
Flashback on
"Tu anak kenapa rel?" tanya Gavin bisik-bisik.
"Kesambet kali vin, liat deh mukanya ngeri bet."
"Iya yak lebih ngeri dari setan salak coy."
"Valak go**ok!" Jawab Verrel, lalu mereka tertawa cekikikan.
"BERISIK LO BERDUA, BISA DIEM GAK!" Bentak Aksel kepada Gavin dan Verrel.
Melihat temannya bersikap aneh lalu Gavin dan Verrel mendekati Aksel.
"Lo kenapa sih Sel? daritadi tu muka ditekuk mulu," tanya Verrel.
"Lo tau gak cewek cupu yang kemarin di kantin?"
"Yang kemarin sama Varo bukan? Yang lo dorong sampai jatuh?"
"hmmm," deham Aksel.
"Emang kenapa itu Sel?" tanya Gavin.
"Jadi dia itu sebenarnya tinggal dirumah gue, dia cucu dari Mbok Ijah pembantu dirumah gue." Jawab Aksel.
Gavin memutar bola matanya. "Lo kesel cuma gara-gara dia tinggal dirumah lo doang, dan lo sampe marah-marah sama kita? Gak mutu tau gak!"
"Ck, lo dengerin gue dulu jadi gini .... " Lalu Aksel menceritakan kejadian yang dialaminya mulai dari ia menurunkan Asha ditengah jalan sampai ia disenggol Varo tadi dikoridor.
"Ohh gitu ya Sel, kayaknya Varo suka sama cewek cupu itu deh!" Pendapat Gavin.
"Bener tuh makanya Varo bersikap gitu sama lo. Tapi lo juga salah sih, masa nurunin cewek ditengah jalan yang jelas-jelas masih baru tinggal disini dan gak tau jalan." Tambah Verrel.
"JADI LO NYALAHIN GUE?" jawab Aksel dengan nada tinggi. Orang seperti Aksel emang ego nya tinggi dan gak mau disalahin.
"Serah lo deh Sel!" jawab Verrel mengalah Karena ia tahu percuma debat dengan Aksel jika akhirnya Aksel lah yang selalu menang.
__ADS_1
"Tapi bener juga tuh kaya Verrel, dan lo kayaknya harus minta maaf deh Sel."
"Gue minta maaf sama cupu? GAK MUNGKIN!" kata Aksel sambil menekankan dua kata terakhir.
Mendengar jawaban Aksel, Gavin dan Verrel memilih diam karena percuma saja mereka memberi saran jika Aksel selalu menolak. Mereka melanjutkan lagi mengobrolnya dan membiarkan Aksel menyendiri.
'Apa gue dengerin mereka ya, tapi masa seorang Aksel Putra Adelard minta maaf kan gengsi. Tapi gimana gue kalo gak minta maaf gue dikerubungi rasa bersalah terus. Bodolah daripada gue merasa bersalah terus sama cupu." Batin Aksel.
"Ehhh lo berdua!" panggil Aksel ketus.
Gavin dan Verrel yang awalnya sedang mengobrol langsung merespon Aksel malas.
"Apa lagi?" jawab mereka bersamaan.
"Gimana caranya gue minta maaf sama cupu?" ujar Aksel pelan namun tetap dlterdengar oleh Gavin dan Verrel.
"Jadi lo mutusin mau minta maaf Sel?" tanya Verrel girang.
"Hmm," dehaman Aksel.
"Gini aja nanti pulang sekolah lo beliin bubur deh soalnya kalau orang sakit kan mood makan nya turun, nanti gue sama Gavin temenin deh." Ujar Verrel memberi saran dan Aksel mengangguk sambil mendengus.
Sesampai dirumah Aksel, ia dibingungkan adanya mobil yang menurutnya tak asing, tak lain itu adalah mobil Varo.
'Itu mobil siapa ya kok kayak pernah liat, tapi dimana ya, ahhh paling punya temen mamah' batin Aksel sambil tetap memarkirkan mobilnya.
