MY SWEET NERD

MY SWEET NERD
Kenyataan Pahit


__ADS_3

Asha menatap bingung percakapan orang tua Varo. Tak hanya Asha, tetapi semuanya. Asha lalu memberanikan diri untuk bertanya kepada bunda Varo.


"Tante maaf sebelumnya. Tapi sebenarnya apa yang sedang terjadi pada Varo?" tanya Asha ragu-ragu.


Bunda Varo mengusap air matanya. "Apa Varo belum menceritakannya pada kalian?" tanya Bunda Varo. Semuanya menggeleng karena faktanya Varo memang tak pernah bercerita apa-apa tentang dirinya.


"Varo mengalami Leukimia stadium akhir." Bunda Varo menjeda ucapannya sejenak.


Semuanya terkejut, Asha membungkap mulutnya menggunakan tangannya dan tak terasa air matanya mengalir. Dira yang berada disampingnya lalu memeluknya. Mereka tetap menyimak perkataan Bunda Varo.


"Ada cara penyembuhannya yaitu transplantasi sumsum tulang tapi Varo tidak mau. Karena itu tidak menjamin kesembuhannya. Bahkan jika itu gagal, maka dapat dipastikan jika Varo tak akan lama hidup didunia ini." Ujar Bunda Varo sambil tetap menangis terisak.


Sekarang tak hanya Bunda Varo yang menangis. Setelah mendengar perkataan Bunda Varo semuanya tak bisa menahan air mata mereka.


"Apakah tidak ada cara lain?" tanya Aksel.


"Mungkin .... " Ucapan Ayah Varo terputus karena dokter yang memeriksa Varo keluar. Semuanya langsung ikut berdiri.


"Gimana keadaan anak saya dok?" tanya Ayah Varo.


Dokter menghela nafas panjang. "Bisa ikut keruang saya sebentar?"


Ayah dan Bunda Varo mengikuti Dokter keruangannya. Sedangkan Aksel, Gavin, Dira, Asha, dan Verrel mereka diijinkan masuk ke ruangan Aksel.


"Gimana dok keadaan anak saya?"


"Maaf pak, tetapi keadaan anak bapak semakin memburuk. Penyakitnya semakin menyebar keseluruh tubuh."


"Apakah ada cara menyembuhkannya dok? Apapun akan kami lakukan! Berapapun akan kami bayar dok! Asalkan anak kami bisa sembuh."


"Untuk saat ini sebaiknya anda berdoa kepada Tuhan untuk kesembuhan anak bapak dan ibu."


Bunda Varo semakin terisak dengan tangisannya. Apa maksud dokter? Apakah itu tandanya hidup Varo tidak lama lagi? Entahlah tetapi mungkin memang itulah kenyataannya. Merek berharap ada keajaiban yang dikirim oleh Tuhan untuk anak mereka.

__ADS_1


Sementara itu


Asha dkk mengelilingi tempat tidur Varo yang sedang tertidur lemas. Mereka tak bisa menahan air mata mereka. Bahkan Aksel, Gavin, Verrel pun juga sesekali meneteskan air matanya. Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana seorang Varo yang selalu tersenyum dan ceria ternyata sedang melawan penyakit yang bisa dibilang ganas.


Varo yang mendengar suara tangisan membuka matanya.


"Ngapain lo semua nangis monyet!" ucapnya mencoba menghibur teman-temannya supaya baik-baik saja. Padahal dirinya sendiri sedang tidak baik-baik saja.


"Lo jahat Var! Lo anggep kita itu apa? Musuh?" ujar Gavin.


"Lo itu teman kita Var! Kenapa lo umpetin penyakit lo ini? Hah?" tukas Dira.


"Ehh ... Ehh ... Gue gak cerita sama kalian itu karena gue gak mau kalian sedih." Ujar Varo lemas.


"Emang lo diem-diem gak juga gak buat kita sedih?" ucap Verrel.


"Aku sedih Var! Aku merasa gagal jadi pacar buat kamu. Bahkan kamu punya penyakit gini aku tidak tahu." Ucap Asha dan tangisannya semakin pecah.


Varo mengangkat tangannya dan mengusap air mata Asha. "Kamu jangan sedih Sha. Asal kamu tahu kamu adalah alasan aku supaya tetap bertahan. Aku nggak tahu kalau nggak ada kamu mungkin sekarang aku sudah nggak ada disini. Kamu jangan nangis lagi ya? Nanti aku jadi tambah sedih!" Kata Varo, tak kuat menahan air matanya Varo juga ikut menangis.


