
Disini mereka semua berdiri. Dengan pakaian serba hitam dan isakan suara tangisan yang setia menemani. Aksel, Asha, Gavin, Verrel, Dira dan teman satu kelas 11 IPA-2 semua datang, bahkan semua gurupun datang. Bunda dan Ayah Varo begitu terpukul atas meninggal anak semata wayangnya. Adelard yang ternyata adalah teman bisnis Ayah Varo mencoba menenangkan bersama istrinya.
Asha kini menangis sejadi-jadinya. Dia Varo, kekasihnya sebelum ia memutuskan untuk pergi dan tak akan kembali. Asha tak pernah membayangkan nasib ini akan datang kepadanya begitu cepat. Teman-temannya yang melihat Asha begitu merasa tak tega.
Pemakaman telah selesai, semua pelayat telah pergi satu per satu. Kini hanya tinggal Asha, Aksel, Dira, Gavin, Verrel, Orang Tua Aksel, dan tentunya juga Orang Tua Varo.
Bunda Varo menatap sayu makan anaknya yang masih basah sambil mengusap nisannya.
"Varo sayang, kamu pasti sudah capek ya selalu tertawa palsu. Sekarang bunda yakin kamu pasti bahagiakan disana? Soalnya banyak orang yang sayang kamu. Bunda sama Ayah gak mau sedih terus, soalnya nanti kamu pasti juga ikut sedih. Kamu tenang ya disana! Bunda sama Ayah pulang dulu. Kita sayang kamu sampai kapanpun nak!" ujar Bunda Varo. Ayah Varo membantu istrinya bangkit dan membawanya pulang kerumah untuk menangkan diri.
Sebelum pergi Bunda Varo berpesan supaya kerumah mereka sebentar. Karena ada hal yang ingin ia sampaikan kepada Asha dan kawan-kawan.
Asha masih menangis sambil mengusap-ngusap nisan bertuliskan Alvaro Argi Naruna itu.
"Sha kita pulang ya. Kalau kamu sedih terus nanti pasti Varo juga ikut sedih." Ujar Aksel, Asha hanya menggeleng pelan.
"Sha, kita tahu kok kamu pasti sedih ditinggal Varo. Kita juga sedih Sha. Tapi kita gak mau tersulut dalam kesedihan terus. Kita harus ikhlas Sha. Ini sudah takdir, kita nggak bisa merubah semuanya." Ucap Dira sambil membantu Asha berdiri.
Mereka semua meninggalkan tempat Varo beristirahat dengan tenang sekarang. Sesuai perkataan Bunda Varo mereka ke rumah untuk membicarakan sesuatu.
Sesampainya disana mereka langsung duduk di ruang tamu sambil menunggu Bunda Varo menemuinya. Tak berselang lama Bunda dan Ayah Varo datang dengan secarik surat ditangannya.
__ADS_1
"Ini tante temukan dikamar Varo. Mungkin kalian bisa membacanya." Kata Bunda Varo sambil menyerahkan surat itu kepada Asha. Asha langsung membukanya dan yang lain juga ikut membacanya.
Selamat pagi, siang, sore, malam sodara-sodara sehati seiman, pejuang lulus dengan nilai memuaskan, dan pemburu makan gratisan.
Gue nulisnya komplit kan, soalnya gue gak tahu kalian menemukan surat ini kapan dan jam berapa. Yang pastinya gue yakin lo semua nemuinnya mungkin waktu gue udah pergi. Ehh ... Tadi gue nulisnya pejuang lulus ya, tapi kayanya gue gak sampai lulus udah pergi duluan deh. Tapi gapapa, gue doain supaya lo semua lulus dengan nilai yang bagus semua gitu.
Baru beberapa kalimat mereka membaca surat Varo. Tangisan mereka pecah lagi. Lalu mereka melanjutkan membaca kalimat berikutnya.
Woy jangan pada nangis kenapa sih! Ini bukan drama, jadi gak usah pada nangis lah ya! Pada lebay banget sih! Gue aja yang sakit gak nangis. Oke ... Gue bohong, gue nangis. Gue nangis saat nulis surat ini. Karena apa? kalau boleh jujur gue belum rela kehilangan lo semua. Gue soalnya belum jadi nikah sama Asha. Gue belum liat Verrel dan Dira putus ... Yaelah bercanda doang! Maksudnya gue belum bisa liat kalian sukses. Belum ngetawain Aksel karena gue berhasil dapatin hati Asha, dan juga gue belum tahu waktu Gavin patah hati.
Okee ... Gue capek nulisnya, langsung aja ya. Gue mau ngomong serius sama lo ber-lima. Ehh ... Bukan ngomong deng, tapi nyuratin. Untuk Bunda sama Ayah ada disurat sebelah kan? Jadi ini khusus untuk mereka berlima ya! Ini suratnya 5 in 1 ya, males buat satu-satu ngabisin kertas.