Setelah memarkirkan mobilnya Aksel beserta Gavin dan Verrel langsung memasuki rumah tersebut. Gavin dan Verrel menuju ruang keluarga dan memainkan playstation milik Aksel sedangkan Aksel langsung menuju ke kamar Asha untuk memberikan bubur dan makanan yang sudah dia beli tadi.
Sesampai di kamar Asha yang Aksel dapatkan adalah pemandangan Varo menyuapi Asha. Entah kenapa itu membuat Aksel tidak suka.
'Kok gue nggak suka ya liat Varo sama cupu mesra-mesraan, itss apaan sih gue ngapain juga gue nggak suka' Kesal Aksel dalam hati.
Flashback off
Melihat kejadian itu Aksel langsung mengurungkan niatnya untuk menemui Asha. Dan memilih untuk menghampiri sahabat-sahabat nya di ruang keluarga dengan perasaan marah sekaligus kesal.
Gavin dan Verrel yang awalnya asik memainkan PS langsung menghentikannya, karena tersadar kedatangan Aksel dengan wajah ditekuk lagi.
__ADS_1
Mereka saling mengode lewat matanya.
"Lo kenapa lagi Sel kok wajahnya kek gitu lagi? Dan itu ngapain dibawa lagi?" tanya Verrel sambil menunjuk kantong plastik yang berisi makanan dan buah-buahan yang mereka beli tadi.
"Nih buat kalian aja," ucap Aksel kesal sambil melempar kantong plastik tersebut.
"Beneran Sel, tau aja lo kalo kita lapar." Ceplos Gavin dan mendapat plototan dari Verrel.
Aksel mengusap wajahnya kasar. "Akhggggg ... Lo tau gak masa .... " Ucapan Aksel terhenti karena melihat Varo dan Dira keluar dari kamar Asha.
"Loh kok lo berdua bisa disini?" tanya Gavin bingung.
"Udah puas nyuapin Ashanya?" sindir Aksel.
"Siapa yang disuapi? Siapa yang nyuapi? Ck, maksudnya apasih bingung beut gue!" ujar Varrel bingung.
"Noh pangerannya Asha," jawab Aksel sambil menunjuk Varo dengan matanya. Gavin dan Verrel hanya menatap mereka bingung.
"Tante Weida mana? Gue mau pamit pulang." Tanya Varo mengalihkan pembicaraan karena sekarang dia sedang malas berdebat.
"Mama pergi," jawab Aksel singkat.
"Kita mau pamit pulang dulu, dan lo Sel jangan sesekali lo sakitin Asha lagi!" ujar Varo memeringati.
"Terserah gue lah, mau gue bikin Asha nangis, Asha seneng, atau gue pacarin ya terserah gue lah." Jawab Aksel asal.
Varo yang mendengar jawaban Aksel langsung panas dan mencengkeram kerah baju Aksel. "Apa lo bilang? Gue gak akan ngebiarin itu terjadi." Ujar Varo yang sudah tersulut emosinya.
Sedangkan Verrel, Gavin, dan Dira mencoba melerai pertengkaran mereka.
"Udah-udah, Var kita pulang aja ya? Kasihan Asha kalau dia denger jadi gak bisa istirahat." Kata Dira dan Varo mengangguk mengiyakan. Mereka lalu meninggalkan rumah Keluarga Digdaya tersebut.
Sedangkan Aksel, ia masih tenggelam dalam emosinya. Entah kenapa perkataan Varo barusan membuatnya semakin marah. Verrel dan Gavin juga masih setia mencoba meredakan emosi Aksel, karena mereka tahu jika tidak segera diredakan merekalah yang akan menjadi pelampiasannya.
"Sel, Main PS aja yok!" ajak Verrel.
"Lo berdua aja deh, lagi males gue." Jawab Aksel dan ia memilih untuk memainkan ponsel nya.
__ADS_1
Verrel mengangguk mengerti lalu ia melanjutkan permainannya melawan Gavin.
'Jadi karena lo liat Varo suapin cewek cupu itu lo jadi kesel Sel? Itu artinya lo cemburu Sel, tapi lo nya aja yang belum sadar. Semoga lo cepet sadar Sel, sebelum semuanya terlambat.' Ucap Verrel bermonolog dalam hatinya.