disalahin mama."
"Yhoi santai bro gue jagain kok."
"Lo mau pergi berdua sama Asha? Gue gak diajak?" tanya Dira.
__ADS_1
"Yaudah Dir nanti kamu ikut aja, kita pergi bertiga gimana?" ujar Asha. Varo menatap Dira berharap dia peka.
"Bercanda nanti gue mau pergi sama Verrel kok. Jadi lo pergi berdua aja ya." Ujar Dira yang mengerti tatapan Varo dan Asha mengangguk.
Istirahat telah tiba, Asha sedang berjalan menuju perpustakaan untuk mengembalikan buku yang dipinjamnya tempo hari. Saat dijalan ia tak sengaja mendengar percakapan teman-temannya.
"Akhirnya ya Cherry sama gengnya dikeluarkan dari sekolah ini."
"Iya ... Akhirnya Elementary High School jadi tentram damai."
"Maaf tadi aku sempat dengar, katanya Cherry dikelurkan dari sekolah ya?" tanya Asha halus.
"Iya bener,"
"Kalau boleh tahu karena apa?"
"Karena dia sering banget bully anak-anak. Bahkan banyak yang keluar sekolah karena ulahnya."
"Kalau boleh tahu, kalian lihat Cherry gak?"
"Gue tadi sempet lihat dia keluar dari ruang kepala sekolah."
"Maaf om, tante saya mau berbicara dengan Cherry sebentar boleh?" tanya Asha dan diangguki mereka. Asha lalu mengajak Cherry sedikit menjauh.
"Cherry maafin aku, gara-gara aku kamu dikeluarin dari sekolah ya? Aku bisa bilang sama Tante Weida supaya kamu gak dikeluarin." Ujar Asha merasa bersalah.
Cherry menggeleng pelan. "Lo gak salah Sha. Seharusnya disini gue yang minta maaf. Maaf Sha gue dulu selalu nyakitin lo." Ujar Cherry tak terasa air matanya mengalir.
Asha memegang tangan Cherry, "Sebelum kamu minta maaf aku juga udah maafin kamu Cher."
"Gue benci sama diri gue sendiri. Kenapa gue dulu bisa benci sama lo yang tetep baik meskipun udah gue sakitin berkali-kali." Ujar Cherry yang tangisannya semakin pecah. Asha yang tak tega dengan Cherry lalu memeluknya.
"Lo gak usah susah-susah bilang sama Tante Weida Sha. Karena bagaimanapun gue tetap mau pindah sekolah ke Paris." Ujar Cherry lalu Asha melepas pelukannya.
"Kalau memang itu keputusan kamu. Aku cuma mau doain kamu supaya kamu selalu sehat dan bisa mengejar apa yang kamu inginkan."
"Makasih Sha doanya. Gue pamit, dan sekali lagi gue minta maaf."
"Kamu hati-hati disana ya Cher." Ujar Asha dan Cherry tersenyum lalu pergi meninggalkan sekolahnya itu. Asha juga lalu kembali kekelasnya.
*****
__ADS_1
Sesuai perkataan Varo tadi, Varo mengajak Asha untuk ketaman. Sekarang mereka sedang memakan es krim sambil duduk dan menikmati suasana taman.
Varo menatap gemas Asha karena makan es krimnya belepotan. Lalu Varo mengusapnya, membuat detak jantung Asha gak karuan.
"Kamu itu kalau makan es krim kaya anak kecil ya."
"He ... He ... He ... Maaf,"
"Sha kamu masih inget gak gimana kita pertama kali ketemu? Lucu yah dimulai gara-gara aku nabrak kamu terus nganter kamu keruang kepala sekolah dan ternyata kamu satu kelas sama aku."
"Iya ya Var, dan sampai sekarang kita masih bisa dekat dan berteman."
"Iya terkadang takdir itu lucu ya?"
"Iya Var, memang rencana Tuhan itu sangat indah."
Varo tersenyum menatap Asha yang masih setia memakan es crimnya. 'Mungkin ini saatnya buat gue nembak Asha. Kalau gak sekarang kapan lagi? Gue akan menghargai apapun keputusan Asha, meskipun dia nolak gue. Senggaknya gue udah mengutarakan isi hati gue sebelum gue pergi.'
"Sha kamu mau tanya sesuatu sama kamu boleh?"
"Boleh Var tanya aja."
"Kamu sayang gak sama aku?"
Deeegg!!!
Hati Asha tak karuan. Sayang yang dimaksud Varo ini sayang sebagai teman atau selebihnya. Asha tak mau menyimpulkan terlebih dahulu sehingga ia memilih untuk menyimak perkataan Varo sampai selesai.
"Aku suka sama kamu semenjak pertama ketemu sama kamu Sha. Aku tambah seneng saat tahu ternyata kamu satu kelas sama aku. Dan entah kenapa aku sakit saat aku tahu ternyata kamu satu rumah dengan Aksel. Aku juga ikut sakit saat kamu selalu dilukai sama Aksel. Ditambah tahu ternyata orang tua kamu udah meninggal, kamu terlalu kuat Sha menghadapi semua ini. Dan entah sejak kapan rasa ingin selalu melindungi kamu itu datang dengan sendirinya."
Varo menjeda sejenak ucapannya dan Asha ia masih setia mendengarkan perkataan Varo.
"Aku sayang kamu Sha, sayang yang lebih dari teman. Aku cinta sama kamu. Kamu mau jadi pacarku? Kalau perasaanmu untukku berbeda kamu boleh tolak aku Sha. Aku menghargai keputusanmu."
Entah kenapa tiba-tiba air mata Asha jatuh dengan sendirinya. Ternyata bukan hanya dia yang mempunyai rasa itu ternyata Varo juga sama.
"Aku juga sayang sama kamu Var. Aku juga cinta sama kamu."
Tanpa aba-aba Varo langsung menarik tubuh Asha kedalam pelukannya dan dibalas oleh Asha.
'Gue seneng Sha perasaan kita sama. Terima kasih Tuhan telah memberikanku kebahagiaan. Meskipun aku tahu kebahagiaan ini mungkin tak akan berlangsung lama.' Ucap Varo dalam hatinya.
__ADS_1