"Pertemanan kita lucu yah. Yang dulunya gue benci banget sama 3F, yang sempet berantem sama Lo Sel terutama karena sering nyakitin Asha. Tapi gue yakin lo sekarang gak Akan nyakitin Asha lagi kan?" imbuh Varo.


"Gue gak akan nyakitin Asha lagi Var." Jawab Aksel.


"Gue pegang janji lo, Sel. Kalau gue besok udah pergi gue titip Asha buat lo ya. Jagain dia! Jangan sakitin pokoknya!" pesan Varo kepada Aksel.


"Lo ngomong apa sih Var! Lo gak bakal pergi! Lo itu kuat! Lo harus berjuang melawan penyakit lo, habis itu lo berjuang sama Asha buat melawan gue." Ujar Aksel menguatkan Varo


"Varo kamu jangan begitu. Kamu itu kuat! Kamu pasti bisa sembuh!" ucap Asha. Varo membalas Asha dan Aksel dengan tersenyum lebar.


"Dir! Lo gue doain lo langgeng sama Verrel ya! Jangan galak-galak kalau sama dia! Dia itu beda sama gue, kalau gue kan kalau lo marahin gue selalu sabar." Kata Varo kepada Dira.


"Kalau lo sembuh! Gue janji gua gak bakal galak-galak lagi Var!" jawab Dira dan Varo hanya membalas mengangguk lemas.

__ADS_1


"Verrel gue titip nona muda ke lo ya!" ujar Varo pada Verrel.


"Pasti gue jagain Var." Jawab Verrel.


"Dan lo Vin! Tobat playboynya cewe itu cukup satu aja gak usah lima!" gurau Varo. Padahal sebenarnya ia sudah tidak tahan dengan apa yang dialaminya sekarang.


"Gue sekarang gak butuh cewe Var. Gue cuma berharap supaya lo bisa sembuh! Kalau lo bisa sembuh nanti gue pacarin cewe 15 sekaligus." Jawab Gavin, Varo tertawa kecut karena tubuhnya yang semakin melemah.


Tiba-tiba Bunda dan Ayah Varo masuk dan langsung memeluk Varo.


"Varo kamu harus kuat sayang! Bunda sama Ayah akan melakukan apapun untuk kamu!"


"Benar kata Bunda Varo. Ayah akan bayar berapapun buat pengobatan Varo."


"Makasih Ayah, Bunda kalian sudah merawat Varo sampai saat ini. Maaf! Varo belum bisa membahagiakan kalian." Ujar Varo yang dan nafasnya semakin berat.


"Varo sudah sering sekali membahagiakan kami sayang!"


"Kalau Varo ingin buat Ayah dan Bunda bahagia. Varo harus sembuh!"


Semua yang ada diruangan itu menangis semua. Mereka tak membayangkan bagaimana Varo menghadapi penyakitnya.


"Kalian semua harus janji. Kalau kalian harus bahagia. Kalian jangan nangis lagi ya! Pokoknya kalau aku udah gak ada disini kalian harus tetap bahagia!" Ujar Varo dan ia sudah merasakan kepalanya yang semakin pusing.


"Kamu ngomong apa Varo! Kamu pasti kuat!"


"Varo lo ngomong apa sih!"


"Varo lo harus sembuh. Kita nanti bisa makan gratis di kantin. Lo lupa kelas kita menang jadi kita sepuasnya makan gratis."


"Varo kamu harus sembuh sayang."


Varo memejamkan matanya sejenak untuk mengumpulkan energi. "Va-Varo pa-pa pamit, Va-ro ti-ti-tidur dulu y-ya." Ujar Varo dan ia lalu menghembuskan nafas untuk terkahir kalinya.

__ADS_1


"VAROOO!!!" Teriak semuanya dan seisi ruangan nangis sejadi-jadinya. Mereka berharap ini hanyalah mimpi buruk lalu bisa hilang ketika bangun. Namun kenyataannya ini bukanlah mimpi. Varo memang sudah pergi meninggalkan mereka semua. Mungkin Varo sudah lelah terus-terusan menampilkan senyum palsunya. Dan sekarang adalah saat ia melepas semua sakit yang ia alami.


__ADS_2