
Asha sudah dibawa kerumah sakit dan sekarang sedang diperiksa. Semua orang menunggu diluar dengan wajah khawatir. Terutama Aksel, ia dari tadi mondar-mandir udah kaya setrikaan.
"Seharusnya gue gak ninggalin lo sendiri tadi Sha." Ujar Aksel sambil mengacak rambutnya sembarangan.
"Heh ... Udah kejadian baru lo nyesel ninggalin Asha." Balas Varo remeh dan Aksel hanya diam karena is sadar ia salah.
"Udah ... Udah ... Jangan berantem, ingat kita sedang di rumah sakit. Jangan sampai kita semua diusir gara-gara lo berdua." Ujar Dira menengahi dengan sedikit emosi.
Dreetttt ... Drreetttt ... Drettt
Ponsel Aksel berbunyi yang ternyata telfon dari mamanya, ia pun langsung mengangkatnya.
"Halo ma?"
"Kamu sekarang dimana? Asha sudah ketemu belum?"
"Ma Aksel sedang dirumah sakit,"
"Dirumah sakit maksud kamu apa? Kamu sama Asha gak kenapa-napa kan?"
"Udah mama kesini aja dulu. Nanti Aksel jelasin!"
"I-iya ... Iya ... Kamu dirumah sakit mana?"
"Rumah Sakit Mawar,"
"Tungguin mama bentar lagi mama kesana."
Aksel menutup telfon lalu menyimpan pensel kekantongnya.
15 menit hanya keheningan yang menggambarkan suasana disana. Beberapa saat kemudian akhirnya dokter keluar dari ruangan Asha dan yang lainnya langsung berdiri.
"Gimana dok keadaan Asha?" tanya Aksel cepat dan tak lupa wajah khawatir yang terukir diwajahnya.
"Dia mendapat benturan yang lumayan keras dibagian punggung. Tapi untunglah tidak apa-apa. Untuk beberapa hari kedepan sebaiknya ia dirawat inap disini." Ujar dokter menjelaskan.
"Kalau begitu apakah kami boleh menjenguknya?" tanya Dira.
"Boleh, tapi jangan terlalu berisik supaya dia juga bisa beristirahat."
"Baik, terima kasih dok." Balas Varo.
"Kalau begitu saya permisi dulu." Ujar dokter tersebut lalu pergi meninggalkan mereka.
__ADS_1
Aksel, Varo, Dira, Verrel dan Gavin langsung masuk keruangan Asha. Asha mengerjap-ngerjap matanya lalu memijit kepalanya tepatnya dibagian pelipis.
"Asha kamu udah bangun?"
"Lo gak apa-apa kan?"
"Sha lo buat khawatir gue tau nggak!"
"Asha yang cantiknya kaya Cinderella siapa yang buat kamoeh sampai kaya gini? Biar babang Gavin habisin sampai ketulang-tulangnya." Ujar Gavin alay.
Asha tersenyum tipis mendengar tuturan kata teman-temannya. "Maaf ya udah buat kalian khawatir."
"Kok lo bisa kaya gini sih?" Aksel membuka suara.
Asha memejamkan matanya sambil menghembus nafas panjang. "Aku juga gak tahu. Tiba-tiba ada yang memukul punggung ku terus aku pingsan."
"Ceritain kronologinya dari awal CUPU!" Ujar Aksel gemas karena Asha menceritakannya tidak lengkap.
"Jadi .... " Ucapan Asha terputus karena tiba-tiba Weida datang dengan Mbok Ijah.
"Asha kamu gak apa-apa kan?"
"Aksel jelaskan sama mama apa yang terjadi!"
"Kamu tuh ya!" Ujar Weida sambil menjewer telinga Aksel.
"Aduh sakit ma!" Pekik Aksel kesakitan.
"Iya tante ... Jewer terus tante ... Jewer terus ... Kalau perlu gak usak dikasih uang saku 1 bulan." Kompor Gavin.