Yang pertama buat Asha pacar aku. Karena kamu sudah mendapatkan surat ini. Maka sekarang kita dinyatakan putus. Kamu harus cari pengganti aku ya Sha! Kamu gak boleh sedih terus! Kamu harus jadi Asha yang selalu tertawa dan bahagia, bahkan disaat kamu dikerjain oleh Aksel terus. Kamu itu bagaikan bulan, yang selalu menemaniku dalam kegelapan. Maaf ya Sha ... Aku gak pandai gombal, ini aja aku nyari di google he ... he ... he ... Pokoknya kamu adalah yang terbaik! Kamu gak boleh sedih. Masih banyak orang yang sayang sama kamu. Nggak cuma aku aja kok. Aku beri tahu sama kamu ya Sha. Ada seseorang yang suka sama kamu, dan orang itu dekat banget sama kamu. Aku gak mau beri tahu, tapi aku yakin kamu pasti tahu apa yang aku maksud.
Teruntuk Dira: Nyet!!! Lo jangan galak-galak sama pacar lo! Diputusin mam*us lo. Gue nitip kelas 11 IPA-2 sama lo ya! Gue serahin tahta gue buat lo. Sampain juga salam gue buat mereka semua. Dan bilangin mereka gue minta maaf kalau gue punya salah sama mereka.
Verrel. Gue titip nyonya besar sama lo ya! Dia itu cerewet tapi perhatian gitu. Pokoknya lo berdua harus akur terus. Jangan sering marahan! Perjuangin sampai ke pelaminan ya!
Terakhir untuk Gavin si playboy kelas kakap. Ehh ... Bukan sekarang mah jadi Gavin si jomblo yang tersakiti. Lo jangan punya pacar banyak-banyak ya Vin! Satu aja udah cukup kok. Kaya gue dong, satu tapi sampai akhir gue menutup mata. Dan asal lo tahu Vin. Gue yang mutusin dia loh. Gimana keren kan gue?! Gue mutusinnya baru saja loh. Mungkin sekarang orangnya masih baca pesan ini.
Akhirnya setelah tangan gue sampai kram karena nulis kata-kata sebanyak ini, akhirnya kelar juga ya!!! Pesan gue pokoknya lo semua harus akur terus. Jangan sampai ada yang marahan. Dan satu lagi, kalau lo udah sukses dan udah punya keluarga jangan lupain gue ya! Besok harus wajib kenalin sama gue! Janji pokoknya! Tuh kan udah janji, harus ditepatin loh ya!!!
__ADS_1
Dah lah ... Gue capek banget sumpah nulisnya, sekarang gue mau tidur. Besok mau tanding basket soalnya. Iya ... Gue nulisnya malam sebelum gue tanding basket.
Terakhir deh janji!!! Lo semua jangan nangis lagi. Jangan pada sedih lagi. Gue sayang sama lo semua gaes. Gue pamit ya!!!
SEE YOU GAES!!!
Begitulah isi surat dari Varo. Mereka semua tak tahan menahan air matanya. Mereka semua saling merangkul dan menangis dengan sudut bibir yang tersenyum. Mereka mengingat pesan terakhir dari Varo supaya jangan bersedih.
"Terima kasih, karena telah membuat cerita bersamaku. Terima kasih, karena telah menjadi pelangiku. Yang mewarnai hidupku meskipun hanya sesaat. Terima kasih, karena telah menjadi bintangku. Yang menyinariku dalam kegelapan malam. Aku mencintai seseorang yang pernah singgah dihatiku ... Sampai kapanpun itu." -- Ashalina Chantika.
"Maaf karena dulu pernah membencimu! Maaf karena pernah mengibarkan bendera perang kepadamu. Sekarang tibalah saatku untuk menebus kesalahanku. Yaitu menjaga orang yang kau cintai." -- Aksel Putra Adelard.
"Aku akan selalu mengingat amanatmu. Dan aku juga janji, akan menjalankan perintahmu." -- Nadira Saira.
"Aku tak akan melepaskan dia untuk siapapun itu. Tenang disana brow! Kita semua akan selalu mengingatmu!" - Verrel Kurniawan.
"Aku janji akan selalu mengingat pesan kamu. Tunggu sampai aku bawa pendamping hidup. Dan aku akan ngenalin orangnya sama kamu Var! Aku janji itu!!!" -- Gavin Ferand
Hola gaes🙋
Tetep stay di cerita ini dulu ya!!!
__ADS_1
Karena ceritanya masih BELUM TAMAT. Masih ada beberapa part lagi. Terima kasih yang masih setia baca ceritanya sampai sini💓