"Diem lo, gak gue traktir baru tau rasa." Ancam Aksel.
"Yaelah baperan amat dah lu Seh. Bercanda ae bencanda." Balas Gavin sedangkan yang lainnya terkekeh melihat perdebatan mereka.
"Jadi gimana ceritanya kamu bisa kaya gini nak?" tanya Weida lembut.
"Asha kan tadi keluar kelas. Terus tiba-tiba ada anak yang nyamperin Asha, katanya Asha ditunggu Aksel digudang. Asha sempet mikir soalnya tadi Aksel sudah bilang kalau mau pergi dulu. Tapi karena Asha takut kalau Aksel marah, Asha langsung aja ke gudang. Terus tiba-tiba ada yang memukul punggung Asha sampai pingsan. Dan Asha bangun-bangun udah ada disini." Ujar Asha panjang lebar dan yang lainnya menyimak.
"Berani-beraninya pakai nama gue buat kejahatan." Ujar Aksel sebal.
"Kamu tau Sha siapa yang mukul kamu?" tanya Varo.
"Gak tau, soalnya aku langsung pingsan."
__ADS_1
"Kok gue curiga ya sama Cherry,"
"Jangan gitu dulu beb. Kita belum punya bukti, kalau kamu gitu jatuhnya kamu fitnah Cherry."
"Tapi sumpah beb. Gue berani jamin kalau dia yang ngelakuin ini." Ujar Dira yakin.
"Bisa jadi, soalnya tadi dia tertawa-tertawa gitu sama geng nya." Ujar Aksel.
"Udah-udah pokoknya sekarang kita fokus dulu sama kesehatan Asha. Baru besok kita bahas ini." Weida menjeda ucapannya sejenak. "Sebaiknya kalian pulang dulu ya supaya Asha bisa istirahat. Besok kalian bisa kesini lagi kok."
"Good ide tante," ujar Gavin. "My princes, pangeran handsome mau go to home dulu ya. My honey tidur dulu oke. Besok bebeb Gavin kesini lagi kok." Ujar Gavin dimanis-manisin padahal emang manis, dan Asha membalas dengan tersenyum tipis.
"Gue jijik banget ****,"
"Sama,"
"Yaudah tante, nek kita semua pamit pulang dulu ya?" Ujar Varo pamitan.
"Iya kalian hati-hati ya pulangnya. Makasih udah bantuin cari Asha." Ujar Mbok Ijah dan semuanya mengangguk.
Varo mendekati Asha lalu mengusap rambutnya. "Aku pulang dulu ya Sha. Besok aku kesini lagi."
"Iya Var, kamu hati-hati pulangnya." Jawab Asha yang membuat semuanya berdeham. Sedangkan Aksel terlihat rahangnya yang mengeras.
"Oh iya Sha ... Masalah ini lo tenang saja. Serahin tugas ini kepada detektif upi .... " Ujar Gavin yang belum selesai namun langsung dipotong Dira.
"Ehh ... Si kaleng krupuk masih nonton film kartun ternyata." Putus Dira.
"Ya seterah gue dong nyet!"
"Iya Sha lo tenang aja. Lo fokus sama kesehatan lo aja, masalah ini biar kita yang cari tau."
"Gak usah Var. Lagian aku udah maafin mereka kok."
"Segampang itu lo maafin orang Sha? Gue salut sama lo. Sini peluk dulu sebelum pulang." Ujar Dira lalu memeluk Asha.
"Gue ikutan peluk dong," ujar Gavin namun langsung ditepis tangannya sama Varo.
"Lah si kaleng krupuk ikut-ikut aja. Gak boleh!" tegas Varo.
"Sewot bet lo dah Var! Udahlah ayo pulang kasihan pacar aghu gak bisa istirahat."
"Iya udah pulang. Pulang dulu ya semua." Ujar Varo dan yang lainnya langsung keluar mengikuti dibelakangnya.
__ADS